Mohon tunggu...
Nita Juniarti
Nita Juniarti Mohon Tunggu... Seorang Perempuan

Penaruh mimpi di Altar-Nya

Selanjutnya

Tutup

Karir

Jurnalis Perempuan dan Liputan Lapangan

3 Oktober 2020   20:22 Diperbarui: 3 Oktober 2020   20:28 30 5 0 Mohon Tunggu...

"Tidak usah ikut ya, sudah malam dan hujan belum berhenti" ujar seorang rekan ketika akan liputan persoalan banjir.

"Tidak mungkinlah kami ajak semalam itu, sudah malam dan semuanya laki-laki" kata rekan lain saat ada agenda makan bersama dengan seluruh Jurnalis di kota kami

Barangkali hal ini tidak hanya terjadi pada saya yang baru seumur jagung berkecimpung di dunia media. 

Data Parlemen Uni Eropa tahun 2015 menunjukkan bahwa hanya 40% perempuan dipekerjakan di sektor media, penulis berita 37%, komentator media kurang dari 20%. Belum lagi membicarakan masalah kenaikan karir dan tunjangan.

Di Indonesia sendiri, berita-berita yang diangkat seolah-olah  menunjukkan bahwa perempuan adalah sumber segala bencana yang terjadi di dunia.

Tahun 2013 banyak sekali judul berita atau tagline yang diangkat di media seperti kopi pagi : korupsi dan wanita cantik (11 mei 2013, salah satu TV swasta), Wanita dan Skandal Fathanah (8 mei 2013) dan lain-lain.

Jika ditilik lagi ternyata sedikit sekali jurnalis perempuan yang terlibat aktif di lapangan karena berbagai hal.

Hal yang paling banyak adalah pengaruh eksternal semisal budaya yang membatasi, sedikitnya jumlah jurnalis perempuan, pemikiran masyarakat setempat dan hal lainnya.

Secara pribadi ketika liputan lapangan sering sekali mendapati diri menjadi takut secara mental, seolah-olah tidak ada pendukung, merasa terasing ketika betugas sendirian.

Memang pekerjaan menjadi jurnalis di lapangan dengan jumlah minoritas tidak mudah tapi bukan bearti tidak bisa.

Bukankah perempuan harus kuat untuk menguatkan perempuan lain dan memberitakan kebenaran untuk hal apapun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN