Oktavia Wijaya
Oktavia Wijaya

Travel Enthusiast // www.aivatko.com

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Geliat Inovasi Produk Lokal di Desa Lebetawi

7 Desember 2018   14:24 Diperbarui: 7 Desember 2018   15:01 231 1 0
Geliat Inovasi Produk Lokal di Desa Lebetawi
www.playhitmusic.it

Berbicara mengenai UMKM di pelosok Negeri, ingatanku kembali ke Juli 2017. Saat itu, aku melakukan sebuah perjalanan yang tak akan pernah terlupakan dalam hidupku. Berlayar selama 5 hari dari Surabaya, singgah di beberapa pulau di Indonesia, merasakan badai di atas kapal hingga akhirnya sampai di salah satu pulau terluar Indonesia, Kota Tual.

Kamu pernah dengar wilayah di Indonesia dengan nama Kota Tual? Namanya memang tidak familiar dan masih terasa asing. Ketika pertama kali diberi tahu akan berangkat ke Kota Tual pun aku langsung membuka Google Maps untuk bisa menemukan dimana letak geografisnya. Pulaunya kecil sekali di maps dan terletak jauh dari pulau-pulau di Provinsi Maluku Lainnya.

Kota Tual adalah sebuah kota di Provinsi Maluku tepatnya di Maluku Tenggara. Luas wilayahnya sekitar 19 km persegi yang didominasi oleh lautan. Kota Tual ini terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang jumlahnya ada 66 pulau dengan 13 pulau berpenghuni dan sisanya tidak berpenghuni. Di Kota Tual, aku tinggal di Desa Lebetawi, sebuah desa di pesisir pantai yang termasuk Kecamatan Pulau Dullah Utara sekitar 30-40 menit dari pelabuhan Kota Tual.

dok.pribadi
dok.pribadi
Perjalanan Menemukan Potensi UMKM di Lebetawi, Kota Tual

Setelah berkelana di lautan berhari-hari, akhirnya aku sampai di negeri yang indah ini. Aku bersama teman-temanku datang kesini bukan hanya untuk liburan, tapi kami membawa misi untuk melakukan ekspedisi sosial. Tergabung di tim yang akan berkontribusi di bidang ekonomi, kami membawa berbagai program yang telah dirancang dengan tujuan untuk memajukan perekonomian masyarakat Kota Tual, Maluku dan salah satunya adalah kiat untuk mengembangkan bisnis melalui inovasi produk dan packaging.

Dari Surabaya, kami membawa beberapa contoh packaging yang menarik yang bisa menambah nilai jual sebuah produk. Riset juga dilakukan dengan membaca dan bertukar gagasan mengenai inovasi produk. Ilmu yang di dapatkan semasa kuliah, akhirnya bisa diterapkan langsung di masyarakat. We're so excited!

Diskusi bersama Warga Lebetawi
Diskusi bersama Warga Lebetawi

Tapi, kami tidak semerta-merta menerapkan apa yang sudah kami bawa dari sana ke masyarakat. Sesampainya disana, kami kembali melakukan survey lapangan. 

Kami mengumpulkan informasi mengenai UMKM di desa tersebut dengan cara berbincang dengan ibu-ibu disana. Setelah pengumpulan data dari lapangan, kami menyimpulkan bahwa pengembangan UMKM di Desa Lebetawi masih kurang maksimal dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhinya. Fokus kami memang kepada pelaku UMKM wanita di desa tersebut karena para laki-laki pekerjaannya mayoritas sebagai seorang nelayan. 

Potensi UMKM di Lebetawi, Kota Tual

Akhirnya hari yang ditentukan sudah tiba. Kami sedikit khawatir kegiatan sharing mengenai potensi produk lokal ini sepi peminat karena berbagai hal. Ternyata tidak disangka, ibu-ibu dan para remaja putri antusias sekali datang ke Bale Desa, tempat diadakannya acara ini. Semua datang dengan senyum ramah meskipun masih malu-malu. Kami pun senang, karena ide kami disambut dengan meriah oleh warga disana.

Banner Kegiatan
Banner Kegiatan
Salah satu Contoh Produk Inovasi
Salah satu Contoh Produk Inovasi
Setelah perkenalan, kami memberikan contoh beberapa produk yang memiliki nilai jual tinggi dikarenakan adanya inovasi produk dan packaging. Kami membuat materi dalam bentuk presentasi dan contoh langsung. Produk yang kami bawa, kami berikan untuk bisa dilihat secara langsung bahwa produk yang biasa saja pun ketika dikemas secara menarik dan inovatif, harganya bisa jadi tak biasa lagi. Selain itu, kami juga mengajarkan bagaimana memasarkan sebuah produk melalui internet.

Ternyata, mereka sangat antusias dengan adanya kegiatan ini. gestur malu-malu ketika pertama bertemu sudah hilang dan berganti dengan kehebohan bercerita mengenai ide-ide produk yang mereka buat. Kendala dari usaha mereka adalah ketidakberanian mereka berinovasi dan cenderung membuat produk yang mainstream. Meskipun ada beberapa orang yang sudah berpengalaman mendapatkan pelatihan mengenai UMKM, tetap saja tidak maksimal dikarenakan banyak kendalanya.

Presentasi dan Sharing
Presentasi dan Sharing
Berfoto bersama setelah Kegiatan
Berfoto bersama setelah Kegiatan
Melihat antusiasme yang tinggi, kami akhirnya memberikan tantangan kepada para ibu-ibu dan remaja putri yang datang untuk membuat beberapa produk lokal yang nantinya akan mereka presentasikan di depan kami dalam jangka waktu tiga hari. "Siapa takut?", mereka menjawab tanpa gentar.

Sembilan Produk Inovasi Lokal

Tiga hari berikutnya, kami menagih janji para ibu dan remaja tersebut. Kali ini bukan di Bale Desa, tapi di rumah Ibu Kepala Desa. Saat kami masih membereskan tempat, para ibu sudah datang dengan menenteng produk lokal buatan mereka dengan senyum lebar.

"Ini kami buat ada sembilan macam", ujar Ibu Kepala Desa. 

Hah? Kami tercengang. Luar biasa sekali semangat para ibu dan remaja putri ini. Ternyata, selama ini mereka sudah memiliki ide mengenai pembuatan produk lokal tersebut tetapi masih tidak percaya diri. Mereka mengutarakan bahwa dengan adanya kegiatan sharing mengenai potensi produk lokal, mereka menjadi percaya diri dan semangat membuat produk.

Sembilan produk itu terdiri dari cemilan asin dan manis. Aku lupa nama-namanya, tapi yang pasti rasanya enak. Selain berinovasi dengan bentuk makanannya, mereka juga berinovasi dengan rasa. Uniknya, bumbu atau rasa yang mereka buat adalah alami dan dibuat sendiri. Misalkan ada cemilan dengan rasa coklat atau pandan, mereka membuat bumbunya sendiri jadi selain enak bumbunya juga sehat karena menggunakan bahan-bahan yang alami. Kami mencicipi satu-satu dengan perasaan bahagia dan haru melihat semangat para ibu dan remaja putri di sana.

Berfoto bersama dengan pembuat Produk Inovasi Lokal
Berfoto bersama dengan pembuat Produk Inovasi Lokal
Permasalahan tidak berhenti sampai di sana. Setelah produk inovasi lokal tercipta, inovasi packaging yang menjadi kendala. Harga packaging disana ternyata mahal, tidak seperti di Jawa. Setelah kami survey pasar pun, tidak ada packaging yang inovatif dan murah. Untuk membuat custom apalagi, lebih mahal. Salah satu alasan kenapa harganya mahal adalah packagingnya didatangkan dari jauh. Jadi selain biaya produksi, ada juga biaya pengiriman yang membuat harganya menjadi mahal.

Ketika kami akan pulang ke Surabaya, kami memesan produk-produk yang mereka buat sebagai buah tangan. Mereka sangat senang dan bersemangat membuat pesanan yang lumayan banyak ini. Uniknya, mereka berbisnis dengan saling membantu bukannya saling bersaing. Pekerjaan ini dibagi-bagi dan akan saling membantu jika ada yang kewalahan melayani pesanan. Meskipun sistemnya belum berjalan dengan baik dan packagingnya masih belum benar-benar rapi, tapi semangatnya bikin kami senang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2