Mohon tunggu...
N. Setia Pertiwi
N. Setia Pertiwi Mohon Tunggu... Seniman - Avonturir

Gelandangan virtual

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Ketika Kabut Itu Pergi (2) #5

16 September 2018   13:46 Diperbarui: 18 September 2018   01:01 634
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Oh ya? Penasaran apa?"

"Peserta yang namanya Jay. Dia kenapa sih? Sering pergi sendiri, sekarang malah pergi duluan. Memangnya kalian tidak khawatir dia kesasar?" tanyaku. Rasa penasaran terhadap Jay sudah terlampau lapar untuk mendapat jawaban.

Ketua rombongan tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak, seraya menatap daun-daun gugur yang terpijak kaki kami. Senyumnya masih terpasang.

"Dia bukan peserta open trip. Jay teman kampus saya. Gunung di sekitar Kota Karagan sudah seperti rumah bagi dia. Makanya kami ajak, sekalian jadi penasihat kalau ada masalah."

Aku mengangkat alis. "Dia kuncen gunung?

Ketua rombongan tertawa. "Bukan sih, tapi bisa dibilang begitu. Dia hafal seluk beluk labirin di gunung ini. Dia berkali-kali ke Gunung Parung sejak ..."

Kalimat itu terputus, menggangguku. "Sejak apa?"

"Lebih baik kamu tanya Jay langsung. Saya merasa tidak berhak menceritakan.

Aku mengangguk. Pasrah. Untuk kesekian kalinya, dirasuki lebih banyak tanda tanya.

***

Pos lima.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun