Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Anies Baswedan dan Apresiasi Proyek Tata Kota yang Masih Dipandang Sebelah Mata

4 November 2019   06:27 Diperbarui: 4 November 2019   10:33 1277 15 5 Mohon Tunggu...
Anies Baswedan dan Apresiasi Proyek Tata Kota yang Masih Dipandang Sebelah Mata
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Kamis (24/10/2019).(KOMPAS.COM/NURSITA SARI)

Riwayat (masih) pendek pemerintahan Anies Baswedan di Jakarta bukan melulu soal kekonyolan. Seperti kasus anggaran raksasa konyol untuk belanja lem aibon yang sedang viral. Atau kasus lama seperti pemasangan pohon plastik di trotoar, pewaringan Kali Item yang butek bau, penutupan Jalan Kalibaru Tanahabang untuk pedagang kaki lima (PKL), dan pemasangan instalasi bambu getah-getih di Bundaran HI.

Ada juga kasus-kasus pembangunan positif yang dijalankan pemerintahan Anies. Seperti perluasan pelebaran trotoar, perluasan jaringan angkutan perkotaan modern, pengadaan "Pelican Cross", dan pembangunan taman kota. 

Bahwa kegiatan-kegiatan positif itu adalah pelanjutan program-program rintisan pemerintah sebelumnya, tak masalah sepanjang baik untuk kemaslahatan kota. Lagi pula pemerintahan sebuah kota mestinya memang bersifat kontinu, bukan diskret.

Begitulah. Saya ingin menyampaikan apresiasi pada program tata kota yang kini sedang dijalankan Anies di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Kawasan ini sedang didandani untuk menjadi kawasan wisata kota.  

Tepatnya wisata kuliner dan hiburan malam, mengingat menjamurnya restoran dan caf di kawasan ini. Selain itu, secara sporadis, mungkin juga wisata budaya, berupa festival budaya Betawi semisal "festival palang pintu". 

Saya memberikan apresiasi karena program tata kota di Kemang ini persis menjawab tantangan saya kepada Anies. Sekadar pengingat, lewat sebuah artikel saya pernah menantang Anies untuk membereskan kabel-kabel telekomunikasi yang ruwet jorok bersiliweran di udara Jakarta (baca: Mapukah Anies Baswedan Mewujudkan "Jakarta Tanpa Kabel"?, kompasiana.com, 18/9/2018).

Selain itu saya juga pernah menantang Anies untuk menyelamatkan pohon-pohon pelindung trotoar yang terancam hidupnya di Jakarta. Karena tumbuh menjorok ke badan jalan, akibat pelebaran jalan di masa lalu (baca: Pohon-pohon yang Terancam Hidupnya di Jakarta, kompasiana.com, 3/4/2018). 

Terakhir adalah tantangan saya untuk membangun trotoar di ruas-ruas jalan tanpa trotoar di Jakarta. Sebagai contoh saya telah mengajukan kasus seruas jalan tanpa trotoar di sekitar Kemang (baca: "Seruas Jalan Tanpa Trotoar di Jakarta", kompasiana.com, 26/2/2019).

Pembersihan kabel-kabel ruwet di udara Kemang kini sedang berlangsung. Program itu ditandai dengan seremoni gunting kabel oleh Wali Kota Jaksel pada 1 Oktober 2019 lalu. Sekarang para pemilik kabel sedang sibuk merapikan kabelnya di bawah tanah. 

Kegiatan itu menghasilkan galian yang berdampak penyempitan jalan dan, karena itu, kemacetan. Tak jadi soal. "Growing pain" kata Anies. "Jer basuki mawa beya," kata Pak Harto dulu. Yang penting udara Kemang bebas polusi kabel. Seperti kini di Cikini, yang kabel udaranya sudah dibabat juga.

Pembabatan kabel simultan dengan pelebaran trotoar.  Program "pemuliaan pejalan kaki" ini memakan sebagian badan jalan. Akibatnya jalan raya menyempit, berujung kemacetan pada jam-jam sibuk.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN