Mohon tunggu...
Muis Sunarya
Muis Sunarya Mohon Tunggu... Lainnya - Menulis tentang filsafat, agama, dan budaya

filsafat, agama, dan budaya

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Santai di Pantai Anyer, Merindu Berenang di "Kolam Renang Raksasa"

28 Oktober 2020   11:42 Diperbarui: 29 Oktober 2020   07:49 481
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Laut Anyer/dokumen pribadi (MUIS SUNARYA)

Baca juga: Pantai Anyer Pasca Gunung Anak Krakatau "Murka" 

Saya, pun anak-anak enggak pernah merasa bosan dengan pantai, pasir putih, ombak, karang, dan biru toska air laut. Justru ada ritual rindu dengan laut. 

Jadi, ke pantai Anyer itu, saya sebenarnya pulang ke kampung halaman, tempat di mana saya dilahirkan, dan sekalian, anak-anak saya itu temu kangen dengan kakek dan neneknya (baca: Ayah dan Ibu saya). 

Oleh karena itu, rasanya tidak afdal, ada yang hilang, dan kurang, ketika kebetulan pulang, kalau tidak ke laut. Laut adalah kehidupan yang unik, menarik, penuh misteri, indah memesona, dan sarat makna.

Ilustrasi Laut Anyer/dokumen pribadi (MUIS SUNARYA)
Ilustrasi Laut Anyer/dokumen pribadi (MUIS SUNARYA)
Lebih-lebih, sekarang itu pantai Anyer sudah dikelola begitu baik dan menarik, dengan menyediakan berbagai fasilitas wisata pantai relatif lengkap untuk menarik wisatawan menikmati destinasi pesona wisata pantai dan bahari di kawasan pantai Anyer.

Bertaburan hotel, cottage, villa, penginapan (homestay), pantai terbuka, bermain jet ski, snorkeling, menyelam menikmati indahnya pemandangan bawah laut, terumbu karang, ikan-ikan kecil berwarna-warni, banana boat, dan sebagainya, termasuk wisata kuliner khas laut. Itu semua bisa dinikmati di kawasan wisata pantai Anyer.

Ilustrasi Pantai Anyer/dokumen pribadi (MUIS SUNARYA)
Ilustrasi Pantai Anyer/dokumen pribadi (MUIS SUNARYA)
Laut itu memiliki makna yang dalam bagi saya. Laut itu airnya asin. Beda dengan sungai atau danau. Tapi yang hidup di (air) laut tidak pernah ikut-ikutan menjadi asin. 

Makanya, ada nasihat dari kiai saya saat nyantri dulu, terngiang-ngiang di telinga, dan meresap di relung hati saya, "Anak-anakku, hiduplah kalian di tengah masyarakat nanti seperti ikan yang hidup di laut. Kalian harus mampu melukis dan mewarnai hidup kalian. Jangan larut dan mau diwarnai. Kalian harus punya prinsip dalam hidup."

Lain lagi menurut Gede Prama, penulis dan motivator yang selalu menginspirasi dan luar biasa itu.

"Sebagai Ibu, laut adalah simbol cinta karena apa saja yang datang diolah penuh cinta. Sebagai Ayah, laut adalah wakil keikhlasan sempurna karena menerima apa saja tanpa keserakahan memilih."

Demikian mengutip quote Gede Prama dalam bukunya, "Simponi di dalam Diri: Mengolah Kemarahan Menjadi Keteduhan" (Gramedia, 2009, h. 135).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun