Mohon tunggu...
Fauji Yamin
Fauji Yamin Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Tak Hobi Nulis Berat-Berat

Institut Tinta Manuru (faujiyamin16@gmail.com)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Anak Pasar, Meraup Rupiah dari Kantong Kresek

23 Februari 2021   00:11 Diperbarui: 23 Februari 2021   05:57 1800
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anak penjual kue | kompas.com/wijaya kusuma

Jumlah pekerja anak di Indonesia juga cenderung masih tinggi dari tahun ke tahun. Perkara ini merupakan faktor serius. Bahkan pemerintah sendiri terus berupaya agar pada tahun 2022 tidak ada lagi pekerja anak. Sebuah pekerjaan besar.

Sumber : theny Panie. worldpres.com
Sumber : theny Panie. worldpres.com
Berdasarkan survei nasional pekerja anak Indonesia yang dilakukan oleh BPS dalam laporan ILO 2009 (Pekerja Anak Indonesia) jumlah anak usia 10-17 yang bekerja mencapai 12.1 persen dari jumlah anak sekitar 35.7 juta dengan rata-rata jam kerja 27 jam.

Sementara menurut KPAI 2018 dalam laporan Profil Anak Indonesia, pada tahun 2017 saja presentase anak-anak usia 10-17 tahun yang bekerja mencapai 7.23 persen (1.2 juta) dan angka ini lebih tinggi dari tahun 2016 sebesar 6.99 persen. Dengan kategori pekerja yang maaih sekolah (52.09 persen), dan tidak bersekolah 46.89 persen dan 1.02 belum bersekolah/tidak bersekolah. (2). Dan meningkat lagi meningkat menjadi 0.4 juta atau 1.6 juta. (1)

Di masa pandemi ini pun keberadaan pekerja anak diprediksi oleh KPAI akan meningkat ke 12.4 persen atau sekitar 11 juta anak berpotensi menjadi pekerja (2)

Tentu data data ini menujukan bahwa persentase pekerja anak di Indonesia berfuluktuatif namun cenderung cukup tinggi masih. Anak-anak ini terlibat dalam bentuk pekerjaan hingga tak jarang berada pada kondisi dieksploitasi yang sering menjadi sorotan. (3)

Kondisi yang demikian menjadi catatan penting dan kritis apalagi target pemerintah agar di 2022 tak ada lagi pekerja anak. Sebuah keniscayaan yang butuh banyak kerja keras dan sinergitas baik pemerintah, swasta,lembaga semisal LSM, perguruan tinggi untuk terlibat secara aktif.

Berbagai permasalahan perlu didudukan secara matang terutama menyangkut perihal apa dasar dan motif anak-anak ini terlibat dan dilibatkan ke ranah pekerjaan. 

Ada dimensi sosial ekonomi yang patut menjadi perhatian semua pihak, bahwa keterlibatan anak-anak memiliki motif yang sangat lekat dengan unsur internal dan eksternal yang mereka hadapi.

Sebab, kerasnya kehidupan menyebabkan mereka terlibat dalam dunia yang seharusnya belum menjadi wilayah mereka. Faktor-faktor pun kemudian hadir yakni faktor internal dan external.

Salah satu faktor internal tentu saja ekonomi. Dorongan orang tua utamanya. Beberapa kasus yang saya temui, para orang tua mendorong anak-anak mereka untuk ikut terlibat dengan dalil membantu orang tua. Dorongan itupun mau tak mau harus dijalani.

Sementara menurut Masdiyah (2014) selain faktor internal keluarga seperti peran orang tua, juga faktor external yakni sosial budaya dan urbanisasi yang pada dasarnya, baik internal maupun eksternal, maupun alasan lain, semua bermuara ke kondisi sosial ekonomi sebuah keluarga. Bahkan pada anak itu sendiri. Bahwa kehidupan telah mendorong mereka menjalaninya dengan keras.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun