Mohon tunggu...
Olivia Gabriela Gultom
Olivia Gabriela Gultom Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Bersekolah di SMA Negeri 1 Padalarang.

A mediocre.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Ibu dan Labu Kukus

30 September 2022   17:22 Diperbarui: 30 September 2022   17:26 711
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Oh, syukurlah. Mbak kira kamu kenapa-napa. Masih bisa lanjut nggak? Kalau nggak kuat, izin pulang duluan aja, Dis."

"Nggak usah, Mbak. Tinggal dikit lagi, kok, ini." Aku tersenyum, mengapresiasi kepeduliannya terhadap kondisiku.

Mbak Nuri mengangguk paham. Aku berada di kursi kerja selama kurang lebih dua jam, dan akhirnya, pekerjaanku hari ini selesai. Aku menarik napas dalam-dalam, siap untuk kembali ke rumah. Setelah berpamitan kepada beberapa rekan lain yang masih berada di kantor, aku pulang dengan mengendarai motor pribadiku.

Selama perjalanan, kepalaku masih terasa pusing karena pekerjaan hari ini yang lumayan banyak, dan juga karena makanan tadi... Ah, kepalaku semakin terasa pusing.

Labu kukus. Salah satu makanan yang kuhindari. Bukan karena rasanya, bukan. Itu semua karena satu kejadian kelam yang membuatku tidak ingin lagi memakannya.

Tanpa kusadari, memori itu berputar kembali layaknya sebuah film yang diputar ulang. Udara dingin yang menerpa kulitku terasa menusuk-nusuk, membuat suasana malam ini semakin keruh. Helaan napas keluar dari hidungku...

Baiklah, akan kuceritakan mengapa aku mempunyai kenangan buruk tentang makanan itu.

***

"Nduk... Ibu kerja dulu. Kayaknya bakal pulang lebih larut, jaga adeknya, ya." Ibu terburu-buru membawa tas kecil yang sudah lusuh dan warnanya telah memudar.

"Iya, Bu."

Ya, itu aku yang menjawab. Namaku Gendis, anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku semuanya laki-laki, masih berada di bangku TK, sedangkan aku sudah duduk di bangku kelas 4 SD. Bisa dibilang, kami adalah keluarga miskin yang tidak punya tulang punggung keluarga, sebab Bapak bercerai dengan Ibu semenjak kedua adikku lahir dan keberadaannya tidak nampak lagi hingga hari ini.

Jadi, sebagai gantinya, mau tidak mau Ibu harus multitasking menjadi Ibu Rumah Tangga sekaligus Kepala Keluarga. Ibu yang mengurus ini-itu, dan aku sebagai anak pertama juga harus membantu Ibuku dalam urusan rumah, seperti memasak, bersih-bersih, mengurus adik, dan sebagainya.

Kalau boleh bilang, Ibuku itu hebat sekali
.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun