Mohon tunggu...
Muis Sunarya
Muis Sunarya Mohon Tunggu... Lainnya - Menulis tentang filsafat, agama, dan budaya

filsafat, agama, dan budaya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jika Sekadar Berdoa kepada Allah, Kenapa Mesti Jauh-jauh ke Makkah?

27 Juli 2020   07:28 Diperbarui: 31 Juli 2020   07:16 747
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kalau hanya jawaban seperti itu, maka logikanya, bukankah semua ibadah, bukan haji saja, adalah perintah Allah, seperti salat, puasa, zakat, dan lain-lain?

Autokritik atas Motif Negatif Oknum Beragama
Jika ada motif-motif lain, selain perintah Allah (motif agama), maka itu cenderung adalah ekses negatif dan perilaku tak terpuji dari orang (oknum) beragama.

Sebut saja, misalnya, karena berhaji itu sebuah prestise, simbol status sosial, berburu huruf "H", sekadar tamasya dan jalan-jalan, bukan untuk meraih haji mabrur, tapi justru haji (ta)kabur, demi meraup keuntungan finansial dari momen ritual wajib setahun sekali ini, dan seterusnya, sebagai motif-motif negatif dan tidak terpuji lainnya dalam menunaikan ibadah haji.

Kalau ini semua--niat dan motif negatif tadi--dimiliki oleh seorang jemaah haji, maka muspra dan sia-sialah ibadah hajinya.

Menarik autokritik Gus Mus (KH. A Mustofa Bisri) atas fenomena ritual haji ini lewat larik dalam salah satu puisinya berjudul, "Selamat Tahun Baru, Kawan".

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan dosa besar.

Lalu pulang membawa label suci asli made in saudi "HAJI" | Larik dalam puisi Gus Mus (KH. A Mustofa Bisri), berjudul, "Selamat Tahun Baru, Kawan".

Sungguh disayangkan, kenapa berdoa kepada Allah saja mesti pergi jauh-jauh ke Makkah, berpakaian ihram, tawaf mengitari Ka'bah, sai dari Safa ke Marwah, wukuf di Arafah, dan manasik haji lainnya, jika pada akhirnya sekadar fatamorgana dan sandiwara berhaji.

Bukankah haji adalah perjalanan spiritual untuk meneguhkan kesadaran bahwa hakikatnya perjalanan hidup kita menuju Allah, Yang Maha Pencipta?

Bukankah dengan berpakaian ihram serba putih tak berjahit itu, mengingatkan kita pada kematian? Bukankah hanya sehelai kain kafan yang kita kenakan saat kita diusung ke kubur?

Bukankah tidak ada yang lainnya dari apa pun secara materi, yang kita miliki di dunia ini--selain kain kafan itu--yang bisa dibawa saat kembali menghadap Allah untuk selamanya?

Bukankah sejauh apa pun perjalanan kita pada akhirnya kembali berputar kepada Asal Muasal kehidupan kita dan semesta ini, yaitu Allah, seperti layaknya jemaah haji melakukan tawaf, mengelilingi Ka'bah?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun