Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Bagi Orang Batak, Beras Bukan Sekadar Makanan Pokok

8 Maret 2019   14:14 Diperbarui: 9 Maret 2019   18:55 0 22 13 Mohon Tunggu...
Bagi Orang Batak, Beras Bukan Sekadar Makanan Pokok
Bupati Humbang-Hasundutan, D. Banjarnahor memberikan beras sebagai fungsi simbolik (Dokumentasi pribadi)

Fungsi beras dalam kehidupan orang Batak (Toba) bukan sekadar makanan pokok. Lebih dari itu, beras memiliki fungsi simbolik penting dalam budaya Batak.

Arti penting beras dalam budaya Batak tentu berakar pada fakta sawah sebagai inti budaya etnik ini. Sejak komunitas pertama terbentuk, orang Batak diketahui sudah menjadi "komunitas lembah bersawah".

Jika diperiksa desa-desa asli Batak sekeliling Danau Toba, maka segera terlihat semuanya merupakan desa lembah dengan ekologi persawahan. Ada hamparan sawah, sungai dan "tali air" (saluran irigasi tradisional) yang bermuara ke Danau Toba, dan perkampungan dengan pagar bambu hidup di tengahnya.

Budidaya padi sawah dengan demikian sudah menjadi inti budaya orang Batak sejak awal. Karena itu beras, berikut turunannya khususnya nasi dan tepung, sejak awal sudah menjadi bahasa simbolik pula dalam praktek budaya Batak.

Maksud saya, beras memang merupakan bahan makanan pokok bagi orang Batak . Tapi dengan menggunakan beras, ataupun nasi dan tepung beras yang merupakan turunannya, orang Batak menyatakan "doa" pula.  Baik itu doa syukur maupun harapan akan kebaikan.

Saya akan jelaskan secara ringkas saja di sini, dengan semangat berbagi pengetahuan.

Boras Si Pir Ni Tondi

Secara harafiah, boras si pir ni tondi, berarti "beras penguat jiwa" (boras = beras; pir = keras, kuat; si pir ni = yang menguatkan; tondi = ruh, jiwa). Secara simbolik, boras si pir ni tondi bermakna "menguatkan jiwa atau ruh".

Karena makna simboliknya menunjuk pada suatu doa pengharapan akan kebaikan, dengan kata lain karunia, maka pemberian boras si pir ni tondi tidak boleh sembarang. Ada aturannya. Harus dilakikan oleh pihak yang menyandang  status sosial-adat yang lebih "tinggi" (karena ditinggikan secara adat).

Aslinya, boras si pir ni tondi diberikan oleh hula-hula (pemberi isteri) kepada boru-nya (penerima isteri).  Sebab dalam struktur sosial asli orang Batak, yaitu Dalihan Na Tolu (Tiga Batu Tungku: hula-hula, dongan tubu, boru), status hula-hula ditempatkan sebagai Debata Na Tarida, Dewata yang Terlihat. Dengan kata lain, sebagai "wakil dewata".

Penyampaian boras si pir ni tondi menurut aslinya dilakukan dalam untuk peristiwa memasuki rumah baru, pesta adat pernikahan, dan lepas dari marabahaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4