Mohon tunggu...
Nur Dini
Nur Dini Mohon Tunggu... X

Omelan dan gerutuan yang terpendam, mari ungkapkan

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Kerja di Pabrik Sama dengan Aib?

10 Juni 2019   13:01 Diperbarui: 10 Juni 2019   21:47 0 9 5 Mohon Tunggu...
Kerja di Pabrik Sama dengan Aib?
Ilustrasi | Gambar oleh Steve Buissinne/Pixabay

Hallo,
Saya masih seorang karyawan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri sepatu. Gampangnya, saya kerja di pabrik sepatu. Saya sudah bekerja selama 3,5 tahun dan masih menghitung waktu yang tepat untuk mewujudkan impian saya untuk resign.

Tempat saya bekerja berbeda kota dengan tempat tinggal saya. Saya harus kos, karena sangat tidak mungkin saya pulang setiap hari. Saya hanya bisa pulang maksimal 4 kali setahun. Saya paham, saya bukan termasuk perantau sejati yang pulang setahun sekali demi berhemat. Masa awal kerja adalah waktu saya jadi sampah sesampah-sampahnya.

Seminggu sekali saya pasti ke supermarket, beli makanan dan ditimbun di kos. Sebulan 2 kali nonton film, padahal di kota tempat saya tinggal belum ada bioskop. Saya harus naik bis dulu sekitar 70 km demi sampai bioskop.

Setiap ada tanggal merah, saya selalu pulang ke rumah saya. Zaman itu saya sampah. Saya pake uang sesuka saya. Setelah sekian lama, baru sadar kalau tabungan saya tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari, seandainya saya tiba-tiba resign atau dipecat. Emang bahlul!

Kabar saya bekerja di luar kota jadi berita viral sekampung raya. Semua merasa heran kenapa bisa saya kerja di luar kota. Semua orang tahu saya beda dengan adik saya yang charming. Saya lebih sering diam saat bertemu orang, tidak ramah, muka kusut, cenderung galak, suka menyerang, negatif reaktif (ini istilah yang saya karang sendiri untuk menggambarkan kalau saya reaktif itu biasanya negatif).

Saya juga jarang bersosialisasi dengan orang, suka keramaian tapi tidak dengan beramai-ramai, individualis. Saya hanya bersosialisasi dalam lingkup kecil, yaitu keluarga inti, dan 3-5 teman sekolah. Yang lain? Tidak pernah benar-benar saya anggap dan menganggap saya, sepertinya.

Hal ini juga yang membuat saya membuat artikel di Kompasiana, karena ngga ada teman yang paham dari kepala sampai buntut arah pemikiran saya ke mana. Kalaupun mungkin ada, saya belum pernah bertemu langsung.

Seperti yang orang-orang ketahui, seumur-umur saya juga belum pernah pisah dengan keluarga saya. Ke mana pun saya pergi saya selalu dengan adik atau ibu bapak saya. Kalau sampai saya bisa merantau itu sangat wow!.

Pada tahun yang sama banyak teman yang tinggal sekampung dengan saya meminta izin untuk kerja di luar kota pada orangtua mereka masing-masing.

Rata-rata yang anaknya perempuan tidak diizinkan karena kasihan, padahal kalau dilarang kerja lalu jadi pengangguran dan ngga bisa makan itu lebih kasian.

Untuk yang laki-laki, diizinkan, tapi ibunya akan menangis sepanjang jalan, ngga nafsu makan, dll. karena ngga tega.

Sementara ibu saya biasa saja, itu antara ibu saya memang kuat mental atau saya yang diusir halus. Hahaha

Ibu-ibu yang punya anak sesama perantau biasanya suka tanya kerja di mana, bidang apa, dll. Ibu selalu menjawab seperti apa yang saya jelaskan, saya kerja di pabrik sepatu. Hal itu untuk menghindari ekspektasi terlalu tinggi dari orang yang mendengar cerita. Dan agar mereka tidak berspekulasi tentang pendapatan saya.

Rupanya hal itu ternyata sejalan dengan pemikiran ibu, jadi ibu dengan jelas dan tegas menjawab pabrik sepatu tiap kali pertanyaan itu dilontarkan. Masalahnya, tetangga saya tidak sesederhana itu pikirannya.

Saat ditanya balik anaknya kerja di mana, dia menjawab di perusahaan Korea. Eh, halo, halo, kalau perusahaan Korea itu dimaksudkan pada perusahaan yang pemiliknya adalah WN Korea, pabrik tempat saya kerja juga punya orang Korsel.

Masalah timbul ketika orang mendengar kalimat "Kerja di perusahaan Korea". Orang-orang yang saya tahu biasanya akan berpikir kalau:

1. Ini orang pasti pintar banget sampai bisa kerja di sana,
2. Dia pasti pintar bahasa Inggris cas cis cus dan pintar bahasa Korea,
3. Dia pasti bisa Hangeul,
4. Gajinya besar,
5. Dibayar pakai USD,
6. Tabungannya banyak,
7. Pasti di sana sudah punya apartemen atau beli rumah sendiri,
8. Bentar lagi bapaknya dibeliin mobil,
9. Habis ini ibunya dibayarin umrah,
10. Kalau duit banyak, boleh dong gue pinjam?

(Ini hanyalah 10 prediksi pemikiran dari kebiasaan isi obrolan yang saya dengar dari ibu-ibu di kampung saya, bukan secara general seluruh Indonesia seperti ini).

Kenyataan kadang masih jauh dari pemikiran orang. Niat hati ingin kelihatan ngetop, tapi malah harus kelelahan bersikap seolah ngetop sepanjang hayat demi memenuhi ekspektasi tetangga.

Sampai saat ini, saya memang tidak tahu tetangga saya itu kerja di perusahaan apa, yang saya tahu hanya sebatas pemiliknya WN Korsel. Tapi, ayolah, kalau masih sama-sama di pabrik, gajinya pasti tak jauh dari angka UMK, sederhanakanlah kata-katamu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3