Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Sosiolog Pedesaan

Sedang riset pertanian natural dan menulis novel anarkis "Poltak"

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Betul, Diari Itu Candu, Jauhi Dia (!)

25 Januari 2021   17:57 Diperbarui: 25 Januari 2021   20:22 202 26 16 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Betul, Diari Itu Candu, Jauhi Dia (!)
Ilustrasi dari Wikipedia.com

Silang sengketa Diari harusnya sudah selesai dengan terbitnya artikel Daeng Khrisna Pabichara, "Diari Itu Candu, Begitu Fatwa Engkong Felix" (K. 22.01.21). Engkong Felix sudah diam dan pasrah dikooptasi Daeng Khrisna dalam Sindikat Pemasaran Diari Kompasiana.  Sebab itu mengukuhkan tesisnya tentang operasi rahasia Konspirasi Diari di Kompasiana.  

Karena kooptasi cantik itu, Engkong Felix juga mengurungkan niat melancarkan aksi "vermack lepis" terhadap Gui, observer hantu yang telah menambah cemar nama Engkong Felix.  Soalnya, Gui telah memberi sanjungan untuk Engkong Felix dalam kemasan artikel diari ("Sebuah Diary untuk Kedua Guru Sosio-Pertanian di Kompasiana", K. 21.01.21).  Itu bukan seperti intan nyemplung ke tahi kerbau (pasti diobok), tapi ibarat bubur ayam disajikan dalam pispot.  Diangkat lalu dibanting! Sakitnya itu di tulang ekor, Gui.

Daeng Rudy-lah, agen Kamasutra itu,  yang kemudian mengusik perdamaian, atau sekurangnya keadaaan gencatan jemari, antara Engkong Felix dan Daeng Khrisna. Artikelnya, "Gegara Diari, Aku Terangsang (!), Gegara Engkong Felix, Aku Ternoda (!), Gegara Daeng Khrisna, Aku Gila (!)" (K. 24.01.21) membuat Engkong Felix palak, panas hatinya.  Itu seperti menusuk-nusuk pantat macan tidur pakai jarum goni, Kawan.  Habislah kau!

Terpicu oleh rasa palak tadi, Engkong Felix menilai perlu memberikan klarifikasi di sini mengapa dia menyebut diari sebagai candu, sehingga harus dijauhi.  Tolong dibaca pelan-pelan, cermat, dan teliti.  Agar tidak salah tangkap.  Nanti, gagal ketawa pula!

Satu: Diari itu persona tipe idealmu.

Di, Dia, Ari, Di Ari, atau Diari, terserah apa pun panggilan kesayangan yang kamu beri untuknya, tak bisa lain adalah persona idealmu.  Dia tak seperti istri, suami, atau pacarmu.  Juga tidak seperti kakek dan nenek, bapak dan ibu, ataupun kakak dan adikmu. Sebab kalau dia seperti itu, maka kamu tidak memerlukan kehadiran Diari, bukan?  Kamu bisa tumpahkan segenap isi kepala dan hatimu pada salah seorang dari mereka.

Tidak, Diari itu tipe idealmu, yang tak terwakili oleh orang terkasih atau terdekatmu. Karena itu, saat menumpahkan isi benak dan hatimu pada Diari, kamu pasti membayangkan satu sosok yang sangat ideal.

Engkong Felix memberi contoh, ya, sekadar contoh saja. Daeng Khrisna mungkin membayangkan seorang perempuan paruh-baya bernama Lemawati yang cerdas dengan kecantikan timur.  Aji membayangkan Mulan, yang dikiranya resultan Vonny-Raisa.   Guido membayangkan perempuan obsesinya, Dewi Kakartana. Bli Ketut, nah ini, diduga membayangkan Daeng Rudy.  Daeng Rudy membayangkan Mas Ozy.  Mas Ozy membayangkan, ah ini, susah, mungkin Engkong Felix, ya. (Gak banget, deh!)

Lihatlah, kata Engkong Felix, saat kamu menulis diari, kamu melupakan semua orang tercinta dan terdekatmu.  Kamu sibuk mencandui seorang atau satu sosok ideal yang tak akan pernah kau temukan dalam hidupmu yang baik-baik saja.  Tidakkah itu berbahaya, Kawan?

Dua:  Diari itu persona ikut maumu.

Kamu tidak bisa berkata-kata atau berbuat semaumu kepada orang-orang tercinta atau terdekatmu.  Juga tidak pada orangi yang tak kamu kenal, tanpa risiko jahitan luka bekas bogem di pelipismu.  Terlebih bila kamu seseorang yang takut pada istri, suami, atau pacar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x