Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Teori Pemberian Marcel Mauss dan Monetisasi Artikel Kompasiana

12 Juni 2019   23:00 Diperbarui: 13 Juni 2019   21:14 0 12 11 Mohon Tunggu...
Teori Pemberian Marcel Mauss dan Monetisasi Artikel Kompasiana
Ilustrasi Kompasiana

Tak ada pemberian cuma-cuma. Itu isi buku Marcel Mauss, The Gift: forms and functions of exchange in archaic societies (London: Routledge, 1990), jika diringkas dalam satu kalimat.  Mauss adalah sosiolog terkenal Perancis, keponakan, murid, sekaligus penerus paling cerdas dari sosiolog Emile Durkheim.

Setiap pemberian menurut Mauss, yang belajar dari masyarakat-masyarakat kuno, senantiasi dilekati oleh suatu harapan akan balasan atau imbal-balik. Bahkan sedekah bukanlah sesuatu yang gratisan. Padanya melekat suatu harapan akan pahala.

Inti pemberian itu, dalam konsepsi Mauss, adalah "prestasi" (prestation) dari pemberi.   Prestasi itulah yang diterima pihak "penerima".  Untuk kemudian dibalas dengan suatu imbal-balik yang nilai prestasinya lebih tinggi.  

Marcel Mauss (1872-1950), Sosiolog Perancis (Foto: prabook.com).
Marcel Mauss (1872-1950), Sosiolog Perancis (Foto: prabook.com).
Memberi, menerima, dan memberi-balik menurut Mauss adalah proses sosial yang terjadi terus-menerus. Proses itu membentuk jaringan pertukaran sosial permanen yang disebut solidaritas sosial. Solidaritas itu adalah ikatan kohesif yang menjamin keutuhan masyarakat.

Tapi dalam masyarakat modern, menurut Mauss, pertukaran itu cenderung menyisakan nilai ekonomi saja.   Semula barter, pertukaran barang yang nilainya setara.   Kemudian monetisasi, barang atau benda, kongkrit atau abstrak, ditukar dengan uang senilai tertentu.

Begitulah teorinya.   Agar tidak pusing, kita langsung bicarakan kasus nyata, yaitu monetisasi artikel di Kompasiana.  

***
Ada tiga  moda monetisasi artikel di Kompasiana.  Pertama, yang tertua, blog competition, baik murni inisiatif mandiri Kompasiana maupun kerjasama dengan sponsor.  Ada pemenangnya maka ada hadiahnya.

Kedua, Kompasiana Content Affiliation, kampanye konten tertentu terkait kampanye mendukung kepentingan ekonomi (bisnis) atau sosial dari organisasi tertentu.  Ini berlaku terbatas untuk Kompasianer "terverifikasi biru".   Jika artikelnya lolos seleksi, maka Kompasianer akan menerima imbalan uang yang dihitung berdasar jumlah raihan unique view (UV).  

Ketiga, K-Rewards, imbalan uang untuk Kompasiner yang jumlah UV artikelnya dalam satu bulan berjalan mencapai minimal 3,000 UV.  

Tiga moda monetisasi itu, jika merujuk teori pemberian Mauss, adalah imbal-balik dari Kompasiana (sebagai institusi bisnis sosmed) kepada Kompasianer (perorangan) yang telah memberikan "artikel"-nya kepada Kompasiana.

Mendahului  imbal-balik dalam bentuk uang itu, yang didasarkan pada "prestasi" artikel Kompasianer, sebenarnya Admin K sudah memberi imbalan non-uang untuk sebagian artikel.   Bentuknya penghargaan atas "prestasi" artikel berupa label "Terpilih", "Artikel Utama", "Featured Article", dan "Tren Pekan Ini" .   Penghargaan seperti itu berkorelasi positif pada peluang Kompasianer untuk mendapatkan imbal-balik K-Rewards.  

Pada awalnya Kompasianer memberi artikel kepada Kompasiana mungkin sebagai "sedekah".  Istilahnya ibadah, imbalannya pahala.   Jika diberi label "Terpilih" atau "Artikel Utama", maka itu adalah bonus.  

Intinya, artikel-artikel yang diposkan Kompasianer adalah "pemberian" berupa barang tanpa wujud (intangible).  Nilai pemberian itu adalah informasi yang mencerdaskan, meluaskan wawasan, dan menghibur.  Salah satu, dua, atau keseluruhannya.   Sampai sekarang mungkin masih ada Kompasianer yang berprinsip seperti itu.   Jujur atau "pasrah".

Tapi sekarang ada  imbal-balik dalam bentuk uang untuk "prestasi" artikel tertentu dari Kompasiana.  Maka agak janggal sebenarnya jika masih ada Kompasianer yang tidak berpikir untuk memperoleh imbali-balik uang atas pemberian artikelnya.  

Bagaimanapun  artikel di Kompasiana  adalah "prestasi"  yang layak mendapat imbalan riil.  Lewat artikel, Kompasianer sejatinya memberikan "bagian dari dirinya" kepada Kompasiana.  Karena itu imbalannya  tidak cukuplah hanya sekadar  "nilai" dan komentar sanjungan dari Kompasianer lain.  Atau sekadar label "Pilihan" dan "Artikel Utama" dari Admin K.  

Tapi harus diakui juga, imbal-balik nilai dan komentar dari Kompasianer itu telah menjadi ikatan yang membentuk solidaritas, atau kohesi sosial, antar Kompasianer.   Ada "pemberian" (artikel), ada "penerimaan" (membaca artikel), dan "imbal-balik" (nilai dan komentar Kompasianer).  Proses itu  mengikat Kompasianer menjadi sebuah "komunitas terbayang" (imagined community) di dunia maya.  Mereka tidak terhubung secara riil melainkan secara digital.

Imbal-balik dari Kompasiana berupa uang untuk pemberian artikel dengan "prestasi" tententu juga menjadi pengikat antara Kompasianer dengan Admin K.  Ada kohesi sosial antara Kompasianer dan Admin K, di atas basis pertukaran pemberian.  Dengan begitu Kompasiana sebagai sebuah entitas tetap langgeng.  Sekurangnya sampai hari ini.  

Dengan kesimpulan itu, sekrang kita bisa masuk pada kasus seorang Kompasianer bernama Felix Tani.  Kompasianer ini dipilih untuk menghindari adanya keberatan yang mungkin timbul jika yang dipilih sebagai kasus adalah Kompasianer lain.

***
Dari semua pengumuman peraih K-Award yang pernah ada, bisa dipastikan pengumuman Edisi Mei 2019-lah yang paling heboh. Pangkal kehebohan adalah Kompasianer Felix tani.  Untuk pertama kalinya dalam sejarah K-Rewards namanya tercantum sebagai peraih K-Awards urutan ketujuh.  Maka Felix Tani menjadi "bintang" dalam kolom komentar artikel pengumuman itu.  Menenggelamkan pamor peraih K-Awards urutan pertama sampai keenam.

Jika seseorang yang meraih prestasi peringkat ketujuh mendapat ucapan selamat begitu gemuruh, maka bisa dipastikan itu bukan soal prestasi semata. Tapi sudah menyangkut prestise. Persis itulah yang terjadi pada Felix Tani. Ini sudah menjadi pengetahuan khalayak Kompasianer pula. Karena Felix Tani sudah mengudar soal itu lewat satu seri artikel tentang K-Rewards di Kompasiana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2