Mohon tunggu...
Ika Mulya
Ika Mulya Mohon Tunggu... Melarung Jejak Kisah

Pemintal Aksara

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Sepenggal Cinta yang Tersesat

16 April 2020   21:08 Diperbarui: 16 April 2020   21:25 43 8 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Sepenggal Cinta yang Tersesat
sumber: Pixabay



Bagi Han, bulan April selalu membawa kebahagiaan tersendiri. Banyak peristiwa manis dalam hidupnya terjadi di bulan keempat ini. Salah satunya, pertemuan pertama dengan Ryukie di sebuah klub kebugaran ternama ibu kota tahun lalu. Ulang tahun mantan kekasihnya itu dan tanggal mereka memutuskan resmi berpacaran, semua jatuh di bulan yang sama. April.

Termasuk senja ini, sepenggal hari di bulan April yang masih diguyur hujan. Setelah berhasil mengabaikan gengsi, Han mengajak Ryukie untuk bertemu di caf favorit mereka. Tidak disangka-sangka, ajakannya ditanggapi manis oleh sosok yang pernah jadi pujaan hati. Membuat laki-laki bertubuh atletis itu berharap, hubungan cinta yang terputus selama tiga purnama bisa kembali terjalin.

"Oke deh, aku setuju kita ketemuan di sana. Hmmm, kebetulan ada yang aku pingin omongin langsung." Begitu jawaban lembut Ryukie saat Han menelponnya dua hari lalu.

"Mudah-mudahan aja, bukan mau ngundang aku ke ... ke pernikahan kamu," harap Han dengan nada galau yang tak dapat ditutup-tutupi. Suaranya parau dan sedikit tersendat. Dia tengah berada dalam ambang sukacita sekaligus cemas.

"Hahaha. Bukan, bukan! Belum kepikiran sejauh itu, Han. Aku masih jomblo, kok," balas Ryukie riang. Sama sekali tak terdengar suaranya meninggi penuh emosi seperti terakhir kali mereka bertengkar.

Laki-laki usia 28 tahun dengan garis rahang tegas itu seolah mendapat angin segar. Peluang untuk kembali mereguk bahagia bersama Ryukie masih terbuka lebar.

"Syukur, deh. Aku jadi nggak sabar nunggu besok lusa. Kangen banget sama kamu. Thanks ya, Babe. See you." Kalimat Han berubah, terdengar sedikit lega. Dia tetap mengucapkan 'muah-muah' dengan mesra, sebelum menutup percakapan. Namun dari seberang sana, tidak ada balasan serupa seperti sediakala.    

Perjalanan dari Depok menuju caf di kawasan Senayan, menyeret pikiran Han ke pusaran masa-masa indah. Rute yang sama pernah berkali-kali dia lintasi bersama kekasih tersayang.

"Come on, be my baby, come on. Come on, be my baby, come on. I'm in love with your body ...."

Han bersenandung ceria, melantunkan lirik lagu Shape of You yang dulu kerap dinyanyikan bersama Ryukie. Bahu tegap pria macho itu bergoyang ringan, mengikuti irama musik dari perangkat audio mobil.

Bak lazimnya sekeping hati yang tengah bernostalgia, semua kenangan yang tersimpan rekat, seakan kian padat. Sangat memikat untuk diingat. Tak hanya bersarang di kalbu, tetapi juga berhimpun di celah-celah pembuluh otak, lalu setia hadir di setiap detak. Menjadi sedemikian sulit bagi pria itu untuk melenyapkannya begitu saja dari pikiran. Kemudian kini, hujan yang tak seberapa deras, membuat deretan memori semakin terpapar jelas. Momen pahit dan manis merebut saling melintas.

Cinta yang Han miliki memang berbeda dari pria-pria pada umumnya. Banyak perempuan cantik dan seksi berkumpul di klub tempat dia bekerja. Di antara mereka, tidak sedikit yang--bahkan tanpa malu-malu--menyatakan ketertarikan. Entah sebab adanya benih-benih cinta, atau sekadar mencari sensasi kenikmatan sesaat atas nama suka sama suka saja.

Namun, hanya pada Ryukielah, gejolak rasa yang selama ini dipendam dapat dia tumpah curahkan. Han tidak peduli komentar sumir bernada nyinyir. Yang terpenting bagi pria itu, Ryukie menerima cintanya dan bersedia menjadi kekasih hati. Kali pertama seorang Johansyah memberanikan diri mengekspresikan seluruh perasaan tanpa beban.      

***

"Ah, nggak mungkin cowok macho dan ganteng kayak kamu gini, jomblo! Pasti bokis, deh," ucap Ryukie, setelah mendengar pengakuan Han. "Member klub di sini pasti banyak yang naksir kamu."

Han tersenyum tipis sambil tetap membantu Ryukie melakukan gerakan squat yang benar. Dua tangannya memegangi bahu member baru itu, agar tetap tegap ketika tubuh bergerak ke bawah.

"Hmmm, yang naksir aku emang banyak. Ada juga tante-tante yang pengen aku jadi instruktur pribadinya. Tapi, aku enggak tertarik," jelas Han diiringi lengkung bibir lebih melebar, memperlihatkan barisan gigi yang putih dan rapi.

Ryukie membalas senyum Han dengan tatapan yang tak kalah menawan. Lembut, tetapi menghanyutkan. Membuat pria rupawan itu merelakan diri tenggelam dalam sepasang mata bening di depannya. Terbukti dengan tidak beralih sedetik pun dari memandang iris coklat Ryukie. Seolah baru saja menemukan telaga kehangatan yang sungguh nyaman. Tempat tepat untuk melabuhkan debar-debar rasa yang tak biasa.

"Emang kamu tertariknya sama yang gimana?" tanya Ryukie centil, lalu menghentikan gerakan squat-nya di hitungan kedua belas. Dibantu Han, dia lantas melakukan plank.

"Sama kamu. Swear!" jawab Han, sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya.

"O, my God! Beneran?" Sontak Ryukie mengubah posisi tubuh. Senyum merekah di bibirnya yang dioles lipbalm. Seketika wajahnya pun bersemu merah jambu. "Tapi, ... kamu tau, kan? Hmmm, aku ini ----"

"Yes, aku tahu, kok. Justru karena itulah, ada yang bergetar di sini," potong Han seraya menyambar tangan Ryukie, lalu menempelkan di dadanya yang bidang.

Sejak itu, pada akhir April tahun lalu, Han dan Ryukie mulai memadu kasih. Hanya di awal saja, keduanya menutup-nutupi kisah cinta yang tengah merekah hangat. Tak berselang lama, hampir semua orang di sekitar mereka mengetahui apa yang terjadi di antara dua sejoli itu. Kehidupan metropolitan yang bebas memberi tempat bagi Han dan Ryukie mereguk asmara. Kemesraan bisa terjadi di mana saja. Mereka sama sekali tidak mempedulikan cibiran dan sindiran.

Sampai suatu hari, sikap Han yang terlalu posesif membuat kekasih tersayang merasa tak nyaman. Seketika cinta yang menggebu-gebu dan keromantisan pria itu menjadi tak ada artinya lagi di hati Ryukie. Manakala cemburu melanda, Han tiba-tiba bersikap kasar dan lihai melontarkan kata-kata makian.

"Ngapain lu di apartemen Tio, hahh? Dibayar berapa lu, buat ngeladenin dia orang?" Pertanyaan sinis Han membuat Ryukie langsung menangis. "Dasar pecun!" makinya. Secepat kilat laki-laki itu mengambil cangkir di meja, lalu melempar tepat ke arah pacarnya.

Ryukie meringis, memegangi bahunya yang kena lemparan cangkir. Cairan kopi langsung membasahi baju, meninggalkan noda hitam. "Swear, aku ng-nggak ngapa-ngapain! Dia cuma nawarin kerjaan di acara tivi, Han," jelasnya diiringi isak. Air mata mengucur deras menuruni pipi mulusnya yang memerah.

Han mendekati Ryukie. "Bo'ong! Awas aja kalo lu sampe berani ngekhianatin gue, ... gue abisin lu!" ancamnya.

Han mencengkeram kerah baju lawan bicaranya. Wajah garang laki-laki pencemburu itu hanya berjarak sejengkal dari paras sendu Ryukie. Tindakan yang entah disadari atau tidak telah menorehkan luka di raga, hati, sekaligus mengoyak harga diri kekasihnya.

"Kalo elu nggak percaya, ya udah! Gak berarti elu bisa seenaknya nyakitin gue terus!" pekik Ryukie lantang. Tatapan yang semula sayu seketika berkilat tajam. Dua tangannya mengepal kuat, menahan geram. Dia bangkit dan meninggalkan pria itu. "Bye!" seru Ryukie saat membanting pintu.  

Putus hubungan menjadi akibat pahit yang harus ditelan bersama.  

***

Bukan hanya satu atau dua kali Ryukie mendapat perlakuan kasar. Saat dia kecil, ayahnya kerap membentak dan memukul. Dua pacarnya yang terdahulu pun bertabiat sama, senang menghardik, gemar menampar. Jiwa lembut Ryukie tidak mampu menanggung sendiri semua rasa yang berkecamuk. Jenuh, muak dan gamang bercampur aduk. Pada Akbar, teman sekampung halaman, dia curahkan segala kegalauan.

Ryukie tak ingin lagi menjadi sosok yang lemah. Dia ingin segera bangkit, tetapi sulit berkelit dari segenap hasrat sesat yang melilit. Dia meyakini pasti ada cara, meskipun entah bagaimana prosesnya. Bingung.

Akbar yang pendiam dan tenang, mengajak Ryukie ke seorang pakar. Tidak cukup hanya mendatangi psikolog, laki-laki itu juga mengajaknya ke pengajian.

"Apa mereka akan menerima kehadiran makhluk kotor ini?" tanya si manis, merasa pesimis.

Dengan wajah tanpa ekspresi, Akbar menjawab, "Berprasangka baik saja. Insya Allah, selalu ada sambutan positif di jalan kebaikan."

Melewati masa tiga bulan yang berat, Ryukie berhasil berdamai dengan masa lalu. Bersusah payah dia singkirkan desir-desir rasa yang salah. Serius mengatur ulang jati dirinya. Termasuk mengabaikan bujuk rayu Han yang ingin kembali ke pelukan. Namun, peluang persahabatan masih dia sisakan. Karena itulah, akhirnya Ryukie mengiyakan ajakan Han untuk bertemu.

"Pertemuan dua sahabat. Sekedar berbincang, kurasa nggak ada salahnya," dalih Ryukie saat Akbar menanyakan alasan kepergiannya ke Bruno's Caf.  

***

Han mengayun langkah memasuki Bruno's Caf dengan penuh rasa percaya diri. Kemeja biru berlengan pendek membuat tangannya yang berotot tampak jelas. Begitu pula celana jeans ketat yang pria itu pakai, menunjukkan bahwa dia memiliki sepasang kaki yang kuat dan kencang. Han lantas mengedarkan pandangan ke ruang caf, tetapi tak menemukan sosok yang dicari.

Setelah beberapa kali menyisir dari sudut ke sudut, penglihatan Han lalu tertumbuk pada seseorang yang melambai-lambaikan tangan. Walaupun tampak terkejut, tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Han tetap menghampiri. Dia masih mengenali senyum itu, juga hafal dengan tatapan lembut yang pernah begitu ... menghanyutkannya.

"Ryukie?"

"Ya, ini aku," ucap orang itu lalu berdiri dan mengajak Han berjabat tangan. "Apakabar? Jangan bengong gitu, ah. Ayo, duduk!"

Dia menyambut ramah. Tubuhnya dibalut kemeja garis-garis yang agak longgar. Yang paling menonjol adalah potongan rambut super pendek dan tanpa riasan make up. Bahkan rambut-rambut halus dibiarkan tumbuh di wajahnya.

Han yang semula ceria mendadak kehilangan ekspresi, datar dan pucat. Dia duduk tanpa melepaskan tatapannya pada sosok pria yang dulu dipanggil dengan nama 'Ryukie'. Meskipun jauh dari kata macho, mantan kekasihnya itu jelas-jelas telah banyak berubah. Kecuali sepasang mata yang tetap bening dan hangat.

"Kamu ...." Han tercekat. Semua kata yang semula ingin disampaikan, urung diucapkan. Terpaku kaku lalu membisu, menatap pria itu dengan mulut sedikit terbuka. Masih belum percaya dengan pemandangan di depannya. Han tahu persis, selama ini Ryukie adalah Marzuki. Namun, dia tak menyangka Ryukie akan ....

"Inilah yang ... ummm, ingin kuperlihatkan. Aku pingin kamu tahu perubahanku," Ryukie berkata dengan senyum penuh keyakinan.

"A-aku... aku ...."

"Aku memutuskan berhijrah. Bertobat. Itu saja intinya," ungkap pria berwajah manis itu singkat, tetapi menjelaskan banyak hal. "Kamu pasti paham."

Han diam, menatap ke luar caf. Pada wajah yang pias itu, pandangannya kosong.

"Lupakan semua yang pernah kita lakukan, Han. Itu hasrat yang sesat."

Senyap menyergap keduanya. Satu pria menundukkan kepala, yang lain entah menatap apa di luar sana. Tidak ada lagi momen-momen bertatapan penuh gairah. Saling senyum penuh cinta pun musnah. Apalagi bergenggaman tangan mesra, lenyap sudah.

"Sudah siap pesan, Pak?" Pertanyaan pelayan caf mengagetkan mereka.

Han berdiri, lalu pergi tanpa permisi. Lagu All I Want milik Kodaline mengiringi langkahnya.

Ryukie alias Marzuki tak memanggil-manggil sang mantan, atau mengejarnya dan melanjutkan percakapan mereka di luar Bruno's Cafe. Usai mendesahkan napas lega, Marzuki bergumam, "Alhamdulillah." Mulutnya lalu komat kamit mengucapkan sebaris permohonan, "Ya Allah, berilah hamba-Mu ini keteguhan hati."

Deras hujan di pertengahan April juga mengguyur hati Marzuki. Menghapus pupus semua lakon hidupnya sebagai Ryukie, pria penyuka sesama jenis. Esok Ramadan datang. Jalan tobat telah dia putuskan dengan matang. Sebenarnya, --atas nama sayang-- dia ingin mengajak Han berhijrah, tetapi lelaki itu telanjur pergi begitu saja.

"Aku yakin kamu juga pasti bisa, Han. Memang berat, tapi Allah Maha Pengampun," bisik Marzuki pada diri sendiri. Berdiri tegak, dia pun keluar ruangan, menyusuri jalan yang berlawanan arah dengan Han. 

TAMAT        

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x