Mohon tunggu...
Nugroho Endepe
Nugroho Endepe Mohon Tunggu... Bakti edukasi dengan literasi tanpa henti. Semoga Allah meridhoi. Bacalah. Tulislah.

“Reading maketh a full man; and writing an exact man. ” ― Francis Bacon “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah..” ― Pramoedya Ananta Toer

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Imam Khomeini dan Imam Habib Rizieq

22 November 2020   19:43 Diperbarui: 22 November 2020   19:55 149 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Imam Khomeini dan Imam Habib Rizieq
Revolusi Perancis (foto: id.wikipedia.org) 

Setiap orang pasti pernah mendengar siapa yang disebut sebagai Ayatollah Ruhallah Khomeini, Lazim disebut sebagai Imam Khomeini. Seorang pemimpin informal yang meruntuhkan kekuasaan rezim Syah Iran. Dari daerah sepi di pinggiran kota Paris, Perancis, Imam yang sederhana itu menggerakkan revolusi Iran. Kaset-kaset diedarkan. Simpatisan dibina secara diam-diam. 

Pada tahun 1962, Khomeini mulai melancarkan perlawanan terhadap kekuasaan Syah Pahlevi. Penguasa Iran itu membuat regulasi yang semakin mengukuhkan kekuasaan Syah Pahlevi. Pada tahun 1964, pasukan Syah Reza mengusir Imam Khomeini ke Turki, yang selanjutnya pada tahun 1978 sang Imam kembali diusir ke Irak, lantas ke Paris. Februari 1979, Syah Reza gantian yang terusir dari negerinya sendiri, dan berdirilah Republik Islam Iran. 

Revolusi tersebut mengubah monarki Iran menjadi negara theokrasi, hingga saat ini. Revolusi Iran 1979, dipercaya sebagai revolusi terbesar ke 3 di dunia setelah Revolusi Perancis 1789-1799, dan Revolusi Rusia 1917. 

***

Dapatkah kita membandingkan antara Imam Khomeini di Iran dengan Imam Habib Rizieq di Indonesia? Sebagian, barangkali membayangkannya demikian. Pengasingan di Arab Saudi, diimajinasikan sebagai pengasingan seorang pemimpin besar Revolusi. Gerakan yang dikatakan sebagai "Revolusi Akhlak", menjadi antiklimaks dengan banyaknya penurunan baliho oleh aparat. 

Jika Khomeini adalah berhaluan Islam Syiah, maka Imam Habib Rizieq berhaluan Islam Sunni. Dalam ideologi, muslim sunni dapat dikatakan tidak memiliki sejarah perlawanan revolusi. Maka membandingkan Imam Khomeini dengan Habib Rizieq, jauh panggang dari api. Imam Khomeini bergerak secara klandestin, lha Pak Habib malah hiruk pikuk membuat kaget kaget dan kaget. 

Permasalahan mendasarnya adalah, Bung Karno pernah bilang bahwa jasmerah - jangan sekali-kali melupakan sejarah. FPI yang dipimpin oleh Habib Rizieq punya sejarah yang silakan dicari sendiri di dunia penuh informasi ini.

Indonesia mau dibuat seperti Iran? Semoga tidak demikian. Indonesia dipimpin oleh presiden hasil Pemilu, sedangkan sejarah revolusi Iran disebabkan adanya diktator monarki yang berkuasa bagaikan tirani tanpa hati. Maka, sejatinya media massa ikut berdosa besar karena membesar-besarkan nama Imam Habib Rizieq  dengan membentur-benturkan opini dengan Panglima Kodam, bahkan sampai Presiden. Pak Habib itu orang biasa, yang justru karena banyak disorot menjadi seakan-akan luar biasa. 

Demikian halnya medsos yang mengunggulkan Nikita Mirzani, tambah ruwet blantika politik negara kita ini. Tidak jelas antara yang serius sebagai ancaman negara, dengan dunia ghibah gosip tumbak cucukan ala BU Tejo yang sampai menista kata lo**he dan sejenisnya. 

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN