Mohon tunggu...
AfifianIsme
AfifianIsme Mohon Tunggu... Tempat berbagi. Imajinasi melahirkan narasi.

Orang biasa-biasa saja. Sebagaimana kebanyakan manusia pada umumnya.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Menulis, Mempertahankan Rasa dan Cinta

11 Juni 2019   15:25 Diperbarui: 11 Juni 2019   15:51 0 2 0 Mohon Tunggu...
Menulis, Mempertahankan Rasa dan Cinta
medium.com/actionesia

Era digital terus berkembang, yang tidak update akan tertinggal jauh di belakang. Saat ini, dunia sudah memasuki era Indrusti 4.0. Sebuah dunia dimana digitalisasi memasuki ruang-ruang kosong, yang dulunya dianggap tak mungkin terjadi. Ada yang acuh, sekalian tidak ikut perkembangan; ada yang keteteran; ada yang mengikuti pelan-pelan dan memaksa ikut-ikutan; dan tak banyak yang benar-benar mendalami dan paham.

Dulu, kita dengan mudah mengatakan seseorang kutu buku atau tidak, salah satunya, dengan melihatnya kemana-mana membawa buku. Tapi sekarang, buku bisa dikonversi sedemikian rupa menjadi file yang bisa dimasukkan pada kotak kecil tipis bernama smart phone. Dimana-mana bisa membaca dan membuka jendela dunia. Menjadi semakin gila saat kemudian hadir aplikasi-aplikasi yang memudahkan untuk membaca dimana-mana, tinggal klik, sudah terhidang di depan mata.

Namun masalahnya, dunia literasi bangsa kita tetap menyedihkan untuk diceritakan. Saya tak perlu menyajikan fakta-fakta terkini untuk mendukung statement ini, sebab mudah sekali mencarinya. Cukup pergunakan keyword yang diinginkan, lalu Google memberikan data begitu banyaknya. Artinya, tak salah jika ada yang berasumsi, bahwa minat dan budaya baca kita begitu rendah. Kita sudah punya banyak modal untuk menjadi bangsa yang besar, tapi salah satu penghalangnya adalah konsumsi bacaan yang tetap rendah. Tak beranjak, dan cenderung makin parah.

Semakin menyedihkan saat kita menyadari, bahwa bacaan yang gemar dikonsumsi sudah teracuni informasi hoax, ujaran kebencian, menyerang orang, berbicara nyinyir, yang berpengaruh secara psikologis terhadap munculnya persepsi, asumsi, dan justifikasi salah terhadap sebuah realitas fan fenomena. Lihatlah bagaimana dunia medsos kita begitu tercemari dengan kabar dan informasi yang sejatinya adalah sampah.

Keadaan seperti itu berdampak secara langsung terhadap rendahnya minat menulis. Klop. Membacanya rendah, menulisnya pun pasti rendah. Begitulah yang terjadi, sebab sebagian kita lebih suka menulis status atau story di medsos. Itu masih mendingan dibandingkan dengan mereka yang nyetatus dan nyetorynya hal tak penting. Untung bukan sumpah serapah.

Saya bukan pembaca yang baik, apalagi penulis yang asik. Saya hanya pernah suka membaca dan menulis. Maka blog ini sejatinya adalah bagian untuk mempertahankan dan meningkatkan lagi apa yang pernah saya rasakan dan cintai. Sekian lama, tak dirasakan lagi. Sebelum rasa malas dan tumpulnya otak benar-benar membuatnya mati. Itu kenapa saya mulai menulis lagi; setidaknya mulai menyatukan lagi tulisan-tulisan lama yang terserak, sebelum benar-benar pergi.

Berharap dengan itu, ada semangat untuk kembali memulai yang telah menepi. Sederhana, tak perlu muluk-muluk dalam menulis. Biarkan mengalir saja. Siapa tahu ada yang tertarik untuk mengikuti menjadi semacam semangat yang tersalurkan untuk sama-sama mencintai (lagi) dunia literasi.

Kenapa menulis? Kenapa tidak ikut pasar dengan membuat akun Youtube lalu menjadi Youtuber dan mendapatkan banyak uang? Bukankah audio-visual itu lebih "bertahan" dalam benak pemirsa, terutama yang alay-alay dibandingkan teks? Hmmm. Ini mungkin soal preferensi dan bakat. Saya tak bisa dan tak terbiasa berlagak di depan kamera. Menjelaskan sebagaimana yang lain dengan jlentreh melalui kemampuan berbicara. Sementara, vokal saya di teks, bukan di bicara. Saya suka tulisan, bukan membuat video editan. Saya juya menyukai Youtube dan menikmatinya, untuk menyederhanakan dan lebih memudahkan pemahaman. Suatu saat, mungkin saja mencoba dengan tetap mempertahankan yang lama.

Ada rasa dan pesan psikologis yang berbeda dengan membaca dan menulis teks. Ia lebih bermakna, sebab ada emosi yang dimainkan sedemikian rupa, sepanjang kita membaca dan menulis. Itulah kenapa, karya yang dihasilkan dari keduanya bertahan lebih lama. Masuk ke dalam long term memory, jatuh dalam imajinasi.

Lebih dari itu, membaca dan menulis adalah cara mempertahankan rasa dan cinta. Yuk kita membaca menulis. Sebarkan jika hal ini juga yang Anda rasakan.

Tulisan ini sudah dimuat di afifianisme.wordpress.com.