Mohon tunggu...
Muhammad Harun Arrasyid
Muhammad Harun Arrasyid Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa S1 Universitas Airlangga

Memiliki ketertarikan kuat terhadap isu-isu seputar dunia investasi dan lingkungan. Saat ini tengah serius mengembangkan hardskill photography, digital marketing dan desain grafis dengan harapan dapat mencapai kebebasan finansial di usia muda. Lebih memilih bekerja atau belajar di situasi yang tenang, mengisi energi melalui refleksi diri, nonton film dan series serta bercengkerama dengan teman.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Melihat Budaya Jepang dari Kacamata Lain: Benarkah Budaya Anime Merupakan "Budaya Impor" yang Toksik?

23 Juni 2022   17:30 Diperbarui: 23 Juni 2022   17:33 69 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Photo by Dex Ezekiel on Unsplash (Source: https://unsplash.com/photos/IxDPZ-AHfoI)

Di zaman yang serba mudah ini, siapa yang masih tidak mengenal istilah Anime? Sebuah karya animasi khas jepang yang cenderung memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik yang lebih kompleks dibandingkan dengan animasi kartun pada umumnya sehingga membuat para penikmatnya seringkali memiliki suatu ikatan emosi yang kuat dengan anime yang ditontonnya. Anime merupakan istilah singkatan dari アニメーション (Animēshon) yang merupakan kata serapan dari kata “animation” dalam bahasa Inggris. Di luar Jepang, istilah anime secara spesifik digunakan untuk menyebutkan segala animasi yang diproduksi di Jepang.

Anime mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1970-an melalui penayangan anime berjudul Wanpaku Omukashi Kumu Kumu di saluran televisi publik utama saat itu, TVRI. Tahun-tahun berikutnya, stasiun-stasiun TV di Indonesia mulai berlomba-lomba menayangkan anime dimulai dari Doraemon di RCTI, Dragon Ball di Indosiar, Samurai X di SCTV, Naruto di GlobalTV, hingga saat ini NET TV dan RTV menjadi dua stasiun TV yang masih aktif menayangkan anime di pertelevisian Indonesia.

Kepopuleran anime di Indonesia bisa dirasakan oleh banyak orang dari berbagai kalangan usia mulai dari remaja hingga dewasa bahkan anak-anak sekalipun. Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap budaya jepang melalui komunitas-komunitas pecinta budaya jepang khususnya pecinta anime yang mudah dijumpai di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Belum lagi kemudahan akses yang ditawarkan internet memancing bermunculnya banyak fanpage, fansub, fansite, fanblog, dan grup fandom anime di jagat maya Indonesia.

Di Indonesia, pecinta anime biasa diberi gelar “otaku”. Julukan ini muncul untuk menggambarkan mereka yang sangat menyukai budaya jepang melebihi batas wajar bahkan sampai tahap terobsesi seolah-olah mereka menjadi warga jepang dan tinggal disana. Dalam praktiknya di Indonesia, sebutan ini seringkali digeneralisasi kepada mereka yang suka menonton anime baik yang sampai terobsesi dengan budaya jepang ataupun sebatas sering menonton saja karena suka tanpa terobsesi.

Kaum otaku seringkali digambarkan sebagai tipikal orang yang lebih nyaman mengeluarkan buah pikir bersama seseorang yang sepemahaman dengannya, mereka cenderung menghindari percakapan dengan orang lain sehingga mereka lebih banyak memilih menjadi pendengar daripada pembicara dalam berkomunikasi. Kecenderungan ini jika terus dibiarkan akan memicu lahirnya anggapan bahwa masyarakat yang tidak menyukai anime tidak sama dengannya dan akhirnya memutuskan untuk mengisolasi diri dari lingkungan sosial di sekitarnya. Mereka akan lebih sering menghabiskan waktu di depan gadget bercengkerama dengan “dunia kejepangannya” baik itu belajar bahasa jepang, menonton anime, mencari tau budaya jepang yang cocok dengannya, mengoleksi barang-barang berbau anime, ataupun aktif bersosial media di grup fandomnya ketimbang berinteraksi langsung dengan masyarakat

Belum lagi kelakuan beberapa oknum penggemar anime yang sudah pada taraf over-fanatic seringkali memantik konflik di suatu fandom. Konflik ini biasanya bermula dari oknum yang merasa tersinggung karena merasa pendapat/pemikirannya direndahkan ketika beradu pendapat di fandom. Tidak jarang pertikaian semacam ini akan mengarahkan suatu fandom menuju fandom yang toksik. Fandom yang toksik kerapkali membuat panas media sosial ataupun platform daring lainnya dengan memicu fannwar (pertikaian antar fandom) malalui ujaran ejekan ataupun sindiran kepada fandom lainnya. Keadaan tersebut kemudian diperparah dengan hadirnya penikmat anime yang rasa obsesinya terhadap budaya jepang khususnya anime sudah tidak bisa lagi dianggap normal, mereka lupa batasan antara dunia nyata dengan dunia fantasi yang digemarinya sehingga rela mengabaikan bahkan membuang budaya serta identitas nasionalismenya

Kendati demikian, benarkah anime yang merupakan “budaya impor” dari Jepang ini akan menjadi faktor pendorong perpecahan di Indonesia? Perlukah membenahi stigma stereotipikal masyarakat tentang otaku menuju ke arah yang lebih positif?

Pada dasarnya, pancasila dalam keberagaman hadir untuk mempersatukan perbedaan suku, ras, etnis, agama, budaya, dan geografis dalam satu titik dan membangun kebhinekaan pada setiap silanya. Pancasila akan membantu masyarakat bersikap dan berperilaku dengan memberikan rambu-rambu untuk mengambil keputusan dalam merespon budaya asing yang masuk. Disini jelas terlihat bahwa pancasila yang merupakan salah satu identitas nasional dapat dijadikan suatu indikator ataupun batasan rakyat indonesia terhadap pengaruh globalisasi supaya terhindar dari pengaruh buruknya.

Sebenarnya, stereotip negatif terhadap pecinta anime yang sudah tertanam kuat di khalayak umum tidak dapat sepenuhnya dibenarkan. Banyak hal positif yang terpancar dari kepribadian seorang pecinta budaya jepang khususnya anime jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Saat ini, walapun masih dipandang sebelah mata  namun sudah mulai banyak orang yang melihat anime sebagai peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Sebut saja Muse Asia yang merupakan cabang dari perusahaan gabungan Muse Communication Co. saat ini mampu menghasilkan $45.900 per bulan hanya dari menayangkan anime yang sudah terlisensi di kanal Youtube. Di Indonesia sendiri, kini sudah banyak mulai bermunculan toko-toko online yang berjualan barang-barang anime yang berlisensi seperti action figure, poster, sweater, chasing hp dan merchandise anime lainnya dengan omzet yang beragam sampai ratusan juta.

Di lain sisi, sebuah penelitian yang diadakan di Program Studi Diploma III Bahasa Jepang, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada berhasil membuktikan bahwa produk budaya populer Jepang seperti anime memiliki pengaruh positif tinggi terhadap pembelajaran budaya dan bahasa jepang mahasiswa di Indonesia. Lagipula, jika dibandingkan dengan sinetron Indonesia, anime memiliki moral value yang lebih kuat dan mendalam. Apalagi jika hal tersebut didukung dengan kualitas grafis dan jalan cerita yang menarik, tentu para penikmat akan dapat dengan sangat mudah menerima pesan moral yang coba disampaikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan