Mohon tunggu...
Munawir Mandjo
Munawir Mandjo Mohon Tunggu... Menulis Suka-suka

Lahir dan tumbuh di kota yang memproduksi jagung rebus secara kolosal

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Menghentikan Kebiasaan Buruk Mengejar Prestise dari Hal Kecil Seperti Saat Membeli Masker

8 Juni 2020   13:14 Diperbarui: 8 Juni 2020   13:34 93 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menghentikan Kebiasaan Buruk Mengejar Prestise dari Hal Kecil Seperti Saat Membeli Masker
ekonomi.bisnis.com

Setelah pemerintah mewajibkan penggunaan masker, seluruh rekan kerja mulai kompak menggunakannya, tapi alih-alih sebagai pelindung mulut dan hidung, masker juga menjadi ajang prestise.

Nggak bisa dipungkiri hadirnya corona betul-betul mengubah perilaku masyarakat +62 yang selama ini terkenal kurang peduli untuk urusan kebersihan. Dari data riset Kementerian Kesehatan diketahui jika, hanya 20 persen dari total masyarakat Indonesia yang peduli terhadap kebersihan dan kesehatan.

Ini berarti, dari 262 juta jiwa di Indonesia, hanya sekitar 52 juta orang yang memiliki kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekitar dan dampaknya terhadap kesehatan. Tapi sejak corona hadir kebiasaan buruk ini berubah dalam tempo yang sesingkat-singkatnya

Aksi cuci tangan yang benar pun mulai digembar-gemborkan, saya sendiri bahkan baru paham ternyata ribetnya bukan main, tentu anggapan ini berlaku bagi saya yang selama Ini berfikir, cuci tangan hanya sekadar ngasi sabun, gosok sekenanya, lalu bilas deh. Atau paling tidak, cemplungin aja ke kobokan, beres. Tapi nyatanya harus dilakukan step by step. Membuat keyakinanku ambyar seketika.

Nggak hanya itu, sejak kasus corona terus berpacu pada garis grafik yang menanjak. Menteri kesehatan pun mulai menghimbau agar seluruh masyarakat wajib menggunakan masker saat berada di luar rumah, guna meminimalisir penularan corona. Anjuran ini pun berimplikasi pada kebutuhan masker yang semakin meningkat sehingga, tingginya angka permintaan, membuat banyak jenis masker beredar di pasaran.

Baik dari bentuk, motif, hingga harganya pun beraneka ragam. Dari yang bermotif polos hingga yang mirip macan tutul, dari kain biasa hingga yang premium, dari lima ribuan hingga yang ratusan ribu, dari yang handmade sampe yang bermerek, seperti masker N95. Nah, jenis masker yang terakhir ini, yang ramai digunakan di kantor tempat saya bekerja. Selain fungsinya, menurut salah seorang rekan kerja, ada kebanggaan tersendiri menggunakan masker jenis ini. Hal itu disebabkan karena harganya yang lumayan mahal dan berbeda dari masker yang digunakan masyarakat pada umumnya.

Bahkan suatu waktu saya pernah bertanya kepada salah seorang rekan kerja, alasan Ia sampai menghabiskan duitnya ratusan ribu buat memiliki beberapa lembar masker jenis ini. Jawabnya singkat "Lebih pede aja, kan lebih keren." Lha buat apa beli masker mahal-mahal kalo cuma untuk gaya-gayaan, batinku.

Padahal secara teknis jobdesknya nggak bersinggungan langsung dengan banyak orang. Meskipun tidak bisa dipungkiri jika masker jenis ini lebih tokcer dalam hal meminimalisir penyebaran virus, tapi jika tujuannya hanya sekadar untuk gaya-gayaan, kan lain lagi ceritanya.

Jika kita perhatikan seksama, gaya hidup semacam ini banyak kita jumpai di luar sana, mereka berupaya membangun citra atau image diri di tengah lingkungan pergaulannya lewat barang-barang yang mereka gunakan, meskipun pada dasarnya barang yang mereka beli bukan untuk sekadar memenuhi kebutuhan fungsionalnya.

Mereka memiliki kebiasaan buruk membelanjakan uang yang bukan pada skala dan prioritasnya; koleksi beberapa jam tangan mahal, sepatu dengan beragam merek terkenal, tas branded, serta beragam aksesoris yang membuat penampilannya tampak lebih ciamik. Hal itu semata dilakukan guna memperoleh label-label seperti; Aku up to date, aku gaul, aku bermartabat, aku modern, aku keren, aku kaya dan ke-aku-an lainnya, yang bisa ditonjolkan di tengah lingkungan pergaulannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN