Mohon tunggu...
Neno Anderias Salukh
Neno Anderias Salukh Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pegiat Budaya | Pekerja Sosial | Pengawas Pemilu

Orang biasa yang menulis hal-hal biasa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Inikah Alasan Jokowi Menumpuk Milenial di SKP Bukan Menteri?

22 November 2019   11:29 Diperbarui: 22 November 2019   11:40 861
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Disisi lain, tidak sedikit juga yang mendukung kaum milenial menguasai kabinet. Mereka percaya bahwa di tangan milenial, ada perubahan dalam birokrasi dan sebagainya, terutama program-program yang berpihak pada rakyat.

Dengan semangat muda, kaum milenial dipercaya mengatasi minimnya pengalaman yang ada dalam diri mereka sehingga keraguan yang datang dari beberapa tokoh politik dan masyarakat tidak akan terjadi.

Bagi penulis, Jokowi mempertimbangkan hal ini secara matang. Ia pernah mengatakan bahwa pengalaman itu sangat penting dalam sebuah kepemimpinan.

"Saya cerita sedikit, betapa pentingnya pengalaman dari sebuah kepemimpinan. Pengalaman penting itu adalah memimpin keluarga. Semua kepemimpinan harus dimulai dari bagaimana kita kelola dan manage keluarga. Nah urusan ini saya punya pengalaman," ungkap Jokowi

Hal ini tidak berarti milenial seperti staf khusus yang telah dipilih oleh Jokowi tidak memiliki pengalaman kepemimpinan dan pengalaman kerja. Di bagian awal artikel ini kita sudah tahu pengalaman mereka mendirikan yayasan, pengalaman berorganisasi, mendirikan perusahaan sturup dan sebagainya. Saya kira cukup untuk duduk di kabinet.

Akan tetapi, menjadi menteri sangatlah tidak mudah, mengurus jutaan orang Indonesia adalah hal yang gampang-gampang sulit. Ini bidang pemerintahan yang membutuhkan pengalaman yang lebih banyak dan lebih lama meskipun hanya berkecimpung di dunia marketing dan properti.

Nadim Makarim, bagi beberapa orang, keputusan Jokowi yang sangat sulit meski ia sudah sukses bersama Go-jeknya. Jokowi hanya percaya bahwa Nadim Makarim bisa melakukannya dengan ilmu brilian yang ia miliki. Nadim sendiri mengaku akan mengunakan waktu 100 hari pertama untuk mendengar dan belajar dari orang-orang yang sudah ada di kementerian yang ia pimpin.

Angela Tanoesoedibjo dikasih kesempatan sebagai Wamen untuk belajar tentang dunia pemerintahan.

Tentunya, Jokowi dan kita semua tidak menginginkan semua menteri atau sebagian besar dari mereka memulai dari nol. Akan tetapi, Jokowi percaya dan menjadikan Nadim Makarim sebagai percobaan karena dalam sejarah Indonesia tidak pernah ada yang melakukannya. Jika percobaan ini sukses, kedepannya pemerintahan harus dikuasai oleh anak muda untuk negara yang lebih baik.

Jokowi memilih menumpuk milenial di Staf Khusus Kepresidenan ada maksud tersendiri. Ia ingin pengalaman di dunia pemerintahan lebih banyak sehingga mereka disiapkan untuk masa depan.

Siapa tahu mereka akan menjadi menteri atau presiden pada waktu-waktu berikutnya? Ini modal utama yang ditanamkan oleh Jokowi untuk generasi muda sehingga kedepannya tidak ada keraguan dari masyarakat dan siapapun itu jika anak muda diberikan kesempatan menguasai pemerintahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun