Mohon tunggu...
Muslifa Aseani
Muslifa Aseani Mohon Tunggu... Momblogger Lombok

www.muslifaaseani.com

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Iftar Se-Baskom dan Dile Jojor, Masa Lalu Ramadhan

19 April 2021   14:03 Diperbarui: 21 April 2021   06:14 447 11 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Iftar Se-Baskom dan Dile Jojor, Masa Lalu Ramadhan
5-607d2789d541df5657251732.jpg

Rasanya belum berhasil mengulang kesan hangat, berbuka puasa beramai-ramai di masa kecil dulu. Saat itu, saya yang enam bersaudara, sedang sekolah semua. Si bungsu, satu-satunya yang balita. Saya dan kakak sulung, hanya selisih umur satu setengah tahun. Anak ketiga di bawah saya, selisih 4 tahun. Lalu selisih masing-masing 2 tahun dengan yang ke-4 dan ke-5. Ramai!

Setiap menjelang berbuka, kami semua sudah duduk melingkar. Almarhum bapak seorang guru SMP. Mamak, ibu rumah tangga yang full di rumah. Lalu, ada almarhumah nenek dari garis ibu. Jadi, sekali duduk, kami berbuka bersembilan orang. Ruang makan praktis tak bisa lagi menampung apa pun. Ruangan seluas 12 meter persegi, hanya bisa digelari tikar atau hambal. Usai berbuka, kami semua langsung menyambungnya dengan Maghrib berjemaah. 

Menu Serba Baskom Di Setiap Iftar Ramadhan

Hahaha. Iya, literally baskom. Maksudnya, menu-menu berbuka kami diwadahi di baskom, saking banyaknya. Jaman dulu, ya masih cantik-cantik si, walau baskomnya dari besi. Ada yang putih bersih, berhias kembang warna-warni. Ada juga yang merah menyala dan polos. Biasanya, baskom ini berisi sayur mayur. Paling sering, bahkan wajib, Pelecing Kangkung Lombok dan urap sayur. Lain waktu, pecel atau Olah-Olah (mirip pecel, tapi toppingnya santan pati kental dengan bumbu rempah khas Lombok).

Ilustrasi baskom, dari beberapa marketplace. Olahan pribadi
Ilustrasi baskom, dari beberapa marketplace. Olahan pribadi
Ajaibnya, selalu tandas! Maklum, saya lima bersaudara sedang usia sekolah semua. Sekali suap tidak cukup pakai sendok makan normal. Pakai tangan, rasanya bisa setara dua sendok makan! Nasi pun akhirnya disajikan pakai baskom. Ya itu tadi, karena ukuran normal piranti meja makan, tidak cukup menampung kombinasi nasi, lauk pauk, serta sayur untuk kami semua. 

Kalau saya ingat-ingat, serba tandasnya semua menu, karena antara masakan Mamak memang enak dan kami yang memang lagi rakus-rakusnya makan. Makin ramai jika Mamak berkesempatan memasak kolak. 9 mangkok pun turut berderet melingkar. Agak berbeda jika takjilnya kue-kue. Biasanya cukup disajikan di satu atau dua piring, lalu si piring estafet. Kami ambil jatah sesuai kebutuhan.

Rindu Keliling Kampung Pamer Dile Jojor

Yang ini, biasanya setelah tarawih dan di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Beberapa rumah tetangga berhalaman luas, paling sering kami datangi. Kadang, pas sedang super aktif, tangan kiri bawa 10 tusuk Dile Jojor, yang kanan bawa 5 dan satu tusuk yang sedang menyala.

Iya, Dile Jojor itu semacam lilin alami. Waktu itu, kami anak-anak usia sekolah SMA ke bawah, beramai-ramai membuat lilin alami ini sendiri. Mulai dari berburu biji jarak ke hutan, memecahnya, menghaluskan dan menjadikannya bertusuk-tusuk lilin. Sabar menunggui proses penjemuran sampai bakal lilin kering, lalu bersorak gembira ketika lilin mudah menyala. Berkat kering sempurna dijemur langsung di bawah matahari.

Ilustrasi Rumah Berhalaman Luas, dari web developer rumah. Olahan pribadi
Ilustrasi Rumah Berhalaman Luas, dari web developer rumah. Olahan pribadi
Kembali ke halaman rumah tetangga -- sekarang jadi tertawa geli sendiri kalo ingat, kami sangat yakin bahwa halaman tersebut memang butuh penerangan ekstra. Ya itu tadi, menancapkan Dile Jojor, sebisa mungkin tampak estetis dan tak ada lagi sudut halaman yang tampak gelap. Padahal, rasanya nggak minta ijin dulu. Main langsung masuk, tancap sana dan sini. Alhamdulillah, tidak ada drama pengusiran dan penolakan sih. Kan jaman itu belum ada sinetron ... :D

Sekarang, kira-kira, anak-anak saya akan punya kenangan apa ya?  

*Selong, 19 April 2021

VIDEO PILIHAN