Mohon tunggu...
Nasywa Ibtisamah
Nasywa Ibtisamah Mohon Tunggu...

mahasiswa berjuta asa medium.com/@opininasywa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Renjana untuk Kembali

23 November 2018   23:30 Diperbarui: 23 November 2018   23:51 0 2 0 Mohon Tunggu...
Renjana untuk Kembali
ilustrasi-camping-5bf82fb7c112fe27cd6292c4.jpg

Camping di Hutan. (Sumber: Freepik)

"Prit. Prit. Prit. Priit. Priit. Priit. Prit. Prit. Prit."

Kami menoleh ke semak belukar di belakang minibus.

"FRED!" Teriakku.

Kakiku hampir saja berlari untuk menghampiri sumber suara. Namun, aku berbalik dan membungkukkan badan pada keluarga kecil yang ikut dalam rombongan.

"Lukman, bolehkah aku memintamu untuk menengok Fred? Dia meniup peluit sebanyak 9 kali, tanda bahaya."
"Oke, aku butuh satu orang lagi untuk menemaniku."
Aku menyisir wajah-wajah yang mulai frustasi.

"Aku bisa menemanimu, sayang." Prita bersuara lirih.

"Mama, mau kemana? Please, jangan tinggalin Kevin."

"Kevin, Mama mau menemani Papa sebentar."
"No! Kevin takut Ma disini."
Dengan menyeret kaki, Anggi menghampiri Kevin. Ia duduk di sebelah Kevin sambil menyodorkan benda berbentuk persegi panjang.

"Hey bro, mau coklat? Kau boleh melihat foto pada kameraku, kalau kau mengizinkan Mama dan Papamu pergi sebentar. Gimana?"

Kevin terdiam. Ia melihat kedua orang tuanya bergantian.

"Nggak! Kevin pilih Mama."

"Bagaimana kalau aku memfotomu? Mumpung background-nya sedang bagus. Kamu bisa memamerkan foto-fotomu ke teman sekolah."
"Foto dan coklat?"

Anggi mengangguk.

"Baiklah. Mama, jangan lama-lama ya!"

Kevin melepas genggaman tangannya.

"Ini, bawalah ponselku istriku. Hubungi secepatnya jika terjadi apa-apa. Berikan obat asma ini pada Kevin jika ia mulai sesak. Dia sudah tahu cara pakainya" Ucap Lukman sembari memberikan ponsel dan inhaler padaku.

"Hati-hati. Berteriaklah agar Fred mengetahui posisi kalian."

Camping di Hutan. (Sumber: Freepik)

"Prit. Prit. Prit. Priit. Priit. Priit. Prit. Prit. Prit."

Kami menoleh ke semak belukar di belakang minibus.

"FRED!" Teriakku.

Kakiku hampir saja berlari untuk menghampiri sumber suara. Namun, aku berbalik dan membungkukkan badan pada keluarga kecil yang ikut dalam rombongan.

"Lukman, bolehkah aku memintamu untuk menengok Fred? Dia meniup peluit sebanyak 9 kali, tanda bahaya."
"Oke, aku butuh satu orang lagi untuk menemaniku."
Aku menyisir wajah-wajah yang mulai frustasi.

"Aku bisa menemanimu, sayang." Prita bersuara lirih.

"Mama, mau kemana? Please, jangan tinggalin Kevin."

"Kevin, Mama mau menemani Papa sebentar."
"No! Kevin takut Ma disini."
Dengan menyeret kaki, Anggi menghampiri Kevin. Ia duduk di sebelah Kevin sambil menyodorkan benda berbentuk persegi panjang.

"Hey bro, mau coklat? Kau boleh melihat foto pada kameraku, kalau kau mengizinkan Mama dan Papamu pergi sebentar. Gimana?"

Kevin terdiam. Ia melihat kedua orang tuanya bergantian.

"Nggak! Kevin pilih Mama."

"Bagaimana kalau aku memfotomu? Mumpung background-nya sedang bagus. Kamu bisa memamerkan foto-fotomu ke teman sekolah."
"Foto dan coklat?"

Anggi mengangguk.

"Baiklah. Mama, jangan lama-lama ya!"

Kevin melepas genggaman tangannya.

"Ini, bawalah ponselku istriku. Hubungi secepatnya jika terjadi apa-apa. Berikan obat asma ini pada Kevin jika ia mulai sesak. Dia sudah tahu cara pakainya" Ucap Lukman sembari memberikan ponsel dan inhaler padaku.

"Hati-hati. Berteriaklah agar Fred mengetahui posisi kalian."

Lukman dan Prita mengangguk, dan tak lama kemudian hilang di gelapnya hutan. Aku menyalakan hp, masih ada 20 menit sebelum matahari benar-benar terbenam. Tiba-tiba sebuah cahaya berbentuk lingkaran menghampiri kami. Tak salah lagi, dia adalah Kenny, si penjaga hutan konservasi.

"Siapa yang akan kubawa?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4