Mohon tunggu...
Adhi Nugroho
Adhi Nugroho Mohon Tunggu... Blogger | Author | Analyst

Kuli otak yang bertekad jadi penulis dan pengusaha | IG : @nodi_harahap | Twitter : @nodiharahap http://www.nodiharahap.com/

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Sedia Payung Sebelum Hujan, Gunakan Zurich Sebelum Bencana!

20 Maret 2017   17:09 Diperbarui: 21 Maret 2017   07:44 0 1 1 Mohon Tunggu...
Sedia Payung Sebelum Hujan, Gunakan Zurich Sebelum Bencana!
Mobil Z. Salah Satu Produk Asuransi Kendaraan dari Zurich yang Komplit! | sumber : www.zurich.co.id

Sebuah pepatah tua negeri ini mengatakan, “sedialah payung sebelum hujan”. Pepatah tersebut mengajarkan kita akan pentingnya memitigasi risiko bencana yang mungkin terjadi di setiap sendi kehidupan kita. Ke manapun langkah kaki kita berpijak, risiko bencana senantiasa menghantui. Contohnya, jika kita pergi ke kantor dengan menggunakan angkutan umum, maka muncul risiko kecelakaan. Sama halnya ketika kita menggunakan kendaraan, pribadi, risiko kecelakaan tetap ada. Belum lagi ditambah risiko kesehatan, bencana alam, dan dampaknya terhadap finansial atas dampak dari berbagai risiko tersebut. Jangan takut, karena dewasa ini telah tersedia ‘payung’ bernama asuransi dengan berbagai jenis pertanggungan yang sesuai dengan jenis risiko yang kita hadapi. Pilihan pun berada di tangan kita sendiri, apakah kita mau menggunakan payung sebelum hujan?

Pengalaman, Sebuah Pelajaran Terbaik

Pengalaman tentunya akan selalu menjadi pelajaran terbaik. Bercerita mengenai pengalaman pribadi, dahulu Saya adalah seseorang yang menganggap bahwa asuransi itu tidak penting. Sekitar 6 tahun yang lalu, Saya merupakan lulusan perguruan tinggi negeri yang baru saja diterima kerja sebagai pegawai di salah satu bank pelat merah, dengan lokasi penempatan di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung.

Setelah setahun bekerja, berbagai kebutuhan pribadi pun mulai timbul, salah satunya keinginan untuk memiliki mobil pribadi. Sayapun menghitung jumlah uang di tabungan dan akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah sedan bekas, dengan alasan harganya cukup terjangkau. Setelah dibelikan mobil, saldo di tabungan pun masih tersisa lumayan sebagai buffer untuk tabungan membeli rumah dan biaya servis mobil awal. “Maklum, mobil bekas, pasti biaya servis awalnya cukup tinggi,” pikir Saya. Seminggu kemudian, seorang petugas asuransi menawarkan Saya untuk mengambil produk asuransi kendaraan, namun pada waktu itu Saya tolak. “Ah, kalo pun terjadi apa-apa dengan mobil Saya, palingan biaya bengkelnya tidak seberapa”, dengan halus Saya menolak.

Setelah Menabung Selama Setahun, Akhirnya Terbeli Mobil Idaman, Walaupun Bekas.
Setelah Menabung Selama Setahun, Akhirnya Terbeli Mobil Idaman, Walaupun Bekas.

Tiga bulan kemudian, Saya mendapatkan musibah yang tidak akan terlupakan. Di suatu minggu pagi ketika membeli sarapan, Saya menggunakan mobil dan memarkirkan kendaraan tepat di depan rumah makan langganan di bilangan Lengkong, Kota Bandung. Setelah sekitar 30 menit menghabiskan santap pagi, Saya kembali ke mobil untuk melanjutkan agenda di hari Minggu. Tidak diduga, fog lamp mobil Saya raib dicopot maling. Bukan hanya satu sisi, kedua fog lamp hilang tak berbekas. “Kurang ajar”, gumam Saya. Akhirnya Saya memutuskan untuk membatalkan agenda dan berputar balik ke bengkel untuk mengganti fog lamp yang hilang. Biayanya sekitar Rp1 juta per lampu, belum termasuk ongkos pasang! Total biaya habis sekitar Rp2,3 juta, atau setara dengan 44% slip gaji bulanan Saya pada waktu itu. Menyedihkan.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Dua minggu setelahnya, ketika hendak pulang kantor, Saya dapati mobil tercinta sudah penyok entah ditabrak siapa. Bumper bagian depan melengkung ke dalam sekitar 5-7 cm menyisakan perasaan miris di hati. Terpaksa harus mengurungkan niat selonjoran di kasur kosan, karena sekali lagi harus berputar balik ke bengkel ketok magic untuk benerin mobil. Alhasil tabungan kembali terpaksa terkuras sekitar Rp1 juta. Apes!

Belum cukup penderitaan sampai di sana, sebulan kemudian Bandung diguyur hujan lebat. Sangat lebat. Kecamatan Majalaya merupakan salah satu daerah langganan banjir di Bandung, tidak terkecuali pada saat itu. Sialnya, genangan banjir setinggi lutut orang dewasa menutupi jalan berlubang yang Saya lewati, dan Blass! Air masuk ke dalam mesin mobil diiringi dengan kepulan asap yang tersebar ke segala penjuru arah.

Cerita selanjutnya bisa diterka. Mobil mogok dan harus diderek ke bengkel. Tabungan kembali terkuras. Sekitar 1,5 bulan gaji kembali berpindah tangan kepada pemilik bengkel. Tragis! Uang yang telah Saya sisihkan sebagai tabungan mencicil rumah habis tidak berbekas. Tagihan kartu kredit membengkak untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena kondisi keuangan sudah memburuk, akhirnya dengan berat hati Saya menjual mobil tersebut untuk melunasi hutang kartu kredit yang sudah menumpuk sekaligus menyetop biaya perbaikan mobil yang tak henti-hentinya mengalir deras bak air terjun.

Rangkaian kejadian tersebut membuat Saya sadar akan pentingnya memiliki asuransi kendaraan. Seandainya pada waktu itu Saya terima ‘pinangan’ petugas asuransi, mungkin ceritanya akan berbeda. Saya tidak perlu menjual mobil dan sudah memiliki rumah mungil saat ini. Ah, pengalaman memang menjadi suatu pelajaran yang paling berharga untuk menata keuangan yang lebih baik di masa depan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x