Mohon tunggu...
Khairunisa Maslichul
Khairunisa Maslichul Mohon Tunggu... Dosen - Profesional

Improve the reality, Lower the expectation, Bogor - Jakarta - Tangerang Twitter dan IG @nisamasan Facebook: Khairunisa Maslichul https://nisamasan.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Selain Mengurangi Oksigen, Plastik Juga Membuat Gemuk

3 Agustus 2019   14:51 Diperbarui: 3 Agustus 2019   15:03 165
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Selain membahayakan lingkungan, plastik juga menggemukkan badan anak dan remaja (Ilustrasi: sciencedaily.com)

Bakteri Prochlorococcus inilah yang menjadi sumber oksigen bagi ikan di lautan.  Masih dari hasil penelitian yang sama, polusi sampah plastik di lautan diprediksi jumlahnya melebihi populasi ikan pada tahun 2050.  Secara kesehatan maupun ekonomi, ikan laut bernilai gizi dan harga jual yang tinggi.

Kasihan nelayan lho, ke laut bukannya pulang membawa ikan untuk dijual dan dikonsumsi, tetapi malah mendapat plastik.  Asam lemak pada ikan air laut sangat penting untuk fungsi otak, terutama untuk tumbuh kembang anak.  Ikan laut pun tidak berpotensi membuat gemuk, seperti halnya daging merah. 

Parahnya, plastik ternyata tidak hanya mencemari daratan dan lautan.  Riset ilmiah terbaru lainnya juga mendapati plastik beresiko membuat anak obesitas. Kok bisa? Hasil survey ilmuwan kesehatan dari The Endocrine Society tersebut telah dimuat dalam Journal of the Endocrine Society pada Juli 2019.

Data US National Health and Nutrition Examination Surveys (Survei Gizi dan Kesehatan Nasional AS) tahun 2013-2016 menunjukkan adanya hubungan erat antara penggunaan plastik dengan tingkat obesitas pada anak dan remaja usia 6-19 tahun.  Penyebabnya yaitu dua jenis zat kimia spesifik pada plastik.

Botol maupun wadah plastik untuk makanan dan minuman banyak yang mengandung Bisphenol S (BPS) dan Bisphenol F (BPF).  Keduanya merupakan zat kimia pada plastik yang populer digunakan di Amerika Serikat untuk menggantikan Bisphenol A (BPA).  BPA dapat merusak fungsi endokrin dalam tubuh.

Dua zat kimia pada plastik terbukti membuat anak dan remaja di AS mengalami obesitas/kegemukan (Ilustrasi: edition.cnn.com)  
Dua zat kimia pada plastik terbukti membuat anak dan remaja di AS mengalami obesitas/kegemukan (Ilustrasi: edition.cnn.com)  

Para peneliti dari NYU School of Medicine di New York-Amerika Serikat tersebut mendapati anak-anak yang terpapar lebih banyak BPS dan BPF memiliki berat badan lebih besar daripada anak-anak yang lebih sedikit terpapar. Kadar BPS dan BPF pada tubuh para anak dan remaja didapatkan dari uji tes urin.

Riset yang didanai oleh National Institute of Environmental Health Sciences (Institut Ilmu-ilmu Kesehatan Lingkungan Nasional) itu mendapati anak-anak yang tergolong obesitas karena BPS dan BPF juga berperut buncit (abdominal obesity).  Fenomena itu terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan.

Penelitian serupa memang belum dilakukan di Indonesia.  Meskipun begitu, peluang hasil serupa, seperti halnya di Amerika, akan sangat tinggi.  Mayoritas anak dan remaja usia sekolah di Indonesia sering menghabiskan waktu mereka di luar rumah dengan makanan dan minuman kemasan berwadah plastik.

Obesitas pada anak dan remaja jelas berbahaya secara kesehatan maupun pergaulan.  Anak dan remaja obese akan rentan terserang penyakit degeneratif (stroke, hipertensi, diabetes, dan sebagainya) lebih awal daripada temannya yang berberat badan normal.  Angka usia harapan hidup pun berkurang.

Selain resiko penyakit, para anak dan remaja yang mengalami obesitas akan cenderung digoda (bullying) oleh lingkungan sekitarnya.  Efek bullying (perundungan) ini pun tak kalah bahayanya dari penyakit fisik.  Trauma psikologis bahkan dapat berdampak hingga kecenderungan untuk bunuh diri.   

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun