Mohon tunggu...
Mas Nuz
Mas Nuz Mohon Tunggu... Penulis biasa.

hamba Alloh yang berusaha hidup untuk mendapatkan ridhoNya. . T: @nuzululpunya | IG: @nuzulularifin

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Tiada Hari Tanpa Sarung

24 Mei 2019   22:37 Diperbarui: 24 Mei 2019   22:47 0 4 4 Mohon Tunggu...
Tiada Hari Tanpa Sarung
Sarung buat ngabuburit 'tadabbur alam'. (dok. pribadi)

Generasi milenial. Tak luput dari gaya hidup yang 'sesuatu'. Termasuk dalam hal cara berpakaian. Hingga muncul istilah OOTD. Outfit Of The Day. Hidup seolah tak utuh tanpa penampilan yang cihuy.

Tren fashion seolah menjadi lagu wajib. Tak heran, beragam distro maupun butik baru bermunculan. Desainer-desainer muda tumbuh bak cendawan di musim hujan. Masing-masing menawarkan keunggulannya. Anak-anak gaul pun berlomba untuk kenakan model terbarunya.

Penjualan on line maupun off line sama-sama bergairah. Di satu sisi, tentu menjadi kabar yang menggembirakan. Peluang usaha semakin bertambah luas. Namun di sisi lain, gaya hidup butuh biaya. Bagi mereka yang berlatar belakang ekonomi pas-pasan, tentu akan merepotkan.

Tak heran, social climber pun bermunculan. Untuk mengejar gaya, segala cara dilakukan. Termasuk cara yang negatif. Agar penampilan kelihatan wah, modal hutang ditempuh. Gali lubang. Gali lubang. Gali lubang.

Mau jalan-jalan ke Embung Nglanggeran juga okay. (dok. pribadi)
Mau jalan-jalan ke Embung Nglanggeran juga okay. (dok. pribadi)

Tapi tren gaya berpakaian tak hanya di kalangan muda saja lho. Di kalangan STW, setengah tuwa. Middle age. Tren ini juga sudah melanda. Tak heran di berbagai media sosial. Orangtua tak mau kalah bergaya dibandingkan anaknya. Hahaha...

Untunglah, sebagai 'milenial purba', saya tak begitu tergoda. Maklumlah, lingkungan rumah cukup mempengaruhi cara berpakaian juga. Ada ukuran-ukuran etika tertentu yang membatasi cara berpakaian kita. 

Aurat dan adab. Menjadi 'pagar' kita untuk mematutkan diri dengan pakaian. Sarung, baju (koko), jubah, kopyah, maupun penutup kepala lain adalah tren kami sehari-hari. Dalam kegiatan apa saja. Termasuk saat acara-acara resmi tertentu.

Donor darah pun tetap trnedi pakai sarung. (dok. pribadi)
Donor darah pun tetap trnedi pakai sarung. (dok. pribadi)

Bagi sebagian orang mungkin terlihat 'agak risih'. Masak ke mall kok sarungan. Belanja ke pasar kok sarungan. Rapat sama bupati kok sarungan. Meskipun sarung, baju koko, baju batik, kopyah telah 'menasional'. Menjadi ciri khas berpakaian bagi sebagian penduduk negeri ini.

Lingkungan pesantren membuat kami begitu akrab dengan sarung. Sebab pakaian ini memang terbukti cukup praktis. Memiliki banyak fungsi. Termasuk jika tidur, bisa menjadi selimut. Atau jika berada di daerah dingin. Sarung bisa berfungsi sebagai pengusir hawa dingin. Bila shalat tak ditemukan alas. Sarung bisa jadi sajadah. Keren bukan?

Dapat dikatakan, hampir sepanjang hari, sarung menemani. Kecuali saat perjalanan jauh dengan kendaraan umum. Itupun sarung menjadi bawaan wajib di tas atau backpack. Bila AC dirasa cukup dingin. Cukupkan dengan sarung untuk membelit leher. Atau dikerudungkan di kepala.

Mau coba?