Mohon tunggu...
Namira Aminatuzahra
Namira Aminatuzahra Mohon Tunggu... Mahasiswi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga (20107030040)

Beginner

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Toxic Positivity: Ketika Kita Dituntut untuk Selalu Baik-Baik Saja

17 Maret 2021   22:40 Diperbarui: 17 Maret 2021   23:00 154 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Toxic Positivity: Ketika Kita Dituntut untuk Selalu Baik-Baik Saja
https://dailycampus.com/

Sebagai teman, apa sih yang akan kamu lakukan ketika ada temanmu bercerita mengenai masalahnya? Respons seperti apa yang akan kamu berikan? Mungkin beberapa dari tanggapanmu akan seperti “ tetap semangat dong” atau “yaelah masih gitu doang juga” atau malah “halah, itu mah belum seberapa, aku lebih parah…” hmm, menurut kamu nih respons yang semacam itu tepat nggak sih atau justru sebaliknya? Dan buat kamu yang mempunyai masalah, apakah jawaban seperti itu justru bikin kamu kesal dan kecewa? 

Memang, jawaban positif yang kamu berikan tidak selalu menjadikan situasi juga ikut membaik,karena nyatanya tidak semua orang bisa menerima kalimat positif sebagai suatu hal yang positif. Memberi semangat atau saran yang positif juga tidak sepenuhnya salah, tapii.. pastikan kamu harus tahu betul mengenai pokok permasalahan lawan bicaramu dan tidak asal memotong pembicaraannya. 

Parahnya lagi nih, toxic positivity ini tidak hanya datang dari orang lain yang dekat dengan kita, tetapi bisa saja muncul dalam bentuk percakapan dengan diri sendiri lewat selftalk. Nah, buat kamu yang penasaran apa sih sebenarnya toxic positivity itu? apakah kamu termasuk orang dalam kategori “toxic positivity”?

Apa Itu Toxic Positivity?

Jadi, maksud dari toxic positivity adalah mengovergeneralisasikan keadaan bahagia dan optimis dalam semua situasi kehidupan secara tidak efektif, yang bertujuan untuk menyangkal atau meniadakan penderitaan dan emosi lawan bicara, dengan harapan ia menjadi positif. Sederhananya, toxic positivity ini diartikan sebagai keyakinan untuk mempertahankan pola pikir positif tidak peduli seberapa mengerikan atau sulitnya suatu situasi.

Positivity sendiri juga sering dianggap sebagai salah satu jalan menuju kebahagiaan yang diidam-idamkan seseorang. Di mana kamu selalu melihat suatu kondisi dari sisi positifnya dan berusaha menyangkal pikiran negatif yang ada di dalam dirimu. Padahal, orang yang kelihatannya bahagia pun tidak menjamin ia memiliki kestabilan mental yang baik. Tidak berarti juga positivity itu adalah jalan menuju kesuksesan yang hanya diukur lewat kebahagiaan.

Akibat anggapan seperti itu, seseorang yang terkena toxic positivity ini kerap menolak emosi negatifnya yang pada akhirnya perasaan tersebut terus menerus menumpuk dan justru meningkatkan stres. 

Padahal perasaan emosi negatif seperti rasa sedih, marah, kecewa merupakan emosi yang  wajar dan manusiawi serta berperan untuk menimbulkan kesadaran akan kondisi yang sedang dihadapi. 

Jika hal ini terus dibiarkan dan tidak memberi ruang emosi negatifmu, maka akan membuat kamu tidak bisa mengenali masalahmu sendiri. Bahkan, fatalnya akan mematikan tingkat kewaspadaanmu terhadap situasi buruk yang akan menimpamu.

Kenali Tanda-Tanda Toxic Positivity

Dilansir dari laman The Psychology Group, beberapa tanda dari toxic positivity dapat dilihat seperti:

  1. Menyembunyikan atau menutupi emosi yang dirasakan
  2. Hanya ingin menikmati emosi positif dan mengabaikan perasaan yang sebenarnya
  3. Merasa bersalah ketika sudah memutuskan suatu hal
  4. Hanya berfokus memberikan dukungan-dukungan positif tanpa memahami perasaan yang tengah dihadapi oleh lawan bicara
  5. Meremehkan atau mempersekusi orang lain yang tengah mengungkapkan rasa frustasinya
  6. Menepis hal-hal yang mengganggunya dengan dalih “ini adalah apa adanya” dan bersikeras untuk menjadi kuat

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN