Mohon tunggu...
Nadya Agus Salim
Nadya Agus Salim Mohon Tunggu... Guru - Seorang Penulis yang juga berprofesi sebagai pendidik

Nadya. terkenal dengan nama Pena Nadya Agus Salim ,. Ibu dua orang anak ini adalah seorang guru SMK yang memiliki hobby menulis.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Taubat Diujung Napas

6 Agustus 2021   13:37 Diperbarui: 6 Agustus 2021   14:20 229
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Seorang pemuda cerdas, bidang IT menjadi keahliannya. Berwajah tampan, berbodi kekar, idaman para wanita yang mengenalnya. Dwi Prayoga Hermawan, seorang karyawan pada perusahaan Multi Nasional di kotanya. Karir yang mapan, diusia yang terbilang muda 27-tahun telah memiliki sebuah rumah dan mobil, merupakan pencapaian yang lumayan bagi pemuda diusianya.

Ketekunannya membuahkan hasil, hingga ia dipercaya memegang jabatan sebagai Manager IT . Seorang manajer IT tentu harus memiliki pengetahuan yang kompeten di bidang perkomputeran dan teknologi informasi. Sebab, ia merupakan sosok yang bertanggung jawab untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengelola proyek teknologi informasi dalam sebuah perusahaan. Posisi manajer yang disandangnya membuat ia tidak harus turun tangan langsung dalam mengatasi masalah IT di tempatnya bekerja. Ia cukup hanya sekedar mengawasi para staff yang bekerja.

Karir yang cemerlang membuat Dwi, lupa akan rasa syukur. Ia terlalu asyik mengejar karir, hingga menghadap Sang Maha Pencipta, yang telah memberikannya banyak kemudahan, ia lalai. Salat wajib tak pernah ia lakukan, puasa di bulan Ramadhanpun telah lama ditinggalkan.

Dwi dahulunya anak yang sholeh, kedua orang tuanya mendidiknya dengan ilmu agama yang cukup. Tetapi setelah kedua orang tuanya meninggal, tak ada yang memperhatikan Dwi kecil. Ia hidup bersama paman,  adik dari ibunya, yang kebetulan memiliki banyak anak. Sehingga perhatian pada Dwi kecil juga berkurang.

Kedua orang tua Dwi meninggal dalam sebuah kecelakaan, saat itu mereka akan pergi rekreasi, naas mobil mereka ditabrak oleh sebuah truk yang kehilangan kendali. Dwi yang berusia sembilan tahun, selamat dalam kecelakaan tersebut. Kemudian ia diasuh oleh pamannya.

Dengan bekal sisa harta kekayaan kedua orang tuanya, Dwi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Walau banyak wanita yang mendekati untuk diperistri olehnya, tapi ia yang masih betah melajang, belum tertarik untuk memilih salah satu dari mereka.

 "Bro malam minggu, ke club yok! ajak Wisnu pada Dwi, via whatsaap.

Dwi dan Wisnu biasanya malam minggu menghabiskan waktu semalam suntuk, nongkrong di club langganan mereka.

"Ok bro, udah suntuk juga gue, pengen segeran liat yang bening-bening," jawab Dwi. "Sampai ketemu di club ya? gue tunggu, jangan telat, lanjut Wisnu.

Mereka bersahabat sejak bangku kuliah, tetapi pergaulan Wisnu, sangat buruk. Ia senang mempermainkan wanita, mabuk-mabukan, uangnya habis hanya sekedar untuk berfoya-foya. Wisnu anak seorang pengusaha kaya di kotanya. Ia tak perlu bekerja keras seperti Dwi. Harta ayahnya tujuh turunan tak akan habis. Ayahnya sangat memanjakan Wisnu, karena ia, anak semata wayang. Apapun keinginannya selalu dituruti ayahnya. Berbeda dengan Wisnu, Dwi harus bekerja keras, agar ia dapat hidup dengan layak. Karirnya dirintis dari nol, kerja kerasnya membawa hasil. Walau ia lalai dalam beribadah, tetapi mempermainkan wanita dan mabuk-mabukan bukanlah hobinya.

Suatu hari Wisnu mengajak Dwi pergi rekreasi ke lokasi air terjun. Bersama rombongan kantor mereka berangkat. Dua jam perjalanan jarak yang ditempuh untuk sampai di lokasi wisata tersebut. Sinar matahari berpadu dengan kicau burung dan riuhnya air yang turun dari atas bukit. Sejuk terasa menyusup di kulit. Mereka berencana menginap di lokasi wisata tersebut. Sebagian dari para lelaki membantu mendirikan tenda. Sedang yang lainnya pergi mencari kayu bakar untuk api unggun. Para wanita sibuk menyiapkan makan siang untuk mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun