Mohon tunggu...
Muksal Mina
Muksal Mina Mohon Tunggu... Lainnya - Candu Bola, Hasrat Pendidik

Be a teacher? Be awakener

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Sepak Bola Tak Lagi Romantis?

26 Agustus 2020   16:43 Diperbarui: 26 Agustus 2020   16:32 357
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Francesco Totti, simbol one man one club terakhir? (Sumber : www.essentiallysports.com)

Bal-balan bukan lagi semata sebuah cabang olahraga. Sepakbola telah berkembang menjadi sebuah industri. Andriano Galliani, CEO legendaris AC Milan memaparkan dalam biography Carlo Ancelotti Quiet Leadership, bahwa tugas seorang manajer adalah memastikan tim meraih kemenangan. Sedangkan tugasnya sebagai CEO adalah mengemas klub sebagai sebuah industri.

Bertaburnya para miliarder yang menjadikan klub sepakbola sebagai mainan bisnis menjadikan lapangan hijau sebagai alat penyedot profit. Pendukung MU sempat protes saat Keluarga Glazer membeli klub. Glazer dituding sebagai orang yang tak paham sepakbola. Mereka hanya mengerti bisnis.

Kecenderungan untuk mencari profit ini menciptakan kondisi tim haruslah berprestasi secara konsisten. Pelbagai cara ditempuh. Cara termudah tentu mendatangkan pelatih dan pemain kelas satu. Asal ada cuan, siapapun bisa direkrut.

Ada yang datang, ada yang pergi. Status legenda tak menghalangi klub untuk menendang seorang pelatih atau pemain keluar tim bila dirasa tak lagi berguna. Untuk apa mempertahankan romantika bila tak membawa piala?

Real Madrid adalah contoh paling mudah. Kurang apa Raul dan Cassilas sebagai legenda klub? Toh akhirnya dibuang jua, saat klub merasa saatnya memberi jalan untuk darah-darah baru. Klub butuh revolusi!

Para Cules, fan Barcelona, dulu menertawakan itu. Menyebut Madrid sebagai klub nan tak mampu memperlakukan para legenda. Toh, akhirnya Andreas Iniesta dan Xavi Hernandez mengalami nasib yang sama. Messi menyusul?

Latar belakang sebagai pebisnis menjadi alasan fans menuding para pemilik klub tak paham arti memiliki legenda dalam hirarkis klub. Meski sebenarnya terkadang mereka juga berperan dalam keputusan-keputusan transfer klub. Lah, kan fans juga yang ingin juara tiap musim! Begitu mungkin alasan direksi.

Godaan gaji yang lebih besar kadang juga menjadi penyebab. Hal yang lumrah dalam 20 tahun belakangan, pemain-pemain tenar yang menua namun belum mau pensiun akan memilih pindah ke MLS atau Liga-liga di Asia semisal Liga Qatar, China, India dan jepang. Lumayan, penghasilan yang diterima terkadang lebih besar dari Eropa.

Kompilasi Permainan nan Cepat, Fisik Menua dan Young Guns Berserakan.

Tak mampu lagi beradaptasi dengan permainan yang semakin cepat. Begitu alasan paling umum klub melepas legenda yang telah berumur. Baik dengan menjual ataupun tidak memperpanjang kontraknya.

Sepakbola sekarang memang lebih dinamis. Taktik yang diterapkan pelatih membutuhkan fisik prima dari sebelas pemainnya. High pressing menjadi tuntutan. Kemampuan jelajah jadi poin plus yang disorot dari seorang pemain. Alhasil, pemain-pemain 'tua' mulai tergusur dari status pemain inti. Kecuali mampu beradaptasi dengan posisi yang tak terlalu menuntut aktifitas fisik. Deep lying playmaker seperti Pirlo misalnya.

Akan tetapi, ketimbang meminta pemain senior untuk beradaptasi dengan posisi baru yang bisa jadi akan menimbulkan konflik, klub terkadang lebih memilih mendatangkan pemain yang lebih segar. Perhatian nilai transfer anak-anak muda sekarang. Ngeri! 50, 80, 120 juta adalah harga 'normal' akhir-akhir ini. Meski kemudian tak sedikit yang justru tenggelam, dihimpit beban harga transfer.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun