Noer Ima Kaltsum
Noer Ima Kaltsum Guru

Ibu dari dua anak dan suka menulis

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Suamiku Amnesia

26 Juni 2015   14:17 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:45 151 1 1

SUAMIKU AMNESIA

Oleh : Noer Ima Kaltsum

Awalnya semua baik-baik saja. Bulan puasa tahun lalu, suami mengeluh penglihatannya agak terganggu. Aku membawanya ke rumah sakit luar kota (Yogyakarta). Untuk sementara dokter memberi obat sesuai dengan keluhannya.

Menjelang bulan haji, kembali suami memeriksakan diri. Keluhannya adalah pandangannya semakin tidak jelas. Kami kembali ke rumah sakit luar kota. Dokter menyarankan untuk menjalani scan. Ternyata di bagian kepala, di sekitar otak terdapat cairan. Dokter memberi tahu, untuk menghilangkan/mengeluarkan cairan bisa dioperasi. Akan tetapi setelah operasi, kemungkinan sembuh juga 50% : 50%.

Dokter memberi tahu kepada kami, karena yang dioperasi bagian kepala, maka efek sampingnya/resikonya juga besar. Aku tahu dokter bukan menakut-nakuti. Aku juga paham dan menyadari itu. Bahkan semua tindakan medis bisa juga memiliki resiko. Aku tahu dokter akan bekerja keras, mengusahakan kesembuhan pasien, tapi tetap ada campur tangan dari Tuhan.  

00000

Suami bekerja ikut kontraktor. Posisi suami sudah mapan, bahkan bila ada lelang pengerjaan jalan/pasar, suami berhasil. Pekerjaan suami memang berat, tapi hasilnya juga bisa diwujudkan dalam bentuk investasi berupa tanah.

Aku bersyukur, penghasilan suami bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kami hidup pas-pasan. Pas ingin beli mobil, uangnya cukup. Pas ada orang menawarkan tanah, uangnya cukup. Pas mau renovasi rumah, uangnya cukup. Pas anakku laki-laki mulai tumbuh menjadi pemuda minta sepeda motor keluaran terbaru, kami bisa memenuhi.

Pada suatu hari aku mendapat laporan dari keponakan yang bekerja satu tim dengan suami. Dia bilang kalau suamiku menjadi pelupa dan pekerjaannya tidak seberes dulu. Pimpinannya sungkan mau bilang padaku langsung.

Akhirnya aku menanyakan hal ini/kroscek ke pimpinan suami. Dan ternyata benar! Aku heran, ada apa dengan suamiku? Kata pimpinan suamiku, suamiku sering lupa. Kadang-kadang kalau diajak berbicara tidak menyambung.

Apakah mungkin semua itu karena sakitnya? Setelah melalui pembicaraan lewat telepon penuh dengan keakraban, pihak kontaktor memberi waktu istirahat untuk suamiku. Aku merasa baik-baik saja, tidak merasa disingkirkan karena aku telah menyadari keadaan kesehatan suamiku. (keponakanku juga menceritakan keadaan terakhir suamiku selama di kantor).

Singkat cerita suamiku pulang dan barang-barang yang ada di kontrakannya diantar oleh pihak kantor. Pihak kantor mengucapkan terima kasih dan minta maaf kalau mereka memiliki kesalahan. Justeru aku yang minta maaf dan berterima kasih. Sekali lagi aku maklum, kejadian ini murni karena suamiku sakit. Tidak ada unsur yang lain.

Setelah di rumah, keponakanku bercerita sewaktu membereskan pakaian suami, dia menemukan obat-obatan dalam jumlah banyak. Ternyata oh ternyata, obat yang harganya mahal itu tidak diminum sama sekali. Pantas saja sakitnya tidak kunjung sembuh malah lebih parah.

Aku hanya bisa menanyai suami  mengapa obatnya tidak diminum? Jawabnya obatnya terlalu banyak, aturan minumnya juga membuatnya bingung. Ada obat yang harus diminum berapa jam sebelum makan, ada yang sesudah makan dan jam sekian baru diminum.

“Bagaimana, mau sembuh kalau obatnya tidak diminum. Kita ke dokter lagi, untuk memastikan keadaanmu.”

00000

Setelah beberapa bulan istirahat di rumah dan berobat jalan, keadaan suami semakin parah. Bahkan kesabaranku benar-benar diuji. Untuk buang air saja suami sudah tidak pakai kebelet. Tahu-tahu ngompol atau buang air besar di celana. Akhirnya aku kenakan popok dewasa.

Selanjutnya suami aku bawa ke rumah sakit untuk opname. Karena suami masih mau makan seperti orang sehat, maka bisa dirawat di rumah. Di rumah kesadaran suami mulai membaik. Diajak komunikasi bisa menyambung. Sekarang keluhannya adalah semuanya menjadi gelap dan dia tak bisa melihat. Ya Tuhan.... suamiku tak bisa melihat.

Suami mengenali suara-suara siapa yang mengajak bicara. Dia “hanya” tak bisa melihat. Keluarga besar akhirnya sepakat untuk mengeluarkan cairan yang ada di kepala dengan menerima resiko yang bakal diterima.

Akhirnya dokter melakukan operasi pemasangan alat untuk mengeluarkan cairan dari kepala. Alat itu dipasang seumur hidup di dalam tubuhnya. Tapi dokter sudah angkat tangan untuk bagian matanya. Aku harus siap menerima dengan keadaan suamiku buta. Sungguh menyakitkan vonis itu. Aku dan keluargaku awalnya tak bisa menerima kenyataan bahwa suami buta di usia masih belia (empat puluhan tahun). Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi aku tak bisa. Akhirnya aku hanya bisa pasrah. Manusia sekedar menjalani perannya. Sang sutradara telah menyiapkan skenarionya dengan indah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2