Mohon tunggu...
Nabila Laksmi
Nabila Laksmi Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Inovasi

Di Balik Pesona "Athena"

21 Februari 2018   06:53 Diperbarui: 22 Februari 2018   11:06 855
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Latar sosial yang mendasari novel ini adalah kehidupan remaja modern di era sekarang. Banyak orang dapat dengan mudah mewujudkan mimpi-mimpinya sendiri. Tak ada batasan lagi bagi wanita untuk selalu berada di rumah dan selalu berada dekat dengan orang tuanya. Dalam novel ini, wanita remaja telah diperbolehkan untuk melakukan perjalanan jauh sendiri, hal ini menandakan bahwa orang-orang pada saat itu sudah memiliki pikiran yang terbuka.

 Terdapat juga persaingan yang sangat ketat dalam mewujudkan mimpi dan harapan, banyak orang yang mulai individualis dan egois. Mereka sibuk bekerja untuk memperkaya diri sendiri. Siang malam tanpa henti keramaian kota akan lautan manusia tak pernah surut.

"Arlojinya sudah menunjukan pukul delapan malam dan Monastiraki masih di jelajahi lautan manusia." (hlm.219)

Kutipan tersebut membuktikan bahwa kahidupan manusia era itu sangatlah sibuk, mereka selalu meciptakan keramaian walau malam telah tiba.

"Widha mengamati partnernya menghampiri pemilik toko roti tadi sambil mengeluarkan dua lembar euro dari saku celana (Widha yakin dompetnya masih basah). Kemudian, dia menjejalkannya ke saku celemek. "Saya beli roti Anda."

"Pria paruh baya itu terdiam sesaan, lalu menyerahkan bungkusan di tangannya. "Saya tidak punya kembalian."

 "Ambil saja semuanya. Saya piker Anda juga ahrus segera kembali ke toko. Saya khawatir jika bocah itu sekarang sedang mengambil jalan pintas ke saan untuk mencuri lebih banyak roti." (hlm. 117)  

Kejadian itu menunjukan betapa seseorang telah kehilangan rasa empati untuk mengikhlaskan barang sederhana, seperti contohnya roti. Dalam pikiran mereka hanyalah ada target kekayaan dan rasa yang tidak pernah ingin merugi secara material.

Sudut pandang yang diterapkan pada Novel Athena ini adalah sudut pandang orang ke tiga serba tahu.

"Wafi dengan implusif mengambil kesempatan. Dia tidak akan tinggal lama; pukul enam padi dia harus meninggalkan penginapan ini..." (hlm 169)

"Sementara Widha berusaha mengurai perasaan-perasaannyaa yang semakin kusut. Selepas pertemuan di The Black Duck, dia membulatkan tekad untuk mengubur semau kenangannya. Pick gitar biru itu juga sudah kembali ke tangan sang pemilik. Selai itu, walau baru mengenal pria ini selama satu minggu lebih, Widha mulai kerasan dengan Nathan." (hlm. 178)

"Perdebatan dengan Nathan beberapa hari yang lalu masih melekat dalam pikiran Wafi. Kalau Nathan masih menyimpan hati pada Keira, dia pasti tidak akan meladeninya. Sebagai pria, dia mengenal gelaat Nathan yang ingin melindungi seorang wanita. NAmun, wanita itu bukan Keira." (hlm. 235)

Ketiga kutipan di atas membuktikan bahwa dalam menuliskan Novel, pengarang tahu dan dapat masuk ke dalam diri banyak tokoh, pengarang mengetahui segala apa yang akan terjadi dan juga apa yang sedang ada di dalam pikiran para tokohnya.

Setelah pembahasan mengenai unsur intrinsic telah usai, pembahasan selanjutnya adalah mengenai unsur ekstrinsik. Unsur Ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar karya sastra.

Dalam menorehkan karyanya, subjektivitas individu pengarang dalam novel ini terlihat sangat jelas. Pengarang novel ini, Erlin Natawiria, adalah soarang mahasiswi jurusan Sastra Inggris. Maka dari itu, tidak heran jikalau dalam menuliskan karyanya, Elin menyisipkan beberapa kalimat yang menggunakan bahsa Inggris.

                 "Shot." Wafi mengusap wajahnya dengan tangan. "Am I that insecure?" (hlm.200)

Erlin adalah seorang penikmat kopi, kegemarannya ini juga tercantum sedikit dalam novel ini.

"Deno mengangkat tangannya. "Calm down, Wid. Gimana kalau kita bikin kopi dulu? Kafein biasanya bikin otak kamu bisa kerja. Pasti belum ngopi dari pagi, ya?" (hlm. 215)

Kutipan di atas menyebutkan dengan jelas sisi positif dari kopi, secara tidak langsung penulis juga menyebutkan alasan mengapa ia menyukai kopi dan memasukkannya dalam cerita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun