Mohon tunggu...
Inem Ga Seksi
Inem Ga Seksi Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Jadilah air bagi ragaku yang api

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

(HUTRTC) Bendera Kesiangan Milik Tito

21 Maret 2016   20:38 Diperbarui: 21 Maret 2016   20:50 297
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagi Inem dan Tito, anak semata wayangnya. Cuaca terik bukanlah halangan untuk mengais-ngais tempat pembuangan akhir sampah. Menjadi pemulung sampah plastik merupakan satu-satunya perkerjaan yang bisa dilakukan Inem demi menyambung hidup di Bandung, setelah suaminya Bayu, meninggal 2 tahun yang lalu.

“Mak...Mak!?” Sambil berlari, Tito memanggil Inem yang berada sekitar 10 meter-an darinya. Sesekali kaki mungilnya terperosok di tumpukan sampah. Di tangan kanannya tergenggam sesuatu, yang berkibar.

“Mak...” dengan terengah-engah, Tito langsung duduk tepat di depan Inem, menghentikan aktivitas Inem yang sibuk memilah-milah sampah.

“Mak, lihat ! Bagus, ya, Mak. Ntar kita pasang depan rumah, ya, Mak. Terus kita berdua hormat, ya, Mak. Terus kita nyanyi lagu ‘Raya’...”

“Bukan ‘Raya’, tapi ‘Indonesia Raya’...” Inem menjawab dengan datar. Wajahnya tak menoleh pada Tito. Bibirnya agak sedikit mengerucut, mendengar keinginan Tito. “Untuk apaan sich pasang bendera, tujuhbelasannya udah lewat. Lagian, emang kamu hafal lagu Indonesia Raya ?”

“Lagu Indonesia Raya itu, cuma pantes dinyanyikan oleh anak sekolahan, bukan anak seorang pemulung kayak kamu. Udah, buang aja benderanya.”

“Tapi, aku pengen nyanyi lagu Indonesia Raya, Mak. Walau aku ndak sekolah” lirihnya.

Inem mengibas tangan kanannya. Menegaskan penolakannya.

Tito tertunduk. Segurat kecewa menggantikan rasa senangnya menemukan selembar bendera merah putih di antara tumpukan sampah.

Oil City, 21-03-16

FF200K ini terinspirasi dari lagu “Indonesia Raya”
Karya ini diikutsertakan dalam rangka memeriahkan ulang tahun perdana Rumpies The Club

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun