Mohon tunggu...
Naftalia Kusumawardhani
Naftalia Kusumawardhani Mohon Tunggu... Psikolog Klinis (Remaja dan Dewasa)

Psikolog Klinis (Penanganan Neurosa untuk Remaja dan Dewasa) di RS Mitra Keluarga Waru, Sidoarjo. Senang menulis topik psikologi dan berencana menulis buku kedua, ketiga, dst.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Disonansi Kognitif, Makin Lebar Makin Menderita

28 Juni 2017   04:24 Diperbarui: 28 Juni 2017   13:56 14297 9 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Disonansi Kognitif, Makin Lebar Makin Menderita
Ilustrasi. Freepik

Seorang bapak mengeluh. Anaknya merokok. Saya lihat di kantong baju si bapak ada kotak rokok juga. Lha berarti khan nggak masalah toh kalau anaknya ikutan merokok? "Masalahnya anak saya masih SD, Bu", ucapnya cepat. Kalau gitu, nanti anaknya boleh merokok setelah lewat SD? "Tetap nggak boleh, Bu. Saya nggak mau anak saya jadi perokok". Eh ini bikin kepala saya mumet deh. Trus knapa si bapak merokok? 

"Saya tahu merokok itu nggak bagus untuk kesehatan. Saya sudah pernah lihat video tentang paru-paru perokok. Karena itu saya nggak ingin anak saya punya kebiasaan merokok", penjelasan si bapak dengan mimik wajah serius. Lantas, knapa atuh si bapak bersikukuh merokok? "Nggak tahu ya, Bu.. Merokok itu bikin saya tenang, bisa mikir. Kalau nggak (merokok), rasanya ada yang kurang". 

Sering sekali kita temui kondisi semacam itu ya? Bagi pembaca perokok, kalau situasi di atas sesuai dengan keadaan Anda, percayalah.. Saya tidak bermaksud menyindir kok (tapi ya bersyukur kalau kena.. hehe.. ). Perbedaan antara pendapat, sikap, dan perilaku terjadi. Berpendapat bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan, tapi perilakunya bertolak belakang. Kata Leon Festinger, seorang psikolog abad 16, itu namanya disonansi kognitif. 

Disonansi kognitif adalah kesenjangan/gap antara pendapat, keyakinan, sikap dengan perilaku yang ditunjukkan. Pada contoh di atas, ada kesenjangan antara pengetahuan bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan dengan perilaku merokok yang terus menerus dilakukan. 

Contoh lain disonansi kognitif : 1) Tahu bahwa percaya ramalan dukun itu nggak bagus untuk kesehatan jiwa dan dilarang agama, tapi seringkali hunting dukun-dukun sakti di mana pun berada, 2) Yakin kalau ajaran agamanya benar yaitu cinta kasih, tapi bertindak penuh kekerasan untuk menancapkan ajaran agama tersebut pada orang lain, 3) Tidak setuju pada diskriminasi karena menjunjung tinggi kesetaraan umat manusia, tapi tidak bisa menerima pacar anaknya yang beda suku. Masih banyak contoh lain yang bisa diungkapkan. 

Kenapa Orang Bisa Mengalami Disonansi Kognitif?

Nah itu dia.. Kenapa ya? Bingung juga sih.. hahaha.. Kalau kata penemu teorinya, ada 4 hal yang bikin terjadi disonansi kognitif. Berhubung saya dah mulai agak ngantuk, saya bahas 2 aja ya. Dua lainnya nunggu Lebaran tahun depan *nggak niat blass* 

1. Inkonsistensi Logika Berpikir. Logika yang satu mengingkari logika lainnya. Misalnya: Yakin bahwa manusia butuh diatur dengan tegas dan disiplin, tapi di sisi lain tidak percaya bahwa aparat keamanan dan pemerintah mampu mengatur; percaya bahwa Tuhan itu Maha Adil, tapi tidak suka melihat keberhasilan orang lain; selalu berkata anak adalah titipan Tuhan dan di sisi lain bertindak seolah-olah anak itu "harta miliknya" yang bisa dikendalikan semaunya; dan sebagainya. 

2. Pendapat Umum. Harusnya orang tua itu membahagiakan anaknya. Harusnya anak itu berbakti pada orangtuanya. Harusnya orang Kristen/Katolik pergi ke Gereja hari Minggu. Harus sopan pada orang lebih tua. Pemimpin harus dihormati. Harusnya anak seorang guru berperilaku baik. Dan sebagainya. Anda bisa menambahkan daftarnya. Orang-orang yang terpaksa patuh pada pendapat umum semacam itu akan rentan mengalami disonansi kognitif. Seorang perempuan muda yang kerap dipukuli orangtuanya mengatakan dia tidak mau melawan atau menangkis pukulan ayahnya. Kenapa? "Ayah bilang kalau saya melawan artinya saya anak durhaka. Tidak patuh pada orangtua", ungkapnya sambil menangis. 

Kondisi kesenjangan tersebut mengakibatkan ketidaknyamanan psikologis. Oleh karena itu individu biasanya mencari keseimbangan agar gapnya tidak melebar. Makin lebar kesenjangan, makin menderitalah orang itu. Dia akan berada dalam situasi konflik psikis terus menerus. Tidak suka dengan pekerjaannya, tapi mau tidak mau bertahan di tempat itu selama bertahun-tahun. Kebayang khan lelah mentalnya seperti apa? Suami istri yang tidak mampu berkomunikasi bertahun-tahun, diwarnai pertengkaran dalam tiap saatnya, menyebabkan ketidakbahagiaan pada keduanya tapi mereka tetap harus bertahan dalam ikatan pernikahan seumur hidup. 

Cara Menghilangkan Disonansi Kognitif

Manusia akan mencari cara untuk menghilangkan disonansi kognitifnya antara lain dengan :

1. Mengganti keyakinannya. Kedengarannya merdu di telinga ya.. Tapi susah pelaksanaannya. Emang gampang mengganti keyakinan? Kalau gampang sih, program deradikalisasi bakalan sukses mengembalikan para teroris ke jalan yang benar. Lha kalau susah, kenapa ditulis di nomor satu dong? Soalnya kalau saya taruh di no. 2, trus nomor satunya apa dong? 

Keyakinan (beliefs) ini relatif permanen sifatnya. Biasanya karena ditanamkan oleh lingkungan berulang kali, dalam waktu lama, dan diberikan penguatan (reinforcement) tiap kali terjadi. Misalnya : Anak yang dididik sejak kecil bahwa membantah atau melawan orangtua adalah anak durhaka. Titik. Tidak ada penjelasan lanjut. Maka ketika orangtua memukul seenaknya, yang sebenarnya mengarah pada tindak kekerasan, anak diam saja. Dia tidak berani melawan karena yakin bahwa dirinya durhaka bila menangkis pukulan ayahnya. 

Keyakinan seseorang bahwa ada surga menantinya bila ia berhasil membasmi para musuh akan mendorongnya untuk fokus pada janji surga tersebut, bukan pada tindakan pembasmian yang direncanakan/dilakukan. Bila keyakinan ini diganti dengan keyakinan lain bahwa tindakan di dunia juga merupakan penentu apakah dia masuk surga atau tidak, maka (diharapkan) perilakunya berubah juga. 

2. Mengubah perilaku agar sesuai dengan pemikiran. Kalau tahu merokok tidak baik untuk kesehatan, maka orang itu akan mengurangi jumlah batang rokoknya. Hal ini membuat dirinya nyaman secara psikologis. Cuman yaaa.. Nggak mudah juga mengubah perilaku khan? Udah kadung enak, nyaman, kok suruh berubah? Biasanya untuk pilihan mengubah perilaku, individu butuh dimotivasi dari luar. Misalnya diberi uang tiap kali berhasil mengurangi rokok; ada cash back 100 rupiah kalau belanja bawa kantong plastik sendiri; diberi bonus bila mampu mencapai target, dan sebagainya. 

Bisa nggak perilaku yang baru malah bernilai negatif? Ya, bisa saja. Contoh : Seseorang yang dididik sejak kecil bahwa mencuri adalah perbuatan terkutuk dan dosa, bekerja pada sebuah instansi yang hampir semuanya korupsi. Budaya korupsi mengganggunya, tapi karena dia butuh pekerjaan, ia tetap bekerja di sana. Ternyata dia melihat, mengamati, menyaksikan bahwa tidak ada sanksi apapun terhadap pelaku korupsi. Akhirnya dia pun korupsi. Bukan hanya perilakunya yang berubah sama dengan lingkungannya, tapi sekaligus keyakinannya. 

3. Rasionalisasi untuk membenarkan diri. Biasanya nih.. terjadi pada mereka yang gagal diet or gagal berhenti merokok. "Setelah gue perhatikan, nggak ada tuh orang mati karena merokok. Lagian siapa sih yang nggak bakalan mati?" sambil mengepulkan asap rokok bentuk kotak-kotak. Itu contoh rasionalisasi. Orang itu memang benar sih. Nggak ada orang meninggal karena merokok, yang ada meninggal karena jantungnya berhenti. Ya khan? *melet*. Orang yang gagal diet seringnya bilang gini nih kalau ditawarin makanan : "Kita khan nggak boleh nolak rejeki dong. Ntar kalo nolak, dikiranya kita sombong..". 

Pembenaran diri (self-justification) dilakukan agar tercipta kedamaian dalam hati. Soalnya kan nggak enak terus-terusan konflik batin, ya nggak? Seseorang bisa jadi berkata pada dirinya sendiri, "Nggak apa-apalah belanja segini banyak, siapa tahu nanti diperlukan". Membenarkan diri dengan mencari dalih rasional terhadap suatu tindakan adalah lumrah dilakukan orang. Secara refleks, orang akan berusaha mempersempit kesenjangan kognitif dengan mencari dalih. 

Dalam rangka merasionalisasi disonansi kognitifnya, individu akan "menghilangkan" informasi yang tidak mendukung. Mengabaikan fakta yang ada. Suatu kelompok yang yakin banget bumi ini datar, sehingga kalau kita jalan lurus akan tiba pada tepi bumi dan... pluungg.. kejebur entah ke mana, akan mengabaikan foto-foto satelit yang menunjukkan bahwa bumi bulat adanya. Contoh lain : Orang-orang yang didoktrin bahwa pimpinan negara saat ini telah berlaku tidak adil pada sekelompok orang akan "buta" pada fakta-fakta kesalahan hukum. "Kami hanya mau melihat fakta yang sesuai dengan dalih kami, selebihnya itu hoax!". Bikin gondok nggak kalo ketemu orang kayak begitu? Pengen nggaruk tembok.. hiks.. 

Sssttt.. saran saya kalau ketemu makhluk model begitu, yang mati-matian menolak fakta/informasi yang benar, yang bersikeras kalau perilakunya paling benar sedunia (padahal daya rusaknya ngalahin Hulk pas lagi ngamuk), udah.. nggak usah pake emosi dalam berargumen. Ntar malah Anda sendiri kena serangan jantung. Nggak percaya? 

4. Mengurangi pemikiran yang tidak selaras dan menyajikan pemikiran yang konsonan (selaras). Pemikiran yang tidak selaras dengan perilaku dikurangi tingkatnya dengan cara memberikan pemikiran baru yang lebih selaras. Dengan demikian kita berharap orang itu akan berubah lebih baik. Kembali pada contoh berhenti merokok. Si bapak punya anggapan kalau merokok itu tidak baik untuk kesehatan. Dia sudah melihat video dampak rokok pada kesehatan paru-paru. Dia juga beranggapan kalau tidak merokok akan membuat dia tidak bisa berpikir. Di sini perlu diberikan alternatif pemikiran : Mana yang lebih penting dalam hidupnya? Anak atau rokok? 

Seringkali perspektif baru yang mendukung kenyamanan psikologisnya akan mendapatkan peluang mengubah lebih besar. Ada klien laki-laki yang yakin kalau cara pacaran yang baik adalah menghindari hubungan seksual sebelum menikah. Kenyataannya dia mendapatkan pacar (perempuan!) yang sudah pernah berhubungan seksual sebelumnya dan kini "aktif" merayunya. Disonansi kognitif terjadi. Antara rasa sayang pada pacar dan keyakinannya. 

Pertanyaan saya ke klien sederhana saja : Mana yang lebih penting dalam hidupmu? Mengapa hal itu penting? Jawaban dari dua pertanyaan itu membuat dirinya yakin akan memutuskan apa. Saya juga lega karena raut wajahnya lebih cerah daripada awal dia datang konseling. Dan yang penting, dia memilih untuk bertindak benar sesuai ajaran agamanya. 

Seberapa Kuat Disonansi Kognitif Agar Bisa Berubah?

Well, tergantung pada dua hal yaitu tingkat kepentingan dan banyaknya kognitif yang disonan (tidak selaras) dibandingkan dengan pemikiran yang konsonan (selaras). Kalau tingkat kepentingannya tinggi, kesenjangan makin lebar. Seorang ayah yang harus menyekolahkan 6 anaknya akan memilih bertahan dalam suatu perusahaan sekalipun dia tidak kerasan di sana. Wanita yang mementingkan image positif dari lingkungan akan bertahan dalam pernikahan sekalipun terjadi KDRT pada diri dan anak-anaknya. Demi bergaya hidup mewah dan meraih label sukses dari lingkungan, seseorang memilih untuk korupsi meskipun ia tahu korupsi itu haram hukumnya (eh belum ada fatwanya ya?). 

Faktor berikutnya rasio jumlah kognisi disonan dengan kognisi konsonan. Bingung ya? Sama dong.. Bentar saya minum dulu ya.. Misal nih ada orang yang mikir kalau bantu pengemis itu berpahala sehingga dia selalu memberikan uang pada pengemis di mana pun ia menemui pengemis, lalu dia tahu besarnya penghasilan pengemis, kebijakan pemerintah tentang memberikan uang pada pengemis, serta dampak sosial akibatnya banyaknya pengemis, kemungkinan besar dia tidak akan memberi uang pada pengemis lagi. 

Jumlah pikiran disonan lebih sedikit dibandingkan dengan pikiran/pengetahuan yang konsonan. Orang itu akan mengalihkan bantuannya pada pihak lain yang benar-benar membutuhkan. Maka disonansi kognitifnya lenyap. Intinya bila pemikiran yang mendukung perilaku lebih banyak dibandingkan yang tidak mendukung, maka perilaku akan bertahan. 

Sepertinya tulisan ini mencapai batas akhirnya. 

Semoga bermanfaat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN