Najmie Zulfikar
Najmie Zulfikar Putra : Hamas-ruchan

Putra : Hamas-ruchan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kecerdikan Masyarakat Semarang dalam Memajukan Kebudayaan Lokal

14 Maret 2019   16:07 Diperbarui: 15 Maret 2019   12:47 154 4 1
Kecerdikan Masyarakat Semarang dalam Memajukan Kebudayaan Lokal
Sumber : Instagram Semarang Nite Carnival/ Defile Lampion

Menjelang hari jadi Kota Semarang tak pernah lepas dari berbagai macam seremoni baik berupa acara kedinasan maupun hiburan kepada masyarakat. Berbagai macam hiburan wajib dihadirkan sebagai kado ulang tahun untuk kota yang berjuluk kota lumpia tersebut. Salah satunya Semarang Night Carnival.

Event besar ini selalu disuguhkan kepada masyarakat setiap tahunnya. Sekaligus wujud Pemkot Semarang dan masyarakat dalam melestarikan kebudayaan lokal setempat. Tak heran jika SNC (Semarang Night Carnival) selalu ditunggu-tunggu kehadirannya oleh masyarakat.

Bagi sebagian masyarakat yang belum mengenal SNC itu seperti apa dan bagaimana? Tidak perlu khawatir, karna akan dipaparkan oleh penulis secara garis besarnya.

SNC (Semarang Night Carnival) merupakan event carnival yang mengusung konsep budaya yang dikemas dalam bentuk kostum dan di pentaskan pada malam hari. Jika di Jember ada Jember Fashion Carnival, di Solo ada Solo Batik Carnival, dan yang pasti di Semarang ada Semarang Night Carnival. Gambarannya hampir sama dengan carnival-carnival yang ada di masing-masing daerah. Namun yang membedakannya seperti tema, bahan kostum dan waktu pelaksanaannya.

Ada yang sangat unik dalam setiap pelaksanaan event besar ini. Mengapa demikian?

Setiap pelaksanaanya dari tahun ke tahun selalu mengusung tema yang berbeda. Contohnya pada SNC tahun 2016. Pada tahun tersebut mengusung tema "Fantasi Warak Ngendog". Tentu, semua warga Semarang mengenali hewan mitologi tersebut.

Hewan mitologi ini merupakan simbol tiga etnis yang selalu melekat di kota yang berada di pesisir Pulau Jawa tersebut. Akulturasi budaya Jawa, Arab, dan China direpresentasikan dalam Warak Ngendog. Secara historis warak ngendog mempunyai makna yang mendalam.

Warak berasal dari bahasa Arab "waro'a" yang berarti manusia harus menjaga diri dari hawa nafsu dan perbuatan yang tidak baik, salah satunya perbuatan bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari hari melalui amalan puasa. Karena kalau tindakan ini kita lakukan maka akan bermanfaat bagi diri kita maupun masyarakat pada umumnya dan kita akan menerima pahalanya. 

Pahala dari perbuatan baik kita ini disimbolkan dengan telur atau bertelur dalam bahasa Jawa "Ngendog" maka jadilah Warak Ngendog (sumber : myimage.id).

Warak ngendog terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama berbentuk kepala naga yang disimbolkan sebagai etnis Tionghoa. Bagian yang kedua berbentuk tubuh yang menyerupai unta. Bagian ini disimbolkan sebagai etnis Arab. Kemudian bagian yang terakhir adalah empat kaki kambing. Bagian ini merupakan representasi dari etnis Jawa.

Fantasi Warak Ngendog yang berhasil dijadikan kostum menghasilkan lima defile. Defile merah (lidah), defile hijau (gigi), defile biru (harmoni/badan utuh), defile kuning (sisik), dan defile ungu (tanduk). Kelima defile ini menggambarkan ikon dari masing-masing performer carnival.

Sumber : Instagram Svarnadhipa Carnival/ Defile Harmoni Warak
Sumber : Instagram Svarnadhipa Carnival/ Defile Harmoni Warak
Keberadaan masyarakat Semarang tak dipungkiri terdiri dari berbagai macam etnis. Masyarakat yang hiterogen tak menjadi penghalang untuk bisa hidup secara berdampingan. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa kebhinekaan dapat terbingkai dalam persatuan yang terakomodir dalam rumah kedamaian yaitu Kota Semarang.

Keberagaman etnis dari masing-masing memunculkan budaya baru. Salah satunya etnis Tionghoa terkenal akan Barongsai, Klenteng, dan juga lampionnya. Hal ini memicu masyarakat yang dijembatani oleh Disbudpar Kota Semarang, dalam memunculkan tema baru untuk melanjutkan event besar SNC di tahun selanjutnya. 

Perpaduan kearifan lokal berhasil mengusung tema "Paras Semarang" dalam pagelaran SNC 2017.

Tema ini berhasil membentuk empat defile yang mencerminkan kearifan lokal kota lumpia itu. Defile pertama adalah burung kuntul (blekok). Burung ini masih eksis keberadaannya. 

Jika kita melewati daerah Jl. Raya Srondol-Banyumanik dekat Kodam IV Diponegoro masih sering dijumpai burung kuntul yang berada di pepohanan. Burung ini sekaligus sebagai hewan endemik yang berada di kota Semarang.

Defile yang kedua merupakan bunga sepatu. Bunga sepatu sebagai salah satu tanaman yang masih banyak dijumpai disini. Keberadaannya sangat menjamur di pekarangan. Dan sekaligus menjadi ciri khas bunga yang ada di kota Semarang.

Selain itu juga ada defile lampion. Keberadaan klenteng terbesar di Semarang tak terlepas dari Klenteng Sam Poo Kong yang ditengarai menjadi lahirnya defile ini. Sekaligus mencerminkan kebudayaan Tionghoa untuk dipromosikan.

Kemudian yang terakhir adalah defile kuliner. Rasa-rasanya setiap plesir di kota Semarang tentu sudah hafal betul akan kuliner disini. Ya betul sekali, kuliner seperti lumpia, bandeng, dan wingko banyak dijumpai di pusat oleh-oleh.

Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Semarang tanpa membeli oleh-oleh khas tersebut. Dengan demikian aneka kuliner tersebut dapat dikombinasikan dalam kostum carnival dan terbentuklah defile kuliner.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2