Mohon tunggu...
Ninoy N Karundeng
Ninoy N Karundeng Mohon Tunggu... Operator - Seorang penulis yang menulis untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya Induk Kata-kata". Membantu memahami kehidupan dengan sederhana untuk kebahagian manusia ...

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

ISIS Lahir: Skenario Gagal Barat dan Israel Lahirkan Tragedi Kemanusiaan dan Bumerang

13 September 2015   14:06 Diperbarui: 13 September 2015   14:11 5404
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Kekejaman ISIS I Sumber abcnews.go.com"][/caption]

Intelejen Barat dan Israel telah melakukan kesalahan dan kegagalan. Skenario menghancurkan Presiden Assad gagal membuahkan hasil. Lahirnya ISIS tidak diprediksi sama sekali oleh Mossad dan CIA. Laporan terakhir intelejen Barat dan CIA yang menyebutkan Syria dan Iraq akan menjadi negara gagal pun sangat mencengangkan. Intelejen Barat dan Mossad gagal menghasilkan analisis intelejen yang komprehensif dan benar. Hasilnya perkembangan baru di Timur Tengah justru mengancam eksistensi Israel sebagai negara. Mari kita tengok strategi gagal Barat, CIA dan Mossad dalam melakukan reorganisasi kekuatan di Timur Tengah dengan hati gembira ria senang sentosa suka-cita tertawa bahagia riang selamanya senantiasa.

Awal gerakan Arab Springs tahun 2010 bertujuan untuk menyeimbangkan kekuatan di Timur Tengah dan Afrika Utara. Al Qaeda yang kuat di berbagai negara Afrika Utara dan Barat serta Timur Tengah menjadi ancaman jangka panjang bagi Israel. Amerika Serikat dan Eropa Barat serta Turki khawatir kekuatan Liga Arab akan menjadi ancaman serius. Apalagi Iran memiliki pengaruh kuat di Lebanon, Iraq Baru, Kurdi dan Syria.

Untuk mencegah gangguan keamanan dan keberlangsungan Negara Israel, maka Amerika Serikat dan Barat berusaha melemahkan Syria. Dalam pandangan awal strategi Amerika dan Barat, Syria akan diserahkan kepada para pemberontak nasionalis. Maka dibentuklah kelompok pemerintahan peralihan Syria yang diplot oleh Eropa dan Amerika Serikat. Namanya pun mentereng: pemerintahan Syria di pengasingan.

Eropa dan Amerika Serikat melupakan dan menganggap Presiden Assad sebagai ayam sayur yang mudah dipatahkan. Upaya menghancurkan Syria secara permanen dengan menyingkirkan Presiden Assad ternyata tidaklah mudah. Dukungan Russia dan Tiongkok kepada Presiden Assad karena banyaknya warga keturunan Russia di Syria menjadi hal yang tak diperhitungkan oleh Barat dan Amerika Serikat. Russia sampai saat ini masih memberikan dukungan kepada Assad.

Dan … di tengah keruntuhan negara Syria yang terkoyak, Presiden Syria masih berkuasa dan masih mendapatkan dukungan dari klan dan suku-suku Sunni pendukung pemerintah. Kejatuhan Assad juga berarti akan terjadi pembantaian etnis atau suku yang puluhan tahun mendukung Hafez Al Assad – ayah Bashar Al Assad. Maka tak mengherankan Assad masih berkuasa di pesisiran berbatasan dengan laut Mediterania.

Para intelejen Amerika Serikat (CIA) dan Barat serta Israel (Mossad) – yang ingin kerapuhan dan Syria lemah sehingga Dataran Tinggi Golan yang diduduki oleh Israel tidak terusik – gagal melakukan operasi intelejen. Yang menjadi fokus utama selalu Al Qaeda yang di beberapa negara hanya mitos yang diciptakan oleh Amerika Serikat, seperti misalnya Afghanistan dan Iraq. Munculnya Al Qaeda di Iraq dan Afghanistan karena invasi Amerika Serikat di Iraq dan Afghanistan. Fokus dan kegagalan menelaah dan operasi intelejen mereka menghasilkan perkembangan yang justru merugikan Eropa dan Amerika Serikat.

Kegagalan itu menjadi ancaman dan mendekatkan pada dihapusnya Israel dan Arab Saudi serta Iraq dan Syria dari peta wilayah negara di dunia. Iraq dan Syria akan menjadi negara kecil – sementara wilayah luas menjadi bagian dari de facto wilayah konflik tak bertuan yang memang menjadi second scenario demi kepentingan eksistensi Israel di Timur Tengah. Dapat dipastikan Iraq dan Syria akan terpecah dan tak akan dapat disatukan lagi – dengan ISIS menjadi peliharaan konflik Timur Tengah.

Eropa dan Amerika tidak menghitung tragedi kemanusiaan di Libya, Nigeria, Ethiopia, Somalia, Syria, Iraq, dan Kurdi akan menguras tenaga bagi Turki dan beberapa negara lain termasuk Yordania, Lebanon, dan Mesir. Israel tidak menampung pengungsi dan menutup rapat perbatasan sama persis dengan Arab Saudi yang tidak peduli dengan para pengungsi.

Kini, gelombang pengungsi dan migran manusia perahu bergerak menuju ke Eropa melalui laut Mediterania menuju ke Italia, Malta, dan Yunani. Lewat perbatasan Turki gelombang manusia perahu dan darat menuju ke Eropa Barat. Tragedi tewasnya 250,000 nyawa di Syria dan lebih dari 1 juta warga Iraq dan Kurdi di Iraq dan Turki telah menyebabkan membanjiranya pengungsi ke Barat. Selain itu terdapat lebih dari 6 juta pengungsi di Lebanon, Turki, dan Yordania sejak tahun 2011.

Kegagalan intelejen CIA, Mossad dan Barat dalam merancang kerusuhan di Timur Tengah justru akan membuat Eropa Barat terguncang. Isu HAM menjadi beban berat bagi Eropa untuk memaksa mereka menerima pengungsi. Jerman dan Prancis memimpin Eropa Barat untuk menerima pengungsi. Inggris ketakutan dan hanya akan menerika 20,000 pengungsi dalam 5 tahun. Sementara Jerman telah menerima sebanyak 800,000 pengungsi tahun ini, dan akan menerima lebih banyak lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun