Mohon tunggu...
Nana Marcecilia
Nana Marcecilia Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - Menikmati berjalannya waktu

Mengekspresikan hati dan pikiran melalui tulisan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menggelorakan Semangat Generasi Milenial dalam Melestarikan Budaya

16 Mei 2021   22:12 Diperbarui: 16 Mei 2021   22:17 462
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dewa Budjana dalam Orkestra Sound of Borobudur | Foto Tirto.id

Orkestra Sound of Borobudur hadir dengan memberikan suasana kejayaan masa lampau. Replika alat-alat musik yang ada dalam relief Candi Borobudur dihadirkan dan dimainkan menjadi lantunan lagu yang begitu menghentakkan semangat dan membawa kita untuk merasakan secara langsung nuansa Candi Borobudur pada masanya.

Ketika saya mendengar lantunan lagu Jataka, Lan E Tuyang dan Indonesia Pusaka yang dimainkan dengan alat musik replika relief Candi Borobudur, bulu kuduk saya merinding bangga, sekaligus ada rasa haru tersemat dalam dada. 

Perasaan tersebut seakan membawa saya merasakan langsung kejayaan saat masa Dinasti Syailendra berdiri tidak sekedar isapan jempol belaka. Kita akan merasakan bahwa dalam darah kita mengalir darah nenek moyang yang memiliki cita rasa seni yang tinggi dan berbudaya. Bukan semata orang bodoh yang sempat didoktrin pada masa penjajahan.

Rasa bangga dan haru semakin membuncah, ketika musisi senior seperti Trie Utami, Dewa Budjana dan Purwatjaraka menjelaskan tentang alat-alat musik yang ada dalam relief Candi Borobudur tersebar diseluruh Indonesia dan manca negara. Hal tersebut mengindikasikan bisa jadi Candi Borobudur dulunya merupakan pusat musik dunia. Penelitian yang dilakukan selama 5 tahun membuat mereka menyadari bahwa dulunya sepertinya Candi Borobudur pernah diadakan konser musik yang besar. 

Penelitian dilakukan tentu sesuai fakta dan jauh dari angan belaka mengingat Candi Borobudur selesai dibangun pada tahun 825 Masehi pada masa pemerintahan Raja Samaratungga, pembangunannya memakan waktu sekitar 75-100 tahun lebih.

Relief yang terpahat dalam Candi Borobudur menceritakan tentang kehidupan yang telah terjadi, dan kebajikan dalam menjalani kehidupan. Alat-alat musik yang terpahat dalam relief Candi Borobudur bisa jadi dipahat bukan berdasarkan angan pemahatnya, tapi memang alat musik tersebut sudah ada dalam dunia nyata.

Visi misi orkestra Sound of Borobudur untuk menemukan jati diri bangsa, mengenali kebesaran peradaban masa lampau, sepertinya sejalan dengan keinginan generasi milenial untuk melestarikan budaya bangsanya. Para muda-mudi Indonesia membutuhkan suasana dan nuansanya sehingga bisa semakin menjiwai dan memahami budaya negeri ini.

Bagai prajurit yang berperang, disemangati dengan tabuhan gendang, melestarikan budaya negeri pada masa arus globalisasi yang kuat tentu tidaklah mudah. Budaya luar terus saja berdatangan, tanpa bisa diakulturasi terlebih dahulu. 

Namun dengan adanya live action relief Candi Borobudur, yang ditampilkan dan dikumandangkan oleh orkestra Sound of Borobudur, tidak menutup kemungkinan generasi milenial akan semakin bersemangat mengenal lebih dalam tentang budayanya, kemudian melestarikan, sekaligus melakukan improvisasi, meyesuaikan diri dengan zamannya, agar budaya negeri kita akan terus eksis bertahun-tahun mendatang. 

Budaya Indonesia tidak semata budaya tradisional yang kampungan, melainkan budaya yang mengedepankan akal, budi dan seni. Tidak sedikit orang dari negara luar yang sangat mengapresiasi budaya negeri kita dan tidak segan mempelajari lebih dalam. Ketika mereka mengenalnya, rasa cinta pada budaya negeri kita sangatlah besar. Kita, orang Indonesia, tentu akan lebih berbangga hati untuk mempelajari dan melestarikannya, apalagi dalam darah kita sudah mengalir darah nenek moyang yang berbudaya tinggi. 

Kehadiran Orkestra Sound of Borobudur terasa seperti menggelorakan semangat generasi milenial untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun