Mohon tunggu...
Nurkholis Ghufron
Nurkholis Ghufron Mohon Tunggu... wiraswasta -

Alumni MI Darussalam Padar, Mts Darussalam Ngoro, Darussalam Gontor 94, berwirausaha, Suka IT...To declare does'nt mean to be Proud of. It rather than to be thankful to teachers and carefully behaviour...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

The Sword Of God: Rambut Sang Nabi Inspirator "Undefeated Man"!

20 September 2012   04:50 Diperbarui: 25 Juni 2015   00:11 318
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bukit  Uhud (adigetsup.blogspot.com)

Dalam perang  yang terjadi pada 7 Syawwal 3  Hijriah bertepatan pada tanggal 22 Maret 625 Masehi di bukit Uhud,terletak  5 mil dari Madinah,  fihak Muslim dipimpin langsung oleh Nabi dengan 700 pasukan infanteri dan 2 Kavalry sedangkan di fihak Qurays dipimpin oleh Abu Sufyan dengan 3000 pasukan infanteri dan 200 kavalry.

Babak awal peperangan , fihak Muslim dapat mengontrol jalannya peperangan namun malapetaka tiba tatkala para perempuan Qurays menyingkapkan baju-baju mereka dan memperlihatkan emas dan gelang ke arah tentara Islam dan mereka mengabaikan Perintah Nabi Muhammad untuk tidak meninggalkan tempat yang telah ditetapkan oleh Nabi. Mereka tergoda oleh kecohan wanita Qurays dan meninggalkan posisi-posisi kunci yang dapat mengontrol kekuatan musuh. Celah ini dilihat oleh Khalid Bin Walid sebagai suatu pintu untuk memukul kekuatan Muslim dan bahkan bisa menghancurkannya. Benar saja Banyak syuhada di fihak muslim akibat tebasan pedang Khalid bin Walid dan ketika sudah sampai di atas bukit yang ditinggalkan oleh grup pemanah, Khalid dengan lantang berkata:

” Hai Muhammad kami sudah Menang, kamu telah kalah dalam peperangan ini….lihatlah pamanmu Hamzah yang tewas tercabik cabik tubuhnya dan lihatlah pasukanmu yang telah porak poranda”

Nabi dengan tenang menjawab:

“Tidak aku yang menang dan engkau yang kalah Khalid …Mereka yang gugur adalah Syahid , sebenarnya mereka tidak mati wahai Khalid mereka hidupdisisi Alloh SWT penuh dengan kemuliaan dan kenikmatan , mereka telah berhasil pindah alam dari dunia menuju akherat menuju surga Alloh karena membela Agama Alloh gugur sebagai syuhada akan tetapi Matinya tentaramu , matinya sebagai Kafir dan dimasukkan ke Neraka Jahannam. "

Rupanya jawaban tenang ini telah menggema di sudut hati Khalid yang menyebabkan dia merasa resah. Namun karna kesibukannya masing -masing , ingatan tersebut dibiarkannya tersimpan di hatinya sampai perang Khandaq yang terjadi 2 tahun kemudian yakni 627 Masehi yang menjadi perang terakhir bagi Khalid sebagai musuh Nabi dan Islam. Pada tahun 629 Masehi ,  didesak keresahan yang memuncak akhirnya dia memutuskan untuk menemui langsung sang Nabi setelah menyusupkan mata-mata ke dalam masyarakat Muslim Madinah. Karna bertopeng dan menggunakan baju kebesaran yang berkancing  emas dan bertahta berlian, Ali bin Abi Thalib mencurigai tindak tanduk penunggang kuda ini dan menyuruhnya untuk melepaskan topengnya dan menjelaskan tujuan kedatangannya.

” Aku kemari punya Niat baik untuk bertemu Muhammad dan menyatakan diriku masuk Islam” Jelas Khalid kepada Ali Bin Abi Tholib yang disambut oleh Ali dengan wajah berseri-seri setelah beberapa saat ditawan ketegangan yang timbul dari sinar  kharisma Khalid Bin Walid telah merasuki jiwanya saat wajah kharismatik itu tersingkap dari balik topengnya.

Niat ini disambut dengan suka cita oleh Nabi yang secara spontan membentangkan sorbannya di atas tanah sebagai penghormatan kepadanya meski masuknya Islamnya berkah doa beliau yang dikabulkan oleh Allah namun sebagai manusia beliau tetap memperlihatkan sisi-sisi kemanusiaan.

Khalidpun memeluk Rasulullah dan mengutarakan niat Islamnya kemudian atas arahan Nabi Khalid mengucapkan Syahadat.  Selesei bersyahadat Khalid menyerahkan Mahkota bertahta berlian dan baju perang berkancing emas sampai ketika Khalid akan menyerahkan pedangnya...Nabi menahannya sambil mengisyaratkan ramalan jalan hidupnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun