Mohon tunggu...
Nurul Mutiara R A
Nurul Mutiara R A Mohon Tunggu... Freelancer - Manajemen FEB UNY dan seorang Blogger di www.naramutiara.com

Seorang Perempuan penyuka kopi dan Blogger di http://www.naramutiara.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Membayar Jasa Tidak Bisa Hanya dengan "Harga Teman"

27 Juli 2020   16:14 Diperbarui: 30 Juli 2020   21:15 1718
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ketika si klien ditanya alasan meminta gratis, pasti jawabannya klise "halah paling buat gitu doank". Hah, gitu doank? Lha kenapa gak buat sendiri aja gitu loh.

Saking dongkolnya orang-orang pada klien peminta gratisan atau harga teman, sering kita menyaksikan postingan menyindir berupa meme, tersebar melalui berbagai platform media sosial. Misal ada desain spanduk ganjil atau riasan yang aneh, kemudian muncul meme dengan caption "Ini pasti karena harga teman".

Apabila dilihat dari konteks sosial, pengalaman para pekerja jasa seperti itu memperlihatkan kepada kita semua bahwa tenaga, skill dan kreativitas belum mampu dihargai tinggi oleh sebagian orang.

Parahnya, justru orang terdekatlah yang melakukannya. Istilah harga teman tadi, pastilah muncul karena si klien mengenal si desainer atau pe-makeup. Jika tak kenal, mungkin istilahnya akan beda lagi.

Mengapa sih justru kalau mengenal seseorang yang memiliki skill atau kreativitas tertentu, orang cenderung meminta harga teman? Bukankah itu melukai hak pekerja jasa? Kan ada tuh orang yang akhirnya gak bisa nolak karena alasan gak enak. Ntar kalau ditolak jadi musuhan, dianggap pelit dan sebagainya.

Teman atau saudara yang baik seharusnya bukan yang bertindak demikian, tapi justru mendukung dengan harga sepantasnya. Apalagi jika usaha yang dibangun terbilang baru dan membutuhkan banyak support untuk mengembangkan. Rasanya tak pantas kalau sebagai klien atau konsumen, kita meminta harga di bawah standar.

Untuk urusan murah atau mahalnya, itu jelas disesuaikan dengan tingkat kerumitan, tenaga yang dikeluarkan dan waktu yang dihabiskan. Klien memang berhak melakukan negosiasi, tapi tak bisa dengan nilai yang rendah. Toh kalau si pengusaha jasa berkenan, ia akan memberikan penawaran spesial tanpa disuruh.


"Well, sebaiknya gimana nih kalau kita jadi klien dan menginginkan jasa tertentu?"

Baiklah, ini hal yang perlu kita lakukan supaya tak ada salah kaprah lagi terhadap istilah harga teman. Aku ambil contoh kita berniat menyewa jasa makeup untuk wisuda pada teman atau saudara nih. Soalnya mau gak mau, istilah harga teman muncul kalau kita meminta pada orang yang kita kenal.

Step pertama adalah riset harga secara umum. Misal, kita butuh paket komplit dari baju, kerudung, hiasan hingga makeup. Ternyata, di salon menghabiskan biaya sekitar Rp 500.000, maka kita tanya dulu teman kita meminta harga berapa.

Andai ia minta harga Rp 400.000 dan itu tak bisa kurang, tak ada salahnya kita terima. Toh harga di pasaran lebih tinggi kan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun