Mohon tunggu...
Noni Arnee
Noni Arnee Mohon Tunggu...

Kecoa pengembara yang belajar menjadi cantik

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Stand-up Comedy: Mengolah Tawa Belajar Dewasa?

27 September 2011   01:34 Diperbarui: 26 Juni 2015   01:35 1207 0 5 Mohon Tunggu...

”Ustaz sekarang trennya nggak hanya Timur Tengah. Saya perhatikan ustaz pun harus 'ngondek'. Asal kata dari kondektur. Kondektur kan melambai-lambai. Jamaah oh Jamaah... piss Pak,” ujar Soleh Solehun sambil melambaikan tangan kanan menirukan gaya seorang ustaz di televisi. Penonton di studio pun tertawa.

Itu salah satu aksi Soleh Solehun dengan set panggung sebuah kafe plus cangkir kopi ”berbalut” iklan di atas meja, dalam tayangan perdana program hiburan Stand-Up Comedy Show, Metro Tv, Kamis (15/9), pukul 22.30 WIB. Acara berdurasi 30 menit ini menghadirkan tiga comic (orang yang membawakan Stan-up Comedy): Soleh Solehun, Steny Agustaf, dan Asmara Leticia alias Miund.

Melawak dengan cara bicara sendiri di depan orang banyak, dengan struktur rapi, lebih fast-paced, dan lebih singkat, akhir-akhir ini memang ramai dibicarakan. Tidak hanya di forum maya tapi juga dalam kehidupan nyata. Tepatnya, setelah kemunculan video sejumlah stand-up komedian lokal yang mengaku belum profesional di acara live show #StandUpNite di Comedy Cafe Kemang, diunggah ke situs Youtube oleh StandUpComedyIndo.

Acara yang sukses meraup pengunjung hingga di luar kafe itu diprakarsai Ernest Prakasa,  Adriandhy,  Isman HS, Panji Pragiwaksono, dan Raditya Dika. Mereka mendapat sambutan luar biasa hingga kemudian dua stasiun televisi melirik konsep acara serupa untuk program hiburan.

Memang dalam tayangan perdana di Metro Tv, aksi tiga comic tersebut masih terlihat canggung. Dengan lawakan standar dan ”kurang berisi”, jauh dari  filosofi genre komedi yang selama ini mematok pakem komedi one-man show dengan penceritaan ulang dari fenomena atau kejadian serta isu sosial dalam masyarakat dengan bumbu komedi. Istilahnya, komedi cerdas yang mengolah tawa untuk belajar menjadi ”dewasa”.

Walhasil, wajar saja jika  komedi yang isinya penuh kritikan ini hanya bisa dinikmati orang berpikiran terbuka dan luas, tidak mudah tersinggung dan menikmati setiap lelucon tanpa emosi.

”Tetap ada batasan dan etika meski comic diberi kebebasan mengolah materi yang sudah disiapkan. Ada sensor karena ditayangkan di televisi,” jelas Agus Mulyadi, ekskutif produser Stand-Up Comedy Show Metro Tv.

Ciri Khas

Tiap comic biasanya punya ciri khas dalam menebar pesona lawakan kepada penonton yang tersihir lewat isi lawakan. Masing-masing bisa saja bercerita tentang observasi atau pengalaman pribadi sang komedian.

Itu agak berbeda dengan di Amerika Serikat. Di negara itu, genre komedi seperti itu begitu populer. Isi lelucon Stand-up Comedy mereka sangat ”bebas”. Atas nama menghargai kejujuran dan opini, semua bebas dan berhak bicara tentang apa saja. Kritikan yang dibalut lelucon lebih blak-blakan, bahkan berani menyerempet hal-hal yang berbau rasis, mengkritik pemerintah seperti presiden dan menteri-menterinya, film, atau penyanyi.

Seperti Richard Pryor yang sering mengumpat dan Dave Chappelle berbicara rasis, atau Mitch Fatel lebih ke arah seks. Namun, Jerry Seinfeld nampak lebih santun dan ”bersih” dari sumpah serapah. Margareth Cho bicara tentang politik dan perempuan, Ellen DeGeneres tentang realitas  modern. Beda lagi dengan Robin Williams yang lebih suka melakukan improvisasi tanpa menghapal materi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x