Mohon tunggu...
novia triastuti
novia triastuti Mohon Tunggu... Novia

Nikmati proses, tanpa protes!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan featured

Saat-saat Terakhir bersama Soeharto

26 Juli 2018   12:42 Diperbarui: 21 Mei 2019   17:51 0 17 0 Mohon Tunggu...
Saat-saat Terakhir bersama Soeharto
goodreads.com

"Saat-saat saat Terakhir Bersama Soeharto" - Emha Ainun Najib --

Karya sastra dari Emha Ainun Najib ini 18 tahun sebelumnya sudah pernah diterbitkan. Kini kembali di terbitkan ulang oleh Bentang Pustaka. Maksud dan tujuan penerbitan ulang ini supaya generasi sekarang dapat mengenang dan menyaksikan catatan-catatan sejarah revormasi politik di Indonesia yang terjadi pada tahun 1998, tepatnya pada masa kepemimpinan Soeharto. 

Melalui sudut pandang, kiprah, langkah dan pemikiran dari penulis Emha Ainun Najib atau yang lebih akrab di sebut Cak Nun. Cak Nun yang ikut serta menghadiri dan menyampaikan aspirasinya dalam masa revormasi pada kepemimpinan Soeharto 1998.

Terbitan ulang dari buku ini dilakukan tanpa memodifikasi, perubahan, dan tanpa tambahan ilustratif. Murni diterbitkan ulang dengan bahan asli dari terbitan pertama, dengan alasan tidak menambah pencitraan-pencitraan dan pemalsuan dari pemikiran sebelumnya. Tentu saja setelah 18 tahun lamanya terbitan buku ini mestinya terjadi perbaikan nilai, pendalaman penghayatan, dan pematangan presepsi dari berbagai sudut pandang yang telah mengapresiasi buku ini. 

Berkaitan dengan itu, posisi buku ini tetap menjadi upaya maksimal dari cak nun untuk menjelaskan kejadian pada masa itu. Cak Nun yang memposisikan diri sebagai rakyat kecil untuk mewakili pertemuan dengan Pak Harto,  dan berasama beberapa krabat cak Nun lainnya. 

Buku ini di terbitkan kembali untuk mengajak para pembaca melihat kembali masa-masa kepemimpinan Soeharto murni pada zamannya melalui gambaran dan pemikiran Cak Nun kala dirinya terlibat dalam pertemuan dengan presiden Republik Indonesia yang kedua itu.

"Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto" menggambarkan saat-saat terakhir pada masa kepemimpinan Soeharto. Pengunduran diri yang dilakukannya Soeharto bukan tanpa sebab dan juga tanpa akibat. Detik-detik revormasi yang dianggap menjadi titik perubahan bangsa. Seiring dengan lengsernya masa jabatan kepemimpinan Pak Harto. Cak Nun menjadi salah satu yang dipanggil Soeharto untuk menghadiri pertemuan bersama selama 2,5 jam di Istana negara bersama beberapa rekan lainnya. 

Menyampaikan pendapat dan urun rembuk, dalam diskusi pengundurkan diri Presiden Republik Indonesia masa itu. Menurut kesaksian Cak Nun menjelang lengsernya Soeharto sebagai presiden republik Indonesia. Cak Nun menggambarkan secara utuh bagaimana suasana dan kondisi politik, sosial, dan ekonomi bangsa Indonesia saat itu. Aksi Jamaa'ah mahasiswa di seluruh tanah air menjadi peran utama luluhnya hati Soeharto untuk melepaskan jabatanya. 

Masyarakat yang sudah terburu terbakar isu begitu menarik perhatian dan dukungan dalam memaksa pak Soeharto harus turun dari jabatannya. Menanggapi isu tentang reformasi yang justru menimbulkan kekacauan kekacauan yang lain.

Gambaran atas ketidak puasan rakyat kecil atau yang di sebut Cak Nun sebagai kaum Mustadha'afin terhadap kepimpinan Soeharto, menjadi penyebab utama rakyat untuk melancarkan aksi, menyampaikan, permasalahan, pendapat, aspirasi dan gagasan mengenai kepemimpinan di Indonesia. Setumpukan permasalahan kemiskinan, kemelaratan dan kesukaran hidup rakyat, kegelisahan hidup dan keputusasaan sehari-hari. 

Krisis ekonomi yang dialami saat kepemimpinan Soeharto mengambarkan kondisi yang sangat memprihatinkan, persis seperti yang di teriakkan mahasiswa. Gelombang aksi yang terus menerpa menjadikan cikal bakal dimulainya orde baru. Ada banyak spekulasi yang lahir dari setiap individu mengenai makna dan dampak reformasi. Sebagian berpendapat bahwa reformasi menjadi awal kebangkitan bagi bangsa Indonesia.

Harapan mengenai kemerdekaan ekonomi, sosial dan budaya dari lahirnya revormasi di orde baru. Namun disisi lain ada yang berpendapat bahwasanya reformasi tak lebih hanya pergantian pemimpin yang justru ber dampak terhadap keterpurukan bangsa, lalu setiap orang bebas berekspresi semaunya. 

Lantas apa makna reformasi yang sebenarnya? perwujudan seperti apa yang di inginkan bangsa indonesia? dalam buku esai karangan cak nun ini kita akan banyak menemukan ulasan sejarah masalalu yang mengupas sepenuhnya tentang seluk beluk lahirnya revormasi pada orde baru.

Reformasi sebagai isu sentral gerakan mahasiswa yang diharapkan akan merubah segalanya lebih baik. Namun, sebenarnya di Indonesia sistimnya mau dibuat seperti apapun tetap tidak mampu mengubah keadaan, karena pelaku sistim sekaligus membocorkan sistim yang sedang di bangunnya. Ibarat rumah, yang membangun rumah adalah pemilik rumah; pembangun rumah pun menjadi penghuni rumah tersebut; dan si penghuni tersebut juga menjadi tikus dalam rumah itu (hal 25).

Mei 1998 detik-detik sebelum masa kepemimpinan Soeharto resmi ditinggalkan. Rakyat kecil, mahasiswa dan jamaah masyarakat lainnya berharap waktu itu menjadi tonggak perubahan bagi Bangsa Indonesia. 21 Mei1998 resmi Soeharto menyatakan undur diri dari masa jabatannya. Pengunduran diri Soekarno sebagai presiden Indonesia dimanfaatkan sebagai momen revormasi bagi Bangsa Indonesia untuk merubah nasib nya. Bersama pemimpin yang baru. Pemimpin yang akan menggantikan Soekarno.

Karna itu, mengatasi krisis dan membangun bangsa Indonesia tidak cukup hanya dengan pergantian presiden. Melengserkan jabatan Soeharto dengan memaksa undur dari jabatannya. Jangan mengira kalau pak Harto diganti lantas semuanya beres. Hal terpenting dan harus dilakukan oleh semua masyarakat bangsa sebenarnya taubat seperti yang di katakan Cak Nun. 

Tobat dalam arti merubah cara berpikir, mengubah dengan perhitungan akal sehat, dan hati nurani. Jadi yang seharusnya dilakukan Bangsa Indonesia tidak hanya reformasi politik, tetapi revormasi yang menyeluruh. Karna sebanyak apaun dilakukan pergantian pemimpin keadaan akan tetap sama. Keadaan akan tetap seperti ini jika kita tidak mau mengubah sikap mental masyarakat terutama dari individu masing masing. 

Karna akan lebih berbahya dan justru merugikan bangsa Indonesia sendiri nantinya apabila, masyarakat Indonesia hanya sekedar berprasangka atas pergantian pemimpin yang akan merubah Indonesia lebih baik. 

Namun, pada kenyataannya itu hanya sebatas prasangka yang belum terbukti kebenarannya. Dengan adanya buku ini diharapkan pembaca mampu memahami dan segera "bertobat" seperti istilah cak Nun yang artinya memperbaiki diri bersama, dibandingkan mengharap revormasi dan menggantungkan harapan tidak pasti atas prasangka yang belum terbukti kebenarannya. 

Jangan mudah terhasut isu, menjadi seperti mereka yang sangat gampang mencintai dan sangat gampang untuk membenci. Masyarakat memang sangat mudah termakan isu. Sangat mudah mengangkat pemimpin dan sangat mudah mencampakkan pemimpin (hal 91).  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2