Mohon tunggu...
Rokhman
Rokhman Mohon Tunggu... Guru - Menulis, menulis, dan menulis

Guru SD di Negeri Atas Awan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kisah Sepeda Motor Pak Guru dan Beasiswa

25 November 2020   20:22 Diperbarui: 25 November 2020   20:30 300
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
tangkapan layar dari situs jual beli (tribunjualbeli.com)

Di hari guru ini saya ingin bercerita tentang sosok guru waktu sekolah di SD. Pak Mardi atau nama lengkapnya Sumardi merupakan salah satu guru yang mengajar saya waktu di SD tahun 80-an. Pak Mardi guru yang sederhana. Penampilannya khas guru desa, tidak pernah neka-neka.

Pak Mardi juga sosok pekerja keras. Di samping sebagai guru, Pak Mardi juga bertani sebagai pekerjaan sambilan. Bukan rahasia umum, kehidupan guru pada waktu itu masih jauh dari kata sejahtera. Jangankan berpikir membeli barang mewah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sangat sulit. Tak sedikit guru yang terlilit utang bahkan ada pula yang terjerumus rentenir.

Maka, guru yang mempunyai sepeda motor waktu itu masih terbilang jumlahnya. Sebagian besar guru mengajar ke sekolah naik sepeda onthel atau jalan kaki. Hanya Pak Mardi satu-satunya guru di sekolah saya yang naik sepeda motor ketika mengajar.

Saya masih ingat betul bagaimana anak-anak menyambut kedatangan guru di sekolah waktu itu. Untuk menyambut guru yang naik sepeda onthel, begitu ada guru masuk gerbang sekolah anak-anak berlarian untuk berebut menuntun sepedanya. Ada pula anak yang membawakan tasnya.

Tetapi hal itu tidak berlaku untuk Pak Mardi yang naik sepeda motor. Anak-anak berlarian mengejar Pak Mardi bukan untuk menuntun sepeda motor tetapi untuk mencium bau asap knalpot. Aroma bensin dari asal knalpot waktu itu masih menjadi sesuatu yang menarik bagi anak-anak desa seperti saya.

Antarkan Lomba

Pengalaman yang tak terlupakan ketika saya mewakili lomba ke tingkat kabupaten. Pada waktu itu saya berhasil menjadi juara Lomba Siswa Teladan tingkat Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Karena jarak sekolah ke kota kabupaten lumayan jauh saya diantar dengan sepeda motor oleh Pak Mardi. Inilah pengalaman saya untuk pertama kalinya dibonceng sepeda motor.

Lomba berlangsung selama dua hari. Selama dua hari itu saya diboncengkan Pak Mardi ke kota. Meskipun pada lomba tersebut belum berhasil menjadi juara tetapi banyak pengalaman yang saya dapatkan. Antara lain bisa berkenalan dengan teman-teman peserta dari seluruh kecamatan se-Kabupaten Kebumen.

Di samping itu, dari lomba ini nama saya diusulkan mendapatkan beasiswa prestasi. Pada waktu itu untuk mendapatkan beasiswa tidak semudah sekarang. Hanya siswa yang berprestasi yang bisa diajukan untuk mendapatkan beasiswa. Beruntung saya mendapatkan kesempatan itu.

Namun usulan beasiswa prosesnya memakan waktu cukup lama. Beasiswa yang diusulkan sejak kelas 5 SD ternyata baru keluar ketika saya sudah duduk di SMP kelas 1. Besaran beasiswa yang saya terima cukup lumayan yaitu Rp5.000,00/bulan selama 1 tahun.

Uang sebesar itu sangat membantu biaya sekolah saya. Pada saat itu uang SPP per bulan sebesar Rp2.500,00 sehingga sebagian beasiswa saya gunakan untuk melunasi SPP selama satu tahun. Sisanya saya belikan peralatan sekolah, seperti tas, sepatu, dan buku-buku pelajaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun