Hiburan

Pembunuhan Budaya Literasi

11 Januari 2018   21:28 Diperbarui: 11 Januari 2018   22:41 560 0 0

Mahasiswa adalah tombak peradaban yang harus diasah dan mengasah dengan buku, tetapi tidak sedikit mahasiswa yang mau bersusah payah membuka lembaran buku. Apalagi harus merangkak bermeter-meter jauhnya hanya untuk membaca di perpustakaan hingga mata memerah. Mahasiswa lebih suka memanjakan mata dengan bahan audio visual seperti tv series atau drama Korea.

Jika hal ini terus berlanjut, budaya literasi akan mati dan menghilang dari Bumi Pertiwi. Salah satu pelaku dari pembunuhan ini tidak lain dan tidak bukan adalah globalisasi. Globalisasi telah menyerap ke setiap sendi kehidupan kita, mulai dari ekonomi, sosial, sampai budaya. Tren barat dan timur mudah merasuk dalam jiwa, pemikiran, dan raga kita melalui berbagai media informasi daripada seonggok buku. Buku-buku Pramoedya Ananta Toer terkubur dalam debu di rak-rak perpustakaan karena mahasiswa lebih memilih tv seriesGame of Throne dan Running Man sebagai sarapan di pagi hari.

Keprihatinan saya tidak berhenti pada pemikiran muda yang dipenetrasi oleh budaya luar negeri, tetapi juga pada kurangnya kesadaran akan hakikat mahasiswa itu sendiri sebagai kaum literer. Saya mempunyai teman sekelas yang tidak mempunyai kartu perpustakaan. Padahal, dirinya bersemayam di Prodi Sastra Indonesia selama 2,5 tahun. Saya bertanya alasannya, dan dia hanya menjawab, "Tidak mau ribet dengan administrasi kampus."

Identitas sebagai kaum literer pun perlahan-lahan akan luntur dari diri mahasiswa jika hal ini berlangsung tanpa ada tindakan nyata. Memang sulit untuk menyalahkan antara mahasiswa yang tertidur atau globalisasi yang semakin marak karena keduanya bekerja sama dalam serangkaian percobaan pembunuhan budaya literasi. Jika globalisasi adalah pemilik pisau yang menancap di jantung budaya literasi, ketidaksadaran dan ketidakpedulian mahasiswa akan pentingnya membaca adalah pembungkam mulutnya agar tidak berteriak meminta tolong.

Penebusan Dosa

Perlu adanya penyelidikan lebih lanjut, baik di TKP maupun tersangka, untuk mengecap globalisasi sebagai pembunuh utama budaya literasi. Akan tetapi, kita tidak dapat memvonis mati globalisasi karena kehidupan kita tidak bisa lepas darinya. Tindakan yang tepat adalah merantainya dan memanfaatkannya untuk menghidupkan kembali budaya literasi.

Salah satu dampak globalisasi adalah era digital. Banyak sekali wadah karya sastra dalam dunia maya berupa situs yang dapat dikelola sendiri seperti wordpress.com dan blogspot.com. Kita bisa menggunakan jaringan internet untuk menyebarkan cerpen, novel, atau naskah drama yang kita miliki kepada khalayak, bahkan mempromosikannya untuk tujuan ekonomis seperti Dewi "Dee" Lestari yang berhasil mem-bestseller-kan novel Supernova (2001) di ranah nasional dan internasional. 

Memang ketenaran Dee dibantu dengan kariernya sebagai penyanyi, tetapi perannya di dunia maya sebagai promotor adalah penentu kesuksesannya di dunia tulis-menulis. Selain wadah untuk menulis, internet adalah jendela maya untuk membaca. Ada puluhan penulis dan ratusan karya yang boleh dibaca secara gratis di internet. Berlatarbelakangkan kutipan terkenal Pramoedya Ananta Toer, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah" atau hanya pelepas penat, masyarakat berlomba-lomba membangun situs dengan karya-karya mereka sendiri.

 Globalisasi seperti koin: satu sisi bersifat positif dan satu sisi lagi bersifat negatif. Globalisasi membunuh budaya literasi, tetapi globalisasi juga bisa menebus dosanya dengan membangkitkan kembali budaya literasi dari kubur. Kita dapat memanfaatkan globalisasi demi perkembangan baca dan tulis, tidak hanya pada diri mahasiswa, juga pada masyarakat umum. Sekarang hanya tinggal kesadaran diri masing-masing: ikut serta dalam pembunuhan budaya literasi atau ikut serta menghidupkannya.