Nurul Rahmawati
Nurul Rahmawati freelance content writer & blogger

www.bukanbocahbiasa.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Di Tangan Sang Tukang Pijat, Tuhan Titipkan Masa Depan Para Yatim Piatu

5 Juni 2018   17:07 Diperbarui: 20 Juni 2018   15:40 1328 6 8
Di Tangan Sang Tukang Pijat, Tuhan Titipkan Masa Depan Para Yatim Piatu
(Dok. Pribadi)

  "Hah? Tukang pijat punya panti asuhan? Mana mungkin?"

Bolak-balik saya menyanggah kalimat yang dilontarkan Ibuku.

"Iyo Dek. Orang asli Pacitan. Tapi udah lama di Surabaya, trus punya panti asuhan Amanah. Ayo wis, kapan-kapan ikut Ibu ke sana," ibuku menjawab dengan sabar bin meyakinkan.

Percakapan itu sudah berlangsung sekitar sepuluh tahun lalu. Ketika keluarga kami rutin berkunjung ke Panti dan mendonasikan sebagian rezeki. Ibuku orang asli Pacitan, jadi wajar kalau beliau amat bangga telah mengenal pemilik panti. Sesama Pacitan, yang merantau ke Surabaya, jadi you know lah, bagaimana rasanya.

Namanya Sumirah. Perempuan kelahiran 3 April 1965 ini selalu bersemangat tatkala menyambut kami. Jabat tangannya terasa hangat, akrab, dan kokoh... khas tukang pijat. Cara Sumirah menyambut tamu selalu sumringah, semedulur kalau istilah orang Pacitan. Senyumnya masih sama. Ikhlas, tulus, tanpa tendensi apapun.

Saya (kanan) dan Ibu Sumirah (Dok. Pribadi)
Saya (kanan) dan Ibu Sumirah (Dok. Pribadi)
"Monggo... monggo... udah lama ya nggak ketemu mbak Nurul...."

Semenjak Ibunda berpulang beberapa tahun lalu, bisa dibilang saya jarang berinteraksi lagi dengan beliau. Hingga di bulan Ramadan ini, ada energi berbagi yang menggedor-gedor ulu hati. Saya ingin menikmati inspirasi dari sosok energik yang ada di hadapan saya, sore itu.

"Masih sering mijat, Bu?"

"Iyaaa Mbak. Sudah jadi profesi saya. Alhamdulillah, dari hasil mijat bisa untuk biaya makan dan sekolah anak-anak panti."

Di mata Sumirah, kemampuan memijatnya adalah wujud hidayah dari Sang Maha Sutradara Kehidupan. Sejak kelas 2 SD, ia sudah sanggup memijat. Bahkan, tatkala duduk di bangku 5 SD, Sumirah sudah melayani order memijat hingga ke luar kota, seperti Semarang, Solo dan Madiun.

"Dalam sehari, saya bisa memijat 40-50 orang mbak."

"Waah, banyak amat!"

"Jadi, biasanya saya kerjasama dengan Pak Lurah atau pihak tentara dan Perhutani yang ada di kota itu. Nanti yang mau pijat, kumpul di satu tempat tertentu. Ada yang datang dari daerah Wlingi, Mrican, Ngawi. Satu orang pijatnya nggak lama. Kalau keluhannya ringan, paling 15 menit. Kalau yang sakit agak serius, durasi pijat bisa sampai 1 jam."

***

Walaupun terbilang berasal dari keluarga sederhana, cita-cita Sumirah tidaklah biasa. Sejak kecil, ia sudah menyimpan asa untuk membangun panti asuhan. "Saya terinspirasi oleh orang tua saya, Bapak Atmorejo (alm). Beliau punya jiwa sosial yang amat tinggi, menampung orang sakit, orang gila... intinya Bapak selalu menekankan pada putra-putrinya, kalau dapat rezeki, 50% untuk kita, 50% salurkan untuk membantu orang lain," tutur Sumirah.

(Dok. Pribadi)
(Dok. Pribadi)
Tahun 1995, Sumirah mendirikan Panti Asuhan Amanah di Jalan Pandugo Gang II no.30B. Usianya masih 30 tahun. Profesi "hanya" tukang pijat. Sumirah tetap membulatkan tekad. Ia yakin, bahwa ketika niatnya lurus, lillahit ta'ala, maka Tuhan akan memudahkan jalan untuk mencari sumber rezeki sekaligus mengasuh, merawat dan mendidik anak-anak yatim piatu ini.

"Yang penting kita itu harus gigih dalam bekerja. Punya inisiatif dan semangat tinggi. Kalau di kemudian hari ada tantangan dalam mendidik anak-anak yatim piatu ini, itu urusan kita dengan Allah. Bermohon pada Allah, niscaya bakal ada jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka."

(Dok. Pribadi)
(Dok. Pribadi)
Anak yatim yang diasuh di rumahnya terus bertambah. Sebanyak 85 bocah yatim piatu tinggal di bangunan panti 3 lantai berukuran 5x20 meter itu.

Sumirah pun memutar otak, bagaimana caranya supaya operasional panti tetap berjalan dengan baik.

"Memang beberapa donatur menyedekahkan sejumlah uang untuk keperluan panti, tapi itu sifatnya insidentil. Kami harus mandiri, berusaha untuk mencari rezeki melalui tetesan keringat sendiri," ujarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2