Mohon tunggu...
Nurhilmiyah
Nurhilmiyah Mohon Tunggu... Penulis - IRT, Dosen, Narablog

Dosen PNS sejak 2005, jadi Kompasianer sedari 2010, ngeblog di https://www.fadlimia.com/ https://nafanifa.com/ https://www.menggapaicita.com/ https://www.catatanideinspirasi.blogspot.com dan https://www.nurhilmiyah.wordpress.com Sedang menempuh studi doktor di Universitas Sumatera Utara, angkatan 2021. Doakan semuanya lancar ya. Terima kasih, salam sehat.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Agar Kampus dan Masyarakat Lebih Akrab

10 Desember 2017   09:13 Diperbarui: 10 Desember 2017   11:58 466
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Keterangan foto: bersama para relawan LSM Bitra Indonesia. (Dok. Pribadi)

Seminar Perlindungan Hak Pekerja Perempuan 7 Desember 2017 lalu menyisakan banyak pemikiran di benak saya. Selain berencana mengangkatnya menjadi tema usulan penelitian saya berikutnya (karena berkaitan erat dengan isu strategis yang menjadi RIP kampus), acara yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan Provinsi Sumatera Utara itu membawa saya pada perkenalan dengan beberapa teman baru. Rasanya rugi jika kesempatan menambah kolega terlewat begitu saja saat menjadi peserta aktif sampai makan siang bersama, kami tidak memperbincangkan sesuatu.

Mereka banyak bertanya tentang peran kampus dalam perjuangan mengangkat harkat dan martabat pekerja perempuan. Saya sampaikan pada teman-teman relawan tersebut, memang kami tidak bisa seintensif mereka mendampingi para pekerja rumahan itu dari rumah ke rumah. Tapi kedepannya bisa dijalin kerjasama melalui Program Kemitraan Masyarakat yang ada dalam program hibah Kemenristekdikti. Agak susah payah saya menjelaskan bahwa kampus tak begitu saja memberikan bantuan dalam bentuk dana. Kampus membantu lewat kegiatan dharma perguruan tinggi, kewajiban melaksanakan pengabdian masyarakat.

Saya jadi teringat tulisan Dr. Amie Primarni yang diposting di fanpage Dosen Menulis. Artikel singkat bertajuk Jurnal Ilmiah Penting, Tapi Tidak Cukup. Setelah dosen melakukan kerja-kerja intelektualnya termasuk meneliti, kemudian ada keharusan untuk menyebarluaskannya melalui artikel yang dimuat di jurnal ilmiah, baik nasional maupun jurnal internasional.

Lalu bagaimana menyosialisasikannya kepada masyarakat dalam bahasa yang populer. Sebagai upaya membumikan ilmu pengetahuan ke kalangan masyarakat awam. Jurnal ilmiah dinilai tidak cukup menyampaikan hasil penelitian, di sinilah perlu buku-buku dan artikel populer agar lebih berdaya guna di tengah-tengah masyarakat.

Menurut Dr. Ibnu Wahyudi, dosen FEB UI dalam Kelas Menulis Efektif yang juga diselenggarakan Dr. Amie, dosen bisa saja membukukan karya-karya ilmiahnya. Tapi tentu perlu perombakan besar sebab pembaca buku bukanlah pembimbing skripsi/tesis/disertasi melainkan khalayak umum. Saya sepakat mengenai hal ini. Dosen tak bisa sekehendak hatinya menulis dengan bahasa-bahasa ilmiah yang familiar bagi masyarakat intelektual kampus, namun asing bagi masyarakat umum. Hal ini perlu menjadi perhatian agar kampus dapat lebih akrab dengan masyarakat.

Akhirnya jika tetap saja memaksakan istilah-istilah akademik ke luar "pagar" kampus, dikhawatirkan tujuan ikut mencerdaskan masyarakat lewat berbagai macam hasil penelitian tidak tercapai dan kampus tetap menjadi menara gading di tengah-tengah masyarakatnya sendiri. 

Salam literasi

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun