Mohon tunggu...
Noer Ima Kaltsum
Noer Ima Kaltsum Mohon Tunggu...

Ibu dari dua anak dan suka menulis

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan

Sudah Tepat Sasarankah Memberi Sedekah di Jalanan?

14 Mei 2019   23:36 Diperbarui: 15 Mei 2019   00:00 0 1 1 Mohon Tunggu...
Sudah Tepat Sasarankah Memberi Sedekah di Jalanan?
Dokumen Faiqah Nur Fajri

Bersedekah sangat dianjurkan dalam Islam. Bila mau bersedekah tidak perlu menunggu bila sudah kaya raya atau mampu. Bagaimanapun keadaan kita, lapang atau sempit, kaya atau miskin, tetap bisa bersedekah. Bersedekah tidak selalu dalam bentuk materi. Kita bisa bersedekah dalam bentuk tenaga, ilmu yang kita miliki, tersenyum dan menyingkirkan duri.

Namun, bila kita dimampukan secara materi, bersedekah materi sangat dianjurkan. Materi, baik berupa barang dan uang yang kita keluarkan, akan sangat bermanfaat bila kita berikan kepada orang yang tepat, yakni orang yang benar-benar membutuhkan. Kita tidak boleh takut menjadi miskin bila telah mengeluarkan sedekah. Materi yang telah kita keluarkan akan diganti Allah dengan berlipat ganda. Allah melipatgandakan sedekah kita tidak selalu dalam bentuk materi, bisa jadi berupa kesehatan, umur panjang dan keberkahan rezeki yang telah kita miliki. Rezeki yang berkah adalah rezeki yang serasa tak ada habisnya meskipun jumlahnya sedikit.

Kalau kita mau bersedekah materi, sebaiknya diberikan kepada siapa? Pertama-tama, harta benda yang kita miliki disedekahkan untuk keluarga. Setelah itu saudara dekat, tetangga, panti asuhan, pondok pesantren, dan lembaga sosial lainnya. Bagaimana bila ada peminta-minta dan pengamen di jalanan yang minta sedekah pada kita? Ada beberapa daerah yang menerapkan pemberian sanksi bagi seseorang yang memberikan sedekahnya kepada pengamen dan peminta-minta di jalanan bila ketahuan. Kita berhadapan pada situasi dilematis. Bagaimana bersikap bila bertemu dengan pengamen atau pengemis?

Saya pribadi jarang memberikan sedekah kepada pengamen dan pengemis di jalanan. Alasan saya adalah para pengamen biasanya fisiknya masih kuat dan masih mampu bekerja. Beberapa pengemis juga kondisinya mampu, mampu untuk makan 3 kali sehari, bahkan ternyata sebagian dari mereka berangkat dari rumah menuju tempat biasa untuk mengemis naik sepeda motor. Sepeda motor dititipkan di suatu tempat terdekat.

Mungkin terhadap saya ada yang mengatakan pelit. Bagi saya tidak masalah. Saya hanya ingin sedekah yang saya keluarkan tepat sasaran. Masih ada kerabat dan tetangga yang benar-benar membutuhkan uluran tangan. 

Masih ada panti asuhan, pondok pesantren, rumah-rumah sosial lainnya yang membutuhkan bantuan. Panti asuhan, pondok pesantren, dan rumah-rumah sosial, setiap hari biaya operasionalnya besar. Agar tempat-tempat tersebut bisa tetap beroperasi, sudah semestinya kita memberikan bantuan meskipun hanya sedikit.

Sekarang banyak kegiatan berbagi sedekah pada hari-hari tertentu, misalnya hari Jumat. Biasanya berbagi sedekah pada hari Jumat bentuknya nasi bungkus, nasi boks, kudapan dan minuman untuk kaum dhuafa. Penerima sedekah pada hari Jumat adalah buruh-buruh, tukang becak, pemulung, tukang sapu jalanan dan lain-lain. 

Mereka pekerja, mereka bukan peminta-peminta atau pengamen. Mereka berhak menerima sedekah, meski berada di jalanan. Menurut saya, sedekah yang diberikan kepada kaum dhuafa, yaitu para pekerja dengan penghasilan minim dan para lanjut usia yang sudah tidak bisa mencari nafkah, tingkat ekonominya rendah adalah tepat sasaran.

Bagaimana sedekah berupa makanan dan minuman yang dibagikan di jalanan bagi mereka yang berpuasa tapi masih berada dalam perjalanan? Mungkin penerima makanan dan minuman untuk berbuka puasa ini termasuk orang mampu. 

Kita berprasangka baik saja, mungkin perjalanan mereka masih lama dan mereka tidak membawa bekal makanan dan minuman untuk berbuka. Kalau mereka sudah membawa bekal untuk berbuka, biasanya juga menolak pemberian atau menerima lalu diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Memberikan sedekah di jalanan tetap tepat sasaran bila yang diberi adalah para pekerja yang tidak hanya mengandalkan mental peminta-minta.