Mohon tunggu...
Noer Ima Kaltsum
Noer Ima Kaltsum Mohon Tunggu... Guru - Guru Privat

Ibu dari dua anak dan suka menulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

NEM Kurang dari 300 Bisa Masuk SMA Favorit, Dianggap Siswa Siluman

6 Agustus 2015   22:26 Diperbarui: 6 Agustus 2015   22:26 1368
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

NEM Kurang dari 300 Bisa Masuk SMA Favorit, Dianggap Siswa Siluman.

Beberapa hari yang lalu saya membaca di media online tentang siswa siluman yang mendadak duduk manis ketika MOS di SMA favorit di kota saya (tepatnya daerah di mana saya tinggal). Saya tidak kaget, karena sebelumnya saya mendengar dari pembicaraan beberapa remaja yang pernah menjadi teman dari siswa siluman tadi (siswa siluman tadi sebut saja si N).

Singkat cerita N dahulu ketika SD mendapatkan nilai ujian tidak tinggi. Seharusnya N tidak bisa masuk SMP favorit karena nilainya kurang. Tapi akhirnya N bisa masuk SMP favorit dan menimba ilmu di sana. Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun ajaran tahun ini, N yang nilainya jauh dari 300 bisa masuk SMA favorit. Padahal ketika pendaftaran online, nilai terendah di SMA tersebut adalah 344.

Teman-teman SD si N tadi ternyata ada yang sekolah di SMA favorit jadi bertanya-tanya. Bukankan nilai UN si N kurang dari 300? Waktu bukber bulan puasa juga dikabarkan N masuk SMA swasta. Teman-teman N baik teman SD maupun teman SMP jadi heran. Kok bisa ya?

Kalau saya pribadi memiliki pendapat tentang menimba ilmu seperti ini.

Untuk orang tua: beri pengertian pada putra putrinya, kalau memang tidak bisa masuk sekolah favorit, terima saja apa adanya. Gak perlu memaksakan diri agar anaknya bisa duduk manis di sekolah favorit. Gak usah jaga gengsi. Akui saja kalau anak kita memang tidak mampu untuk bidang akademik. Siapa tahu dengan tidak sekolah di sekolah favorit malah anaknya bisa lebih menonjol/maju. Kalau menjadi siluman apalagi menggeser anak-anak pinter itu termasuk perbuatan zhalim. Sekolah di mana-mana hasilnya akan sama, tergantung pada anaknya sendiri. Saya masih ingat: dulu ketika SMA saya memilih di Kab. Bantul, padahal saya juga bisa masuk di SMA Kodya Yogyakarta. Ternyata teman-teman saya juga banyak yang jempolan. Terbukti ketika lulus SMA kami banyak yang diterima di PTN favorit.

Perbuatan zhalim ini tidak berhenti sampai di sini, biasanya terus berlanjut. Dan efeknya korban perbuatan zhalim itu banyak. Anak-anak pinter banyak kehilangan kesempatan gara-gara siswa siluman. Piye nek ngene iki, mesakke ora?

Dengan memaksa anak menjadi siswa siluman berarti orang tua sudah mengajarkan kepada anaknya perbuatan curang. Rugi bapak/ibu!

Buat anak-anak: akui kekurangan diri dan akui kelebihan orang lain. Kalau memang tak bisa lolos dalam seleksi tak usah memaksakan diri duduk di kursi sekolah favorit. Jangan gunakan cara yang tidak terpuji. Jujur saja. Kasihan dong teman-teman anda yang pinter jadi terjegal karena ulah Anda.

Kalau Anda menerima semua itu dengan lapang dada, sebenarnya semua ada hikmahnya. Jangan sibuk dengan “aku bisa masuk di sekolah favorit” tapi malas belajar. Percuma, hasilnya juga bohong belaka. Gali potensi Anda. Hobi dan bakat Anda. Kembangkan. Bila Anda tidak pandai di bidang akademik tapi Anda punya prestasi di bidang lainnya.

Saya yakin Anda dan orang tua tidak bisa membohongi kata hati nurani. Kalau hati nurani tidak berontak, itu ngalamat hatinya sudah mati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun