Novel

Hembusan Angin Cemara Tujuh 27

11 Juni 2018   16:43 Diperbarui: 11 Juni 2018   16:48 382 0 0

*Hembusan Angin Cemara Tujuh 27*

Aneka warna pakaian yang dikenakan para mahasiswa baru di awal kuliah pagi ini. Ada yang berpakaian ala formal Internasional, setelan jas berdasi, saputangan nyembul sebagian di saku kiri jas. Sebagian dengan pakaian kasual santai, ada juga yang menyandang kostum khas negara masing masing; bergamis, koko China, topi ala Afrika dan tentu saja Wikarya, Sutopo, Deni dengan bangga mengenakan batik terbaik mereka.

Demikian juga para mahasiswa wanita , ada yang berbusana formal, kasual dan pakaian lainnya.

Dan, beberapa ladies dari Amerika Latin itu tampil paling menyolok dan seronok.

Suasana kelas itu penuh warna, modis dan gaya.

Prof Kim dari Korea Selatan, adalah dosen tamu pertama yang akan mengajar pagi ini. Selama seminggu penuh ke depan, sesi pagi dan sesi sore Prof Kim akan memberikan mata kuliah Ekonomi. Dan akan ditutup dengan ujian hari Senin depan.

Mengikuti dan melihat gaya Prof Kim membawakan  kuliah ini, Sutopo tak kuasa terkenang belasan tahun lalu mengikuti kuliah yang mirip di Bulak Sumur.

Terkenang mengikuti kuliah Pengantar Ekonomi yang diberikan Prof  Dr Mubyarto, guru besar muda yang smart dan menarik dalam membawakan kuliahnya. Terkenang, pak Muby sering menyampaikan kalau ilmu Ekonomi itu ratunya ilmu sosial. Karena pelajaran Ekonomi banyak menggunakan Mathematik dalam uraian dan penjelasannya. Sehingga hasil analisisnya akan lebih pasti dibanding analisis ilmu politik, Hukum dan ilmu sosial lainnya.

Meskipun ini dibantah, ketika diskusi tentang Ratu Ilmu Sosial ini dengan Kinanti. Kinanti berargumen ada istilah *Ceteris Paribus* dalam ilmu Ekonomi, artinya ada asumsi bahwa faktor faktor lainnya tidak berubah, padahal dalam kenyataan faktor lain itu pasti berubah.

Menurut Kinanti, hasil analisi ilmu Psikologi malah lebih memberikan kepastian, karena melalui rangkaian penelitian dengan ilmu Statistik yang canggih.

Kala itu, mereka sepakat untuk tidak bersepakat, mengenai siapa yang pantas menjadi Ratu ilmu Sosial. No matter lah.

Kenangan akan pak Muby, tidak lengkap kalau tidak ingat awal tahun 1980. Kala itu Pak Muby CS menggagas kajian tentang Ekonomi Pancasila. Barangkali itu sebagai ekspresi kegelisahan para dosen di Cemara Tujuh terhadap perkembangan perekonomian Orde Baru, yang dalam praktiknya cenderung mengadop teori Rostow, Trickle Down Effect.

Efek cucuran ke bawah, yang efeknya belum ber efek merata ke bawah.

Ide Ekonomi Pancasila tahun tahun itu menjadi gelombang isu Nasional yang dibahas, diseminarkan dimana mana. Mengudar Filosofi, Visi dan tujuan, Strategi, Roadmap dan juga bagaimana mengeksekusi menjadi topik hangat yang tersiar di Televisi, terberita di Koran Majalah, juga diskusi di Kampus kampus maupun institusi Pemerintah. Gegap gempita.

Sutopo yang kala itu telah menjadi mahasiswa tingkat Sarjana, mengikuti hiruk pikuk diskusi ini. Sutopo berpendapat dari filosofi, pilar sampai bagaimana implementasi Ekonomi Pancasila, tulisan dosennya DR Boediono, memberikan penjabaran konsepsi yang jelas, runtut dan sistimatis.

Akhirnya bagaimana nasib konsep Ekonomi Pancasila itu? Tidak termaktub dalam UU atau Peraturan Pemerintah. Namun barangkali sudah ajur ajer dalam praktik pelaksanaan Ekonomi Nasional saat ini.

Dan, sekarang di Rotterdam dirinya mengikuti kuliah konsepsi dan teori Ekonomi Nasional ala Amerika.

Selama seminggu kembali mengunyah kuliah Makro, Mikro Ekonomi yang telah lama terlupakan, merefresh kembali pemahaman pokok pokok ilmu Ekonomi; Produksi, Distribusi, Konsumsi, Harga, Ekuilibrium, supply, Demand, Inflasi, GDP, dst.

Kuliah itu juga diwarnai diskusi diskusi tentang sukses story ekonomi suatu negara.

Kisah sukses Korea Selatan sukses yang memulai dari Industri Utama, Back Bone industry. Kemudian terjadi konglomerasi yang melahirkan supplement industry, industri industri kecil yang mensuply industri besar. Dan Korsel sukses besar. Konon kesuksesan Korsel juga dipicu oleh sentimen semangat negara itu untuk mengejar dan mengalahkan Jepang, karena pengalaman buruk sejarah masa lalu, perseteruan dua negara itu.

Belajar sukses dari Taiwan. Seolah menjadi kebalikan dari kesuksesan Korsel. Negara memulai dengan menggerakkan industry peripheral, industry pinggiran, industry kecil. Dari ribuan sukses industry kecil, Taiwan melahirkan sukses sukses industri besar yang berbasis pada industri kecil.

Model mana yang cocok untuk Ekonomi Indonesia?

Hari Jumat siang, pada kuliah terakhir, prof Kim membuka diskusi tentang fenomena kebangkitan ekonomi China. Kebangkitan yang di komandani oleh sosok tua presiden Tiongkok, Deng Xhio Ping.

Negara negara tirai ini, Tirai Besi ( Rusia ) maupun negara Tirai Bambu ( China ) mulai menunjukan geliat dan gejala modernisasi. Terutama negeri China.

Topik ini riuh memancing diskusi mahasiswa. Ada yang optimis, banyak juga yang pesimis terhadap keberlangsungan sustainability kebangkitan China.

Diskusi seru ini ditutup dengan kutipan kata kata Deng Xhio Ping yang terkenal " Saya tidak peduli warna kucingnya, apakah hitam atau putih, sepanjang kucing itu dapat menangkap tikus"

Seolah kalimat itu mewakili kebatinan dan praktik pemerintahan China saat ini, berideologi formal Komunis, namun dalam praktiknya adalah Kapitalis.

*Bersambung*