Mohon tunggu...
Muhammad Wislan Arif
Muhammad Wislan Arif Mohon Tunggu... profesional -

Hobi membaca, menulis dan traveling. Membanggakan Sejarah Bangsa. Mengembangkan Kesadaran Nasional untuk Kejayaan Republik Indonesia, di mana Anak-Cucu-Cicit-Canggah hidup bersama dalam Negara yang Adil dan Makmur --- Tata Tentram Kerta Raharja, Gemah Ripah Loh Jinawi. Merdeka !

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Makuthang, Lucu Menakutkan --- Horor (Serial Paranormal)

2 Februari 2012   00:40 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:10 356 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
13281452641926278438

(1)

Daerah itu seperti sebuah Enclave (bukan Ghetto, lho) --- jalan aspalnya mulus, drainage dan paritnya secara teknis sangat baik terbangun. Suku bangsa di sana lengkap untuk menimbulkan Kesadaran Nasional --- intinya adalah suku Melayu Deli, Jawa, Mandailing, Bawean (diucapkan oleh Orang Sana; Orang Boyan), Minangkabau, Nias, dan ada juga Cina dan Keling.

 

Kawasan itu tampaknya dibangun oleh Gemente Hindia Belanda. Namanya Kota Maksum.

 

Di beberapa areal masih tampak sisa bekas perkebunan Karet dan Kelapa Sawit --- di kawasan itu, di awal tahun 1950-an di bidang pendidikan, yang terkenal untuk mendidik anak-anak Indonesia adalah, Taman Siswa, Muhammadiah, Al-Jamiatul Washliah, selain sekolah negeri peninggalan Hindia Belanda --- ada juga 2 Sekolah berbahasa Inggris dan sekolah yang didirikan Perkumpulan Orang-orang Cina.

 

Kesenian di sana ada Ronggeng Melayu, Wayang Kulit, Jaran Kepang --- dan Wayang Potehi di kalangan Orang Cina.Masa itu anak-anak sekolah setingkat SD yang di serial awal cerita ini --- mengalami pengalaman yang menakutkan, ditangkap Makuthang --- paling seram kalau dikejar jaran kepang dan naga barong atau manusia bertopeng raksasa.

 

(2)

Di kawasan itu ada 2 anak Cacat yang menarik perhatian --- satu anak perempuan bule dengan sorot mata yang sangat tajam, ia tidak mengganggu --- Cuma ia sering mengejutkan anak-anak atau rumah orang, yang dikunjunginya secara mengendap-endap --- anak-anak atau ibu-ibu bisa menjerit-jerit bila tiba-tiba ia telah berada di tengah rumah atau, di kalangan anak-anak yang sedang asyik bermain. Namanya Marnoni, dia anak Orang Kaya --- tuan tanah.Banyak penduduk di sana menanggap Marnoni adalah ‘anak bertuah’.

 

Jarak rumah Makuthang dengan Marnoni ada barangkali 2 kilometer ---- suasana lingkungan rumah mereka miriplah, rumah di lingkungan Karang, pekarangan dengan pohon buah-buahan --- terutama kelapa, rambutan dan kuini.Bedanya Marnoni anak orang kaya, sedang Makuthang anak orang miskin.

 

(3)

Adakalanya Makuthang termenung kosong, lugu dengan wajah memelas lucu. Mengapa ?Enggak tahu juga.Justru anak-anak sekolah setelah mengendap-endap melewati halaman si Makuthang --- menggoda : Makuthang --- Makuthang --- Makuthang !

 

Makuthang tersadar, ia melunjak-lunjak dengan kakinya yang terbelit-belit seperti gurita si Squidward --- ia seperti tertawa-tawa menyeringai.Ia pun mengeluarkan suara serak, mirip ucapan Maaaaakoothan --- Makotaaaaaaaaaaan --- Makooooootang !

Makuthang melompat dari bale-balenya, ia mencakar-cakar, berguling-guling mengejar --- ia bergerak lincah dengan menggunakan dengkul dan bahunya.Anak-anak berlarian menjauh --- sampai dekat sekolah mereka masih berlarian. “Makuthang, Makuthang, Makuthang --- sambil saling menangkap dan menarik-narik baju temannya.

Emak si Makuthang mengendong kembali Makuthang --- meletakkan kembali di bale-bale bodol itu. Sementara emaknya kembali mengelap tubuh Makuthang yang telanjang dan kotor itu dengan kain buruk basah. Ia menyengir dan bersorak-sorak serak.

Maaaaaaaaaakotang --- Emmaaaaaaaakoooootang ---- Emmmmmmmmmmmakotan -------------- Makotaaaaaaaaaaaaaang. Makuthang kembali bergoyang-goyang, menggedor-gedor bale-bale dengan tumitnya.Ia menyeringai dengan mulutnya yang lebar --- mangap memperlihatkan giginya yang jarang-jarang dan besar-besar.

(4)

Setelah agak besar ini --- emaknya jelak juga mengurus Makuthang, karena ia bisa lompat berguling-guling ke tanah, kemudian mengeram di rumpun pohon pisang. Ia tampak kotor dan mengejutkan --- mengais-ngais seperti seekor laba-laba mengintai mangsanya.

Banyak Orang lalu lalang di gang itu yang terkejut dan menghindar ---- mungkin maksudnya menyapa orang lewat . Emmmakothang --- Emmmakotan --- Maaaaaaaaaaakothang.

Banyak juga orang kasihan pada Makuthang --- memberinya jajanan atau pisang atau ubi rambat rebus.Emaknya yang harus menyuapi dan memberinya minum. Ia selalu susah menelan, kecekek --- memang tampak ada keganjilan, ia mempunyai batang leher yang terlalu panjang, mungkin pula karena ia kurus.Tulang belulangnya jelas panjang-panjang --- termasuk ruas jemarinya. Ia tetap bertelanjang bulat dengan tubuh yang kotor.

 

(5)

Emak si Makuthang tiap hari ke pasar menjual daun pisang dan tali batang pisang --- sepulang dari pasar emaknya meraut pelepah batang pisang untuk dijadikan tali (sejenis tali raffia jaman kini).Menjemurnya,sambil mengawasi si Makuthang yang mulai liar.

Bapak si Makuthang adalah seorang Benggali, tetapi ia sudah tidak memakai serban --- dulunya ia mempunyai beberapa kerbau dan sapi. Tentara Dai Nippon merampas hartanya itu. Ia jatuh miskin --- kini ia menjadi penjaga malam di pabik getah di Kampung dadap. Ia jarang pulang.Terkadang pulang dalam keadaan setengah mabok --- ia paling sering terkapar mabok di pojok Jl. Asia. Walau pun begitu ia sayang pada Makuthang. Terkadang kalaumasih ada sisa rejekinya, ia pulang membawa roti bantal kadulaursa dan sebotol susu segar untuk si Makuthang.

Wak Sami --- begitu Orang Kampung dan anak-anak memanggil bapak si Makuthang --- ia orang baik hati, kalau anak-anak akan lewat, biasa ia menentramkan si Makuthang.Makuthang sekarang semakin liar.

“Terima kasih Waaaaaaaaaaaaak” teriak gadis-gadis kecil bila Wak Sami membantu perjalanan anak-anak sekolah itu.Si Makuthang telah dapat menandai beberapa gadis kecil itu --- terutama si Raji’ah yang paling tidak 4 kali lewat di sana.Karena kalau sore lepas Ashar ia dan kawan-kawannya belajar Tari Srimpi pada Pak Ngah, rumah Pak Ngah di utara rumah si Makuthang.

Makuthang tambah liar ia bisa bergerak liar di halaman rumahnya --- kemudian mengeram seperti seekor laba-laba di bawah rumpun pisang yang sejuk --- di sana ia sepertinya mengkhayal --- namun tiba-tiba saja ia sudah berguling-guling dengan suara parau mengaum, seperti menguak suara kerbau atau sapi.

Makuthang berhenti di dekat bale-balenya. Ia melenguh seperti sapi : Ngooooooooooooooooooooah ! Kemudian terdiam sejenak, berguling-guling, mencakar-cakar --- bergerak menggunakan lutut, siku atau bahkan bahunya. Banyak orang lewatyang terharu melihat tingkah laku Makuthang kini. Tetapi ada pula warga yang cemas.

Anak-anak gadis kecil yang pernah dikagetkan Makuthang --- banyak yang terbawa-bawa mimpi.Menjerit-jerit di malam buta.Makuthang--- Makuthang --- ampun Makuthang.

“Ampun Makuthang, ampun Makuthang”, jerit Leginem adik si Legiso suatu malam.

“Astaghfirullaaaaaaaaaaaah, mimpi si Makuthang kowe Nem”, seru emak si Leginem sambil membaca ayat-ayat Juz Amma.

[MWA] (Paranormal -26)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan