Mohon tunggu...
dodo_sang
dodo_sang Mohon Tunggu... pekerjaanku mencintaiMu

ketika tahu semakin tidak tahu

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Kompasianival 2020 Kenyataan dan Dunia Kata yang Selalu Gempita

26 November 2020   12:55 Diperbarui: 26 November 2020   13:00 116 31 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kompasianival 2020 Kenyataan dan Dunia Kata yang Selalu Gempita
ilustrasi: Kompasianival.com

Menulis adalah kegiatan aktualisasi diri. Atau ada juga yang berkata ingin mengisi waktu di sela-sela kekosongan kesibukan. Ada juga yang mengatakan jika menulis adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari karena dari situ dirinya tercermin. Atau ada juga yang mengatakan menulis bentuk kehidupan karena di situ dirinya mendapati kenyataan dengan menulis dirinya  merasa hidup dan memperoleh penghasilan. Apa pun argumen yang dipakai, menulis adalah kegiatan aktif melibatkan seluruh aspek dalam dirinya.

Ada yang melampiaskan tulisannya cukup di diary, mengirimkan tulisan ke barbagai media, membuka blog di internet, mungkin masih banyak lagi cara mengaktualisasikan ide-idenya. Dan saya sendiri setelah membuka beberapa kali blog kemudian menutupnya kembali. Hingga suatu saat bertemu dengan blog kompasiana. Aspek lahir yang berupa keterampilan mengolah rasa dan cipta menjadi susunan kata yang memukau dan karya semacam itu sangat banyak ditemui di kompasiana. Hasil karya yang memukau itu andai dibukukan tidak cukup satu buku untuk satu hari. Dan semuanya bukan barang aneh karena aktualisasi diri itu membutuhkan suatu media.

Suatu blog yang aneh menurut saya aneh saat kali pertama. Ya  aneh saja,  Satu blog diisi oleh banyak penulis dengan berabagai ragam kategori kemudian diperlihatkan berapa poin yang didapat, kemudian berapa orang yang sudah melihatanya dan sebagainya. Ada kelucuan di sana pertama kali melihatnya pada bulan Agustus 2019, lima belas bulan yang lalu. Karena ada sesuatu yang agak lain itu keinginan untuk menulis yang lama terpendam akhirnya sedikit demi sedikit ada tempat pelampiasannya.

Ketika umur menulis di kompasianan masih seumuran bayi lahir, ada lagi penawaran yang aneh akan diadakan kompasiana festival ajang kumpul para penulis di blog ini. Kemudian saya coba untuk hubungkan dengan berbagai penghargaan yang sifatanya kreatif. Kalau di dunia film ada penghargaan Oscar, Citra, dll. Kalau di musik ada Grammy Awards, MTV Music Award, Anugerah Musik Indonesia. Dan pengahragaan untuk dunia kepenulisan ada Hans Christian Andersen untuk pengahrgaan kepada pengarang dan illustrator terbaik.

Kriteria penghargaan pada proses kreatif di atas sudah melalui penjurian dan tentunya saja jumlah nominal yang didapatkan dan pengeruh dari proses kreatif itu sendiri. Kalau dibandingkan dengan blog menulis di Kompasiana apakah bisa apple to apple? Kalau dibilang bisa ya bisa, kalau dibilang tidak bisa yan tidak bisa.

Tulisan itu ibarat hasil ciptaan manusia kemudian dipajang di etalase pasar. Kalau banyak peminatnya dan yang menginginkannya berarti bagus. Kalau tidak ada yang memperhatian artinya kurang bagus. Namun karena adanya campur tangan dari sekolompok orang atau sebagai pemilik pasar, atau  sekolompok yang mengatsnamakan ahli maka nilai barang yang sama-sama diciptakan itu akan berbeda nilainya. Karena seringnya dipajang, karena seringnya diulas maka karya yang sama itu menjadi berbeda. Wajar saja, toh penjual yang sudah lama harus mendapat kesempatan yang lebih sering juga untuk dipromosikan apalagi memang barang yang dijual juga bagus. Dan tulisan sebagai dinamika kreatif sangat erat  dengan apresiasi.  

Apresiasi lebih mengedapnkan penilaian yang berisi sanjungan, penilaian yang beirisi sindiran namun terbungkus dengan etika tinggi merupakan corak utama dari kompasianer. karena selama ini saya belum menemukan tanggapan yang vulgar menjelek-jelekkan semuanya sangat santun memberikan tanggapan. Namun sebagai insan kretaif di dunia gagasan penulisan dua kata hingga satu kalimat pun sebenarnya sudah dipahami maknanya oleh kompasianer yang membacanya.

Festival di manapun tempatnya tidak di Hawai maupun di Jember dan bagaimanapun bentuknya baik festival film maupun teater akan tetap meriah. Jelas tidak mungkin kalau festival akan diisi dengan tabur bunga, kalau ada itu namanya bukan festival tetapi tabur bunga. Hehehehehe..... festival yang identik dengan kemeriahan akan memberikan semangat berlebih bagi peserta yang hadir di situ, bahkan kegembiraan pun akan bergema pada anggota yang tidak ada di tempat berlangsungnya festival. Karena adanya rasa memiliki, adaya singgungan persamaan gagasan. Terlebih dalam festival itu ada yang mendapat penghargaan, maka dipastikan semangat mereka akan berlipat untuk meningkatkan kreativitasnya di masa berikutnya.

Sayangnya pada tahun ini Kompasianival 2020  hanya bergaung dalam dunia web, kemeriahan bersemuka dengan kawan lini masa ataupun orang-orang yang punya kreativitas besar pun tertunda. Sebagai manusia yang selalu terbuka dengan gagasan alangkah indahnya jika bisa menikmati dengan segala cara. Semua pasti ada hikmahnya tidak akan sia-sia semua yang diciptakan Tuhan.  

Tahun lalu saya pun sangat gembira dan selalu menceritakan setiap tulisan yang saya titipkan di blog kompasiana dan kawan pun memberikan semangat, terlebih istri sangat gembira karena saya seperti mendapatkan permainan pertama saat kecil. Dan ketika festival diadakan rasa membuncah ingin menjadi bagiannya sangat kuat. Semoga tahun depan bisa berselfi bersama... aamiin...

VIDEO PILIHAN