Khairunisa Maslichul
Khairunisa Maslichul Professional

Improve the reality, Lower the expectation, Twitter & IG @nisamasan Facebook: Khairunisa Maslichul https://nisamasan.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hadiah dari Ibu Buat Hidup Lebih Mudah dan Terarah

3 Januari 2018   22:08 Diperbarui: 3 Januari 2018   22:11 469 0 0
Hadiah dari Ibu Buat Hidup Lebih Mudah dan Terarah
Dompet hitam dan pink serta buku saku berisi kumpulan doa dan zikir menjadi hadiah dari Ibu yang senantiasa mengisi tas saya (Dokpri)

Bagi seorang anak, kebaikan ibu tak akan pernah bisa dibalas dengan harta sebanyak apapun.  Itu karena kasih sayang orangtua, terutama ibu memang sepanjang jalan alias tiada ujungnya.  Sejak buah hati masih dalam kandungan hingga sang anak juga sudah menjadi orang tua, limpahan cinta dan perhatian dari ayah dan bunda itu selalu diberikan tanpa ada habisnya.

Ibu saya termasuk tipe orang tua yang mewujudkan rasa kasih dan sayangnya dalam bentuk perhatian, terutama makanan.  Saat kecil dulu, Ibu rutin memasak makanan cemilan agar keempat buah hatinya tak sembarangan jajan di luar rumah.  Pastinya snackringan buatan Ibu itu lebih lezat dan bersih serta bisa disesuaikan dengan selera kami rasa maupun bentuknya.

Setelah saya bekerja kini pun dan tak tidak tinggal serumah lagi dengan orang tua, Ibu pasti bertanya, "Mau dimasakkan makanan apa nanti waktu pulang ke rumah?" Ibu saya hafal menu favorit dari setiap anaknya maupun makanan pantangan kami berempat.  Saat akan bepergian, Ibu sering membawakan kami bekal makanan yang kami sukai agar lebih hemat.

Seingat saya, Ibu jarang sekali memberikan hadiah berupa barang di luar makanan kepada saya dan ketiga adik saya.  Maklumlah, Ibu bukan wanita bekerja sehingga beliau sangat efisien dan efektif dalam mengatur uang belanja dalam keluarga.  Maka dari ibulah, saya belajar untuk selalu bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan serta hidup hemat sesuai prioritas.

Masakan Ibu yang lezat dan sehat selalu membuat kangen untuk pulang ke rumah (www.zazzle.com)
Masakan Ibu yang lezat dan sehat selalu membuat kangen untuk pulang ke rumah (www.zazzle.com)

Uniknya, setelah keempat anak Ibu dewasa dan sudah bekerja, Ibu malah sesekali memberikan kami hadiah berupa barang.  Sempat saya bertanya karena heran, "Ibu, kan sekarang kami sudah punya penghasilan sendiri.  Lalu kenapa Ibu malah sekarang membelikan kami kado?" Jawab Ibu sederhana, "Ya, supaya kalian semangat kerjanya dengan hadiah ini."

Ah, Ibu tersayang! Beliau memang tipe perempuan yang lebih mementingkan fungsi daripada gengsi.  Saya pun baru menyadari, hadiah yang diberikan Ibu setelah kami bekerja, khususnya saya, memang diberikan untuk menunjang kelancaran tugas profesional.  Ibu memberikan saya beberapa potong rok untuk bekerja ketika saya mulai mengajar di kampus.

Di lain waktu, Ibu menghadiahkan saya sebuah Al-Qur'an khusus wanita lengkap dengan tata cara membacanya yang sesuai kaidah ilmu tajwid.  Itu karena Ibu tahu ada pengajian rutin sebulan sekali di kampus yang khusus untuk para staf, dosen, dan mahasiswa.  Kata Ibu bijak, "Jadi lebih masuk ilmu ngajinya kalau membawa Al-Qur'an yang komplit dengan cara bacanya."

Sebagai alumni sekolah zaman old yaitu PGA (Pendidikan Guru Agama), Ibu senantiasa menekankan pentingnya belajar ilmu agama kepada saya dan ketiga adik laki-laki.  Menurut Ibu, "Saat hidup susah, dengan berpegang pada agama, InshaAllah, hidup akan terasa lebih mudah dan terarah."  Setiap hari, kami terbiasa untuk membaca Al-Qur'an meskipun hanya 1 lembar.

Ibu juga rutin menyediakan buah-buahan yang kaya vitamin dan mineral sebagai bekal buah hatinya di perjalanan (Dokpri)
Ibu juga rutin menyediakan buah-buahan yang kaya vitamin dan mineral sebagai bekal buah hatinya di perjalanan (Dokpri)

Ibu juga selalu mengingatkan saya untuk menyempatkan diri sejenak membaca zikir seusai sholat 5 waktu.  "Kalau diburu waktu seusai sholat, minimal rutin 2x zikir setiap hari, di pagi dan sore hari agar hati tetap tenang," ujar Ibu.  Tak sekedar mengingatkan, Ibu langsung membelikan saya buku saku berisi kumpulan doa pendek dari Al-Qur'an untuk zikir pagi dan petang.

Maka, selain dompet dan HP serta payung sebagai warga Kota "Hujan" Bogor, buku saku berisi zikir pagi dan petang dari Ibu itu selalu menjadi pengisi tas saya saat bepergian.  Kalau tak sempat membaca seusai sholat di kamar, saya pun membacanya di kendaraan dengan waktu baca sekitar 10 menit.  Kalau belum membacanya, seperti ada yang kurang lengkap di hari itu.

Ibu juga ternyata jeli melihat jenis barang yang rutin saya bawa tiap kali akan keluar rumah, terutama dompet.  Sadar bahwa putri satu-satunya juga tak (terlalu) feminin seperti halnya beliau, maka dompet kulit hitam polos dengan banyak kantong untuk menyimpan kartu pun diberikannya untuk saya.  Tahun ini, dompet dari Ibu sudah berusia lebih dari 10 tahun!

Syukur Alhamdhulillah, dompet hitam dari Ibu itu masih awet dan layak pakai.  Sakingnyamannya dompet dari Ibu itu, saya pun tak tergoda untuk menggantinya dengan dompet baru yang lebih modis dan kekinian.  Kalau pun nanti dompet itu sudah waktunya "dimuseumkan", saya akan tetap menyimpannya sebagai salah satu kenang-kenangan terindah dari Ibu tercinta.

Kasih sayang abadi bunda membuat buah hatinya bisa tertawa bahagia (www.pixabay.com))
Kasih sayang abadi bunda membuat buah hatinya bisa tertawa bahagia (www.pixabay.com))

Nah, belum lama ini, tepatnya setelah libur Lebaran 2017 lalu, Ibu mencermati bahwa saya menyimpan smartphone dan dompet di tempat yang terpisah.  "Lha,apa ndak repot itu kalau sedang buru-buru mencarinya di tas?" tanya Ibu ketika melihat saya sedang berkemas sebelum berangkat kerja dari rumah saat masih Ramadan.  "Ini sudah biasa, Bu," jawab saya santai.

Siapa sangka, saat pulang lagi ke rumah untuk libur Idul Fitri 6 bulan lalu, Ibu menyodorkan sebuah dompet besar berwarna merah jambu.  "Dompet yang lama dari Ibu ini masih bagus kok," ujar saya karena bingung ketika meletakkannya di pangkuan saya.  "Begini lho cara pakainya," sahut Ibu sambil memasukkan smartphone saya plus dompet hitam ke dalamnya.

"Kalau begini kan, praktis jadinya waktu buru-buru nyari.  HP dan dompetmu sudah bisa disimpan dalam satu tempat," kata Ibu sambil menutup dompet pink itu.  Spontan, saya hanya bisa speechless setelah tahu fungsi penting pada hadiah dari Ibu yang (seolah) nampak sederhana itu.  Perhatian Ibu hingga detil sekecil itu selalu sukses membuat saya merasa terharu.

Memang sempat ada masanya saya iri melihat teman-teman lain, khususnya sesama wanita, yang bisa lebih ekspresif menunjukkan kedekatan dengan ibu mereka.  Ibu saya bukanlah perempuan yang mudah menunjukkan perasaan hatinya.  Malah bisa dibilang, Bapak saya jauh lebih ekpresif dan humoris dalam berinteraksi dengan saya maupun ketiga anak laki-lakinya.

Namun, seiring bertambah dewasanya usia, saya semakin menyadari, Ibu telah memiliki caranya sendiri yang unik dan khas dalam mengungkapkan rasa cinta beliau kepada saya dan adik-adik.  Ibu selalu memastikan bahwa keempat buah hatinya dalam keadaan baik-baik saja dengan cara memperhatikan kegiatan kami, termasuk kebutuhan kami sehari-hari.  So sweet!

Akhir tahun ini, saya kembali merasakan kasih Ibu yang abadi.  Kami sekeluarga mendatangi saudara yang menikah di Jawa.  Pagi hari sebelum akad nikah, saya hanya sempat memakan cemilan.  Tahu-tahu Ibu mendekati saya sambil membawa sekotak nasi plus ayam goreng.  "Sarapan dulu supaya kuat.  Acaranya hari ini sampai siang lho," kata beliau lembut.

Lagi-lagi, saya hanya bisa terharu sekaligus bersyukur.  Wajarlah sosok ibu dianggap sebagai malaikat tanpa sayap di dunia ini.  Kehadiran seorang ibu jelas membawa rasa aman dan nyaman bagi seisi keluarga.  Selamat Hari Ibu ya, Bu.  Terima kasih untuk semua hadiah Ibu yang sederhana namun sangat bermakna dan penuh cinta.  I love you always and forever, Mom.