Mohon tunggu...
Muhammad Wislan Arif
Muhammad Wislan Arif Mohon Tunggu... profesional -

Hobi membaca, menulis dan traveling. Membanggakan Sejarah Bangsa. Mengembangkan Kesadaran Nasional untuk Kejayaan Republik Indonesia, di mana Anak-Cucu-Cicit-Canggah hidup bersama dalam Negara yang Adil dan Makmur --- Tata Tentram Kerta Raharja, Gemah Ripah Loh Jinawi. Merdeka !

Selanjutnya

Tutup

Politik

Adolf Hitler, Seorang Miskin yang menjadi Fuhrer; Indonesia menantikan seorang Pemimpin Yang Adil ?[Features – 45]

28 Juli 2011   09:24 Diperbarui: 26 Juni 2015   03:18 1412 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
13118442671931777149

Pernah menulis dalam Serial Hello Indonesia-ku – 16,   http://birokrasi.kompasiana.com/2010/08/23/adolf-hitler-1889-1945-dan-aneksasi-wilayah-hello-indonesia-ku-16/  dan satu lagi yang menyangkut Perang Dunia II dalam Serial Kesadaran Nasional -11,

http://hiburan.kompasiana.com/gosip/2010/04/11/features-12-pertempuran-emosional-di-stalingrad-dan-di-medan-area/  . Kedua-nya menyangkut drama perang berkaitan dengan peran Adolf Hitler--- membicarakan heroisme, patriotisme, pengkhianatan, kehancuran, penderitaan, dan berbagai fenomena kehidupan --- yang di masa damai pun sebenarnya secara spiritual, juga terus menerus  terjadi.

 

Di era damai mau pun di jaman perang --- tetap ada seorang Pemimpin sebagai Komando, sebagai Inspirator --- akan ada salah seorang pemimpin yang menonjol sebagai Orang Pilihan di antara para Elite kelompoknya.

 

Di dalam masyarakat politis, relijius, bahkan kriminal --- akan ada seorang Godfather, yang menjadi Inspirator mereka.  Di dalam politik praktis di Indonesia, Godfather itu bisa berjabatan dengan terminalogi : Ketua Dewan Pembina,  Ketua Politbiro, Ketua Biro Politik, Ketua Majelis Suro, Ketua Dewan Strategi Nasional, Ketua Dewan Pendiri, atau Ketua Biro Khusus--- macam-macam, yang penting secara per orangan atau kolegial.  Ada Supremasi di situ.

 

Saat Adolf Hitler  berumur di sekitar 18 tahun.  Setelah ayahnya meninggal dunia, Hitler merantau meninggalkan kampung halamannya di kota kecil,  Braunnau , di Austria. Ia ingin meneruskan cita-citanya di bidang Seni ( yang sebelumnya, selalu ditentang oleh ayahnya). Ia ke Vienna.

 

. 

Di dalam perantauannya, dalam suasana hidup miskin ---  kesempatan untuk memasuki Vienna Academy of Arts, tidak dapat diraihnya pada tahun 1907 dan 1908.  Ia gagal.

Tetapi Adolf Hitler tetap pada jalur bakatnya di bidang Sastra, Arsitektur, Musik dan  Melukis. Ia tetap ber-cita-cita ingin menjadi Seniman Besar.

 

Adolf Hitler yang miskin,  akhirnya terpaksa tinggal di suatu Panti untuk para Kaum Tuna Wisma --- ia hidup menggelandang.

 

Sikap hidup Hitler yang istimewa --- yang mungkin membawa peruntungnnya ke jenjang “Toward The Top” adalah minat membacanya yang luar biasa --- terutama ia mencari dan membaca buku-buku politik yang dibredeil dan dilarang --- Ia mengikuti dan meladeni diskusi di mana saja --- di kedai dan warung pun jadi !   Ia mendiskusikan selebaran gelap dan gossip  serta rumor politik.  Ia memproses dirinya menjadi orator dan teoritikus politik untuk memecahkan masalah yang dihadapi Bangsa Jerman.

 

Adolf Hitler hanya menafkahi hidupnya sebagai pelukis  cat air Kartu Pos.  Tetapi ialah satu-satunya orang di panti itu --- yang penuh percaya diri, yang stiap kali berpidato berapi-api. Ia bersemangat tinggi !

 

Dalam Perang dunia I,  Adolf Hitler tercatat sebagai  tenaga sukarela Resimen Infantri Bavaria.  Keberanian yang diperagakan Hitler di dalam pertempuran --- sangat mengagumkan. Begitu pula perang telah mengajarkan padanya bahwa, Jerman telah dihinakan oleh para penandatangan Perdamaian.  Perdamaian Versailles menetapkan pampasan perang  bagi musuh Jerman…………….dan Jerman pun kehilangan wilayahnya seluas 13 persen !

 

Sebagai seorang yang mendalami berbagai teori , filsafat, budaya dan sejarah perkembangan di Eropa  --- maka Hitler sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat Jerman harus bersikap :

 

                          “ Jerman tidak perlu dikasihani………….Kita adalah Bangsa yang bersifat barbar .  Kita harus menjadi Barbarian !

                          Itu adalah Gelar yang Terhormat ! “

 

Ketika ia masih di dalam dinas ke-tentaraan, Hitler bertugas meng-intelijeni partai-partai sayap kanan di Jerman --- di sana ia ber-inisiatif membuat laporan, bahwa ‘Jahudi adalah musuh bangsa kita’

 

  “Anti –Semitisme adalah beralasan ………………harus diarahkan pada sikap oposisi yang legal, untuk melenyapkan ke-unggulan dan    privilase Orang Yahudi. Itulah tujuan utama --- hingga melenyapkan Yahudi sampai tuntas !”

              

Sikap itu tertanam dalam sanubarinya sampai akhir hayatnya.

 

Walau pun ia tidak sreg dengan  Partai Buruh, Adolf Hitler bergabung pada partai tersebut --- ia bertugas di bidang rekruitmen dan propaganda. Pada tanggal 16 Oktober 1919 ia melakukan pidatonya yang pertama pada Massa Rakyat. Tampaklah bakatnya sebagai orator --- ia dapat mendorong semangat dan emosi audien-nya.   Menanamkan Kekuatiran dan Harapan.

 

Pada tahun 1920, Adolf Hitler merubah Partai Buruh itu menjadi ‘National Sozialistiche Deutche Arbeiter Partet (NSDAP) --- dengan singkatan yang lebih terkenal Partai NAZI !

 

Dari seorang siswa yang gagal, seniman yang gagal………….dan sampah masyarakat ‘Miskin Kota’. Pada tahun 1921 ia dinobatkan menjadi Fuhrer !

Bahkan tanggal 30 Januari 1933 ia dilantik menjadi Kanselir Jerman.

 

Ia dan Nazi langsung menggebrak bahwa, ‘kaum penyebab kehinaan Jerman ………… terutama Orang Asing, Kaum Komunis, dan Orang Yahudi harus dibereskan ………..agar Jerman kembali Jaya !’.

 

Sejarah telah mencatat …………. Lahirnya seorang Pemimpin (yang didambakan) --- dapat meraih tampuk  Kekuasaan;  semua Sumber Daya dikuasai --- dalam sistem pemerintahan apa pun,  Sang Pemimpin dielu-elukan dalam koridor Konstitusi dan Undang-undang --- yang dapat disesuaikan dengan  tuntutan sejarah.  Rakyat tetaplah pecundang, hanya Sang Pemimpin yang dimabokkan oleh kekuasaanya.

 

Kekuasaan di tangan Sang Fuhrer dengan sublimasi cita-citanya --- impian dan khayalannya.  Hanya ada “loro-loro ning atunggal”  yakni, Kekuasaan dan Kepentingan.  Itu akar Kekuasaan Politik.

Bagi Adolf Hitler meraih cita-cita politik harus dengan tindakan penuh pertaruhan.  Melakukan invasi kepada Negara-negara tetangganya,  dan akhirnya menyeret mereka dalam kancah Perang Dunia II.

 

Pada petang hari tanggal 30 April 1945, Hitler dan Eva Braun (Sang Kekasih) --- menutup kamar mereka. Eva Braun menelan racun cyanida (?), kemudian Hitler menembak dirinya.  Menghakhiri hidupnya.

 

Konon supir pribadi Hitler membakar habis kedua mayat itu dengan 200 liter bensin ………………………………. Beberapa hari kemudian Jerman-Nazi menyerah.  Perang itu telah melenyapkan 50 juta jiwa manusia …………………………………

 

Cita-cita politik selalu terbungkus indah di dalam Anggaran Dasar Partai, di dalam Undang-undang Dasar suatu Bangsa --- dengan Undang-undang pelaksanaannya yang bisa dibalut dengan itu tadi :  Kepentingan dan Kekuasaan Politik.

Di situlah  Budaya Korupsi mulai membonceng Sistem yang berlaku.

 

Bukan hanya Adolf Hitler dengan Partai Nazi-nya telah gagal meraih Janji-janji Muluknya --- tetapi biaya dan nyawa terbuang tak terperikan --- Tenno Haika dan Menteri-menterinya boleh membubuhkan tandatangan menyerah, setelah Bom Atom Amerika Serikat membumi hanguskan kota Hiroshima dan Nagasaki --- ratusan ribu rakyat kedua kota itu menjadi korban, dan jutaan pula rakyat di daerah pendudukan bersama tentara Dai Nippon, gugur untuk tujuan politik yang akan diraih…………….

 

Pasca PD II, di Ethopia, Somalia, Sudan dan banyak Negara di Afrika gagal meraih cita-cita politik --- kematian, kelaparan , kebodohan dan sirnanya hari depan; dilakukan para pemimpin yang gagal menjalankan Sistem ber-Negara. 

 

Begitu pula di banyak Negara saat ini mengalami keganasan pertempuran demi petempuran --- kematian demi kematian yang ditemukan Rakyat tiap saat, bukan kemakmuran, seperti impian di dalam konstitusi. Tetapi menonton budaya Terorisme anak manusia !

 

Dari kisah Adolf Hitler dan perjuangan politiknya --- dan contoh-contoh Negara yang gonjang-ganjing salah kelola. 

Untuk negeri ini ada dua hal :

 

  1. memilih Pemimpin pertama-tama periksalah Riwayat Hidupnya, keluarganya --- berapa besar ‘Kepentingan’  dirinya dan keluarganya ter-ekspos --- jangan pernah mengusung pemimpin yang ‘gila kepentingan’ --- pasti ia Orang yang tidak sudi berkorban pada Rakyatnya
  2. memilih Pemimpin jejakilah langkah Cita-citanya, bukan slogannya --- kalau ada ‘cerita’ miring seberapa pun, pasti ia Orang yang lancung ke ujian.
  3. Yang penting di dalam ber-Negara, bukanlah Sosok Pemimpin --- tetapi terutama, kemantapan Sistem Ber-Negara (apapun namanya)’

                   

  1.  
    • Sejak Konstitusi, Undang-undang sampai Kebijakan harus relevan --- harus ada sistem cybernatics mengkoreksinya dalam kesempatan pertama.  Umpan balik yang konsekwen dan tegas.
    • Bangsa Indonesia mungkin belum mengalami penderitaan sebagaimana Rakyat Jerman atau Rakyat Nippon dalam Perang Dunia II --- atau rasa lapar seperti Rakyat Ethiopia atau Somalia.  Walaupun ditimbun fase demi fase, periode demi periode --- tetapi itu adalah  “Amanat Penderitaan Rakyat” dalam alur sejarah --- River of No Return.
    • Penyelewengan Sistem ber-Negara di Indonesia harus segera di-koreksi.  Budaya Korupsi harus diperangi.
    • Pemimpin yang dinantikan secara Filsafat Jawa adalah  Ratu Adil --- semoga ia juga membawa Sistem yang filsafati. [MWA]

[caption id="attachment_122042" align="aligncenter" width="300" caption="Secara Filsafat kita tidak tahu --- Apa Jawaban Sejarah, seandainya Partai Nazi Jerman yang mengalahkan Kapitalisme dan Komunisme (?)"][/caption] *)Foto ex Internet

Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan