Mohon tunggu...
M. Nasir
M. Nasir Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pegiat Lingkungan Hidup

Hak Atas Lingkungan merupakan Hak Asasi Manusia. Tidak ada alasan pembenaran untuk merampas/menghilangkan/mengurangi hak tersebut.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Pohon Terakhir

25 November 2023   18:08 Diperbarui: 25 November 2023   18:11 61
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi (foto: iStock)

Ini cerita tentang seorang anak mencari pohon terakhir di muka bumi. Anak ini berangkat dari sebuah kota yang berada di pelosok Indonesia. Tepatnya pada tanggal 1 Januari tahun 2123.

Di tahun itu, semua daratan bumi telah menjadi perkotaan megah, juga banyak reklamasi di laut untuk dibangun kota baru. Banyak gedung pencakar langit, tidak ada lagi ruang kosong yang dapat ditumbuhi pohon. Semuanya telah terisi bangunan konstruksi beton.

Dimuka bumi hanya terdapat sepetak tanah yang tumbuh sebatang pohon, itulah pohon Terakhir di muka bumi.

Anak tadi berawal dari rasa penasaran untuk melihat langsung sebatang pohon. Karena selama ini dia hanya melihat pohon di buku bacaan dan cerita orang orang. Bahwa pohon itu punya akar, bercabang, punya ranting, berdaun, dan sebagiannya punya buah.

Berawal dari itu, berbekal uang hasil tabungan dia berangkatlah ke negeri dimana pohon terakhir itu berada. Karena kecanggihan teknologi, dia hanya membutuhkan waktu satu jam sampai ke daerah tersebut.

Beda dengan kemajuan teknologi pada tahun 2023 yang butuh waktu berhari-hari untuk mengelilingi bumi, katanya. Sedangkan di tahun 2123, alat transportasi semuanya menggunakan transportasi udara, termasuk sepeda dayung tidak lagi di dayung dijalan, tapi sudah bisa terbang.

Sesampainya ke negeri dimana pohon terakhir berada. Anak ini melihat pemandangan lautan manusia yang jumlahnya jutaan banyak. Semua orang itu berada dalam antrian hanya untuk melihat pohon terakhir. Termasuk anak tadi, dia juga harus bertahan pada nomor antrian diangka jutaan.

"Ternyata tidak hanya dia, tapi jutaan orang dimuka bumi juga penasaran melihat pohon terakhir", katanya.

Panitia penjaga pohon terakhir hanya memberikan waktu per orang satu menit berada di pohon terakhir. Waktu sesingkat itu dimanfaatkan untuk memeluk pohoh, meraba setiap ruas kulit pohon, dan berfoto ria dengan pohon terakhir.

Begitu sampai jatah antrian, anak tadi tidak membuang buang waktu langsung memeluk pohoh terakhir itu. Dia perhatian dengan bagaimana bentuk kulit, cabang, ranting, dan daun dari pohon itu. Dia hubungkan dengan informasi yang pernah dia baca dan lihat dalam buku. Bahwa benar, pohon itu ada akarnya, berkulit, punya cabang, ranting, dan berdaun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun