Mohon tunggu...
Nikolaus Anggal
Nikolaus Anggal Mohon Tunggu... Dosen - Hidup adalah perjuangan

Hidup adalah perjuangan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Buah Simalakama Transfigurasi Pendidikan Masa Pandemi COVID-19

3 Juni 2020   15:38 Diperbarui: 3 Juni 2020   17:46 243
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sementara itu, perusahaan riset pasar Ipsos MORI mengungkap kekhawatiran orang tua lewat jajak pendapat daring yang melibatkan 1.066 responden. Sebanyak 48 persen orang tua di Inggris mengaku tidak nyaman mengirim anak kembali ke sekolah usai pandemi. Sebanyak 41 persen lainnya sangat nyaman atau cukup nyaman dengan kembalinya anak-anak mereka ke sekolah. Jajak pendapat juga mengungkap tanggapan orang-orang mengenai fase selanjutnya pembatasan sosial di Inggris. Salah satu opsi yang didiskusikan pemerintah adalah konsep "gelembung sosial" yang memungkinkan orang-orang bertemu dengan kelompok kecil lain di luar rumah. Sebanyak 62 persen responden mengaku senang dengan kemungkinan tersebut. Namun, banyak orang yang masih enggan terlibat aktivitas yang melibatkan banyak orang kalaupun corona sudah usai. Sebanyak 67 persen responden tidak nyaman dan ingin menghindari keramaian, juga acara musik dan pertandingan olahraga. 

Ipsos MORI menyimpulkan, mayoritas responden sangat ingin berjumpa orang-orang terdekat. Namun, mereka belum nyaman melanjutkan kehidupan sehari-hari, terutama jika berhubungan dengan banyak orang, dikutip dari laman Grimsby Telegraph. 

Berdasarkan hasil sementara kuesioner yang dibuat Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti secara pribadi menunjukkan sekitar 80 persen orang tua tidak setuju jika sekolah dibuka pada 13 Juli 2020. Sedangkan 80 persen siswa dan 60 persen guru, setuju sekolah dibuka. Kuesioner yang disebar selama 32 jam ini, saat ditutup pada Kamis (28/5/2020) pukul 7.30 WIB, telah diisi oleh 9.643 siswa, 18.112 guru dan 18.112 orang tua. Retno berharap data hasil kuesioner ini dapat ditindaklanjuti pemerintah dalam mengambil kebijakan. “Kalau anak-anak memang sudah kangen dengan temannya dan lebih senang belajar di sekolah dengan alasan tertentu. Kalau orang tua menolak karena takut anaknya tertular. Jadi mereka ngusulin-nya, kapan sekolah dibuka. Mayoritas orang tua mengusulkan Januari,” jelas Retno Listyarti kepada VOA, Jumat (29/5). Hasil Kuesioner ini tidak serta merta menjadi panduan kebijakan untuk mengembalikan siswa dan guru ke dalam lingkungan sekolah. Dasar dan landasan untuk mengembalikan siswa dan guru kedalam lingkungan sekolah adalah perkembangan penyebaran Covid-19. 

Berdasarkan riset dan survey tentang kecemasan orang pada umumnya termasuk kecemasan orang tua terhadap anaknya menjelalang transfigurasi pendidikan di rumah melalui melalui media online menuju ke normalisasi pendidikan di sekolah merupakan hal yang wajar. Karena orang tua saja kurang disiplin dan kurang konsisten melaksanakan partokol kesehatan sebagaimana yang dicanangkan pemerintah apalagi anak kecil sulit dikendalikan. Hal ini menjadi kesulitan tersendiri bagi pendidik/guru untuk menegakan partokol kesehatan sebagamana yang dicanagkan pemerintah. 

Kebijakan partokol kesehatan yang dicanangkan pemerintah sudah sangat tepat.  Hal ini tentu saja membutuhkan kedisiplinan semua pihak untuk menegakannya termasuk peranan Orangtua, Sekolah dan Guru dalam melaksanakan partokol kesehatan tersebut demi mensukseskan Pendidikan.

"Rencana sekolah harus dirancang sedemikian rupa untuk meminimalisir kendala aktivitas belajar dan mengajar serta untuk melindungi siswa dan staf dari penyebaran virus corona. "Rencana dapat dibangun berdasarkan praktik sehari-hari yang mencakup strategi sebelum, selama, dan setelah wabah berakhir."  Membawa anak-anak kembali ke ruang kelas mungkin tampak seperti langkah menuju keadaan normal setelah berminggu-minggu lockdown akibat virus korona. Namun beberapa orang tua masih memiliki kecemasan untuk merelakan anaknya bertemu dengan orang lain. 


Ketakutan atau kecemasan  orang tua semacam ini perlu dipertimbangkan pemerintah sebelum mengambil kebijakan. Meskipun tidak diketahui berapa banyak orang tua mengalami kekhawatiran. Ahli epidemiologi matematika dari Bruno Kessler Foundation Italia, Marco Ajelli mengatakan, kemampuan anak-anak untuk menginfeksi orang lain perlu diteliti lebih lanjut. Hal ini berangkat dari masih banyak rahasia tentang virus korona. Virolog Ian MacKay dari University of Queensland mengatakan keputusan untuk mengirim anak ke sekolah memang sulit. "Jika kita benar-benar serius ingin meratakan kurva [penyebaran virus] kita harus memikirkan kemungkinan menutup sekolah," katanya. 

Orang tua tidak kwatir atau cemas  mengizinkan kembali sekolah jika situasi corona di lingkungannya mereda. Tentu hal ini mengingatkan protokol kesehatan di sekolah juga harus diperketat. "Sekolah atau pemerintah mungkin harus nyediain untuk [rapid] tes. Mau nggak mau lah harus korban uang pemerintah," tuturnya. Pihak sekolah, juga harus memantau ketat orang yang keluar-masuk sekolah. Pantauan tersebut termasuk kepada siswa, pendidik, penjual makanan di kantin sampai tamu. "Harus disediakan alat cek suhu, masker buat cuci tangan mereka masuk. Pemerintah harus siapkan, karena sekolah pasti butuh. Mendikbud Nadiem Makarim pun menekankan keputusan ini ada di tangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Pihaknya hanya jadi eksekutor dalam penerapan kebijakan tersebut. Namun, pihak jajaran Kemdikbud sendiri dikabarkan sudah menyiapkan protokol untuk mengantisipasi masuknya para siswa ke sekolah pada era "New Normal". Kebijakan tersebut di antaranya adalah dengan melonggarkan jarak antar siswa, kelas belajar satu orang satu meja, serta penggunaan masker dan sejenisnya. Termasuk memperketat pengontrolan terhadap siswa ketika istrahat. Hal ini bukan pekerjaan mudah bagi sekolah. Mulai dari kepala sekolah sampai satpam kalau mau berjalan lancar sebagaimana diharapkan harus bekerja disiplin dan konsisten melaksanakannya dalam realitas kehidupan harian sekolah sehingga siswa dan staf pengajar terhindar dari penyebaran Covid-19. Dengan demikian maka tarnsfigurasi pendidikan dari rumah saja melalui daring menuju normalisasi pendidikan dengan mengembalikan siswa dan guru ke dalam lingkungan sekolah dengan menerapkan prinsip New Normal tidak menimbuklan problematika  bagi orang tua murid. pada masa pandemi Covid-19 ini.

 

 

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun